Pdt Gomar Gultom: Sehari di Jayapura

Administrator Administrator
Pdt Gomar Gultom: Sehari di Jayapura
Ist
Pdt Gomar Gultom bersama Presiden Jokowi

Oleh: Pdt Gomar Gultom

Senin siang hingga Selasa siang (4-5 September) saya berkunjung ke Jayapura, bertemu dengan beberapa teman lama dan para pimpinan gereja. Dari kunjungan singkat yang padat ini, saya semakin diyakinkan, betapa kompleksnya masalah Papua ini.

Papua masih tetap menyimpan ragam masalah yang mengusik rasa kemanusiaan kita. Saya menangkap begitu banyak kegelisahan berhubung dengan masih tingginya angka kematian di Papua, entah itu karena dibunuh/terbunuh, atau karena rupa-rupa penyakit, termasuk HIV dan oportunistik yang mengikutinya. Gizi buruk menjadi pemandangan yang tak langka. Angka kematian yang tinggi ini dibarengi pula dengan derasnya arus pendatang karena magnit ekonomi Papua yang menjanjikan banyak hal. Senin malam itu, rasanya saya ingin menangis mendengar penuturan Frederika Korain atas masalah yang membelit

Kegelisahan lain yang cukup mengemuka adalah tak terlalu terasanya dampak dana otsus yang melimpah itu bagi masyarakat asli Papua, khususnya di pegunungan/pedalaman. Banyak sekolah dan puskesmas di pedalaman yang tak berfungsi baik, selain masalah pemerataan tenaga kesehatan dan pendidikan yang sangat jomblang.

 

Kerja keras Jokowi dan percepatan pembangunan infrastuktur yang spektakuler membawa harapan akan masa depan yang lebih baik di Papua. Tetapi pembangunan ini juga menyimpan bara yang sesewaktu bisa meluluh-lantakkan jika tidak disertai persiapan sosial. Sekarang saja, penyakit sosial di pesisir sudah merangsek cepat ke pegunungan. Saya menyempatkan diri mengunjungi klinik Woleholi, yang didirikan dan dipimpin sobat lama saya, Agnella Chingwaro. Darinya saya mendapatkan data dan informasi tentang endemi HIV yang sangat memilukan hati, dari rentang usia sangat muda hingga nenek-nenek. Tapi Kliniknya yang luar biasa ini, membuncah harapan dalam diri saya, bahwa kita bisa, kalau kita mau.

Revolusi mental yang dicanangkan Jokowi ternyata tak segera bersambut gayung oleh birokrat dan para pelayan publik. Demikian juga pendekatan kultural yang berkai-kali disuarakannya tak segera merubah pendekatan militeristik yang sudah berurat-berakar dalam tubuh aparat. 

Dan gereja, yang jumlah denominasional bertumbuh bagaikan jamur di Papua masih asyik dengan dirinya sendiri. Para pengkotbah besar dari luar Papua datang silih berganti mengadakan ibadah-ibadah kebangunan iman, sarat dengan ajakan untuk kesalehan pribadi tapi minus kesalehan sosial. Evangelisasi tanpa keterlibatan sosial, dan pewartaan iman tanpa perjuangan keadilan, bisa menjadi opium yang menina-bobokan. Dan karena opium ini, viatikum dalam jumlah besar berpindah ke pengkotbah besar itu dari kemiskinan yang membelit Papua. Ah....terlalu!

Tak heran kalau kapal dakwah yang datang ke Papua, ternyata lebih diminati oleh banyak orang, karena dia menyentuh hidup keseharian penduduk: kesehatan dan pendidikan yang lebih menjanjikan masa depan anak-anak yang lebih baik. Dan tiba-tiba saja semua marah, yang di Papua dan, terlebih, yang di luar Papua. Pertanyaannya adalah, "were you there when they crucified my Lord?"

Komentar
Berita Terkini