Jika ditinjau dari fungsi ubi jauh lebih dibutuhkan manusia. Ubi bisa berfungsi untuk karbohidrat manusia. Ubi sangat sentral untuk kebutuhan manusia. Biasanya, ubi dimakan petani kapan saj dan dimana saja. Ubi memiliki energi yang cukup baik. Ubi juga bisa digunakan untuk makanan ternak. Ternak apa saja. Kerbau, lembu, kambing, bebek, entok, ayam, apalagi anjing lahap makan ubi. Ubi jika dicampur dengan sisa-sisa ikan asin maka anjing itu lahap untuk memakannya. Tidak percaya, cobalah. Ubi sangat baik untuk makanan ikan. Makanan tambahan bagi ikan-ikan di kolam sangat cocok. Ikan Mas misalnya, sampai busuk ubi itu dalam beberapa hari, masih bisa dimakan ikan.
Ubi juga bisa dijadikan bahan baku oleh-oleh seperti keripik, tape dan berbagai variasi dibuat untuk oleh-oleh. Ubi bisa dijadikan tapioka yang kelak bisa diolah untuk berbagai macam fungsi bagi kehidupan manusia. Di restoran Thailand di Jakarta ketika saya pacaran sekira 11 tahun yang lalu kami menikmatinya. Saya agak geli juga makan ubi rebus di restoran Thailand. Bayarnya cukup mahal.
Intinya, manfaat ubi itu sangat luar biasa bagi kehidupan. Ubi (gadong) itu luar biasa.
Lalu, mengapa kunyit (hunik) seolah lebih hebat dalam lagu Jhonny S Manurung?. Bukankah pencipta lagu itu pinagodang ni gadong?. Saya coba berempati dengan makna lagu itu. Saya menafsirkannya, pencipta lagu membayangkan bahwa kunyit haraganya lebih mahal kalau dijual dalam ukuran berat (kg). Satu kg kunyit mungkin lebih mahal dengan 1 kg ubi ketika itu di onan Porsea tempat pencipta lagu. Jika tafsiran saya benar, maka bisa kita maklumi perasaan penulis lagu ketika itu.
Lalu, pesan apa yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini?
Saya teringat akan kehadiran Badan Otorita Pengelolaan Pariwisata Danau Toba. Bagaimana dampak lembaga yang memiliki kewenangan otoritatif dan koordinatif ini?. Saya kawatir, jika kehadiran lembaga baru ini dimaknai hanya dari uang saja. Sama seperti memaknai kunyit dan gadong. Menang hanya ditinjau dari angan-angan jumlah uang yang akan datang ke danau Toba. Kita mengabaikan fungsi ekosistem Danau Toba sebagai paru-paru dunia.
Sungguh, sulit menjelaskan berbagai hal jika pikiran orang sudah berorientasi uang. Debat yang sehat sulit dilakukan. Demi pertumbuhan ekonomi (angka) semuanya akan dilakukan. Hutan Lindung akan dicari segala akal agar eksploitasi itu terlaksana seolah-olah konstitusional. Saya mau tanya, konstitusionalkan mengelola hutan lindung untuk sebuah otorita?
Kini masih ada benteng terakhir, siapakah itu?. Jawabnya rakyat. Nampaknya, jangan paksakan seolah hunik lebih hebat dari gadong. Dua spesies ini sama nilainya. Hunik untuk bumbu dan gadong untuk bahan makanan. Kalau guru besar hebat dari UNIKA St Tomas Medan Posman Sibuea menyebutnya manggadong. Istilah yang kembali dipopulerkan. Beta manggadong amang Sibuea. Ndang diajak ibana iba, beta marhunik he...he....
Jadi, jelaslah bahwa kita jangan terjebak dengan hitung-hitungan ekonomi. Semua kita jaga nilai-nilai yang sudah ada. Pargadongan tetaplah pargadongan. Tidak perlu diganti parhunikan karena alasan harga. Lebih cocok gadong itu kita tingkatkan nilai jualnya. Nilai jual seperti bahan baku makanan ikan diramu dengan bahan lain maka kita mendapatkan hasil (uang) yang sangat banyak karena jual ikan atau jual ternak. (Gurgur Manurung, Pecinta Gadong)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified