Jakarta (Pelita Batak):
DBS Foundation hari ini meluncurkan riset berjudul “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” yang dihadiri oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum, ST., MIDS, Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation Cinta Laura Kiehl, dan Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika. Riset ini menyoroti kesiapan Indonesia dalam menghadapi transisi demografi menuju populasi menua, dengan memanfaatkan bonus demografi saat ini sekaligus mempersiapkan diri menghadapi masyarakat menua di masa depan.
Populasi menua (ageing society) artinya 10 persen populasi telah berusia di atas 60 tahun. Di Indonesia, populasi lansia telah mencapai 12 persen di tahun 2025, dan diproyeksikan mencapai lebih dari 20 persen di tahun 2045 (BPS, 2025). Karena itu, kebutuhan dukungan terhadap populasi lansia akan turut meningkat dan memperbesar tekanan bagi generasi produksi saat ini dan di masa depan. Pertanyaannya, bukan seberapa banyak lansia, tetapi bagaimana Indonesia membangun kesiapan seluruh generasi agar setiap orang dapat hidup dan menua dengan sehat, produktif, mandiri dan sejahtera.
Menghadapi tren ini, DBS Foundation mempertegas komitmennya dalam membantu kesiapan sosial dan finansial masyarakat rentan lintas generasi. “Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif. Untuk itu, kami berkomitmen untuk mendukung kesiapan masyarakat rentan agar lebih tangguh secara sosial dan finansial melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga persiapan pensiun. Kami ingin setiap orang dapat dapat menjalani proses menua dengan sehat, produktif, sejahtera, dan mandiri,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.
Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation Cinta Laura Kiehl juga melihat kesiapan masa depan sebagai bagian dari keputusan yang dapat dibangun sejak usia produktif termasuk membangun kebiasaan sehat, terus mengembangkan diri, dan mulai memikirkan kebutuhan finansial sejak dini.
“Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar. Namun, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan kapasitas diri belum dimiliki semua orang. Karena itu, Cinta Laura Foundation mendukung mahasiswa menyelesaikan pendidikan sekaligus mengembangkan leadership, communication, financial literacy, problem solving, dan career readiness agar mereka lebih siap membangun masa depan yang mereka inginkan,” ujar Cinta.
Temuan riset menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi populasi menua perlu dibangun sepanjang siklus kehidupan dan di berbagai sektor. Pemerintah memiliki peran penting dalam penguatan kebijakan lintas sektor, sebagai agenda pembangunan jangka panjang, mulai dari akses pendidikan dan kesehatan, kesempatan kerja, perlindungan sosial, hingga layanan yang mendukung kualitas hidup di usia lanjut. Pendekatan life-course menjadi penting agar kebutuhan masyarakat dapat saling terhubung dan manfaatnya dirasakan lintas generasi.
“Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut. Karena itu, berbagai program pemerintah diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat di setiap fase dapat terpenuhi. Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi usia lanjut, tetapi juga membangun fondasi agar mereka dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan sejahtera sejak dini,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum, ST., MIDS.
Perubahan Demografi Mempersempit Jendela Bonus Demografi
Indonesia saat ini masih memiliki bonus demografi dengan 69 persen populasi di usia produktif (15-65 tahun) di 2025. Namun jendelanya semakin menyempit dengan semakin berkurangnya persentase populasi produktif. Salah satu faktor pendorong transisi demografi ini adalah menurunnya fertilitas dan meningkatnya harapan hidup. Kondisi ini membentuk keluarga yang semakin kecil dan tingginya ketergantungan lansia pada anggota keluarga yang bekerja. Oleh karena itu, investasi pada generasi produktif menjadi krusial saat ini demi meningkatkan kualitas hidup di masa depan.
Anggota keluarga semakin kecil, tanggungan berpotensi semakin besar
Total Fertility Rate (TFR) turun dari 3,11 pada awal 1990-an menjadi 2,13 anak per perempuan pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 1,97 pada 2045. Sementara itu, jumlah pernikahan turun dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025. Struktur keluarga yang semakin kecil menjadikan semakin sedikit anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua, sehingga tekanan sandwich generation berpotensi meningkat.
Usia lanjut tetap harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokok
Sebanyak 55,32 persen lansia masih bekerja, dan 84,75 persen di antaranya berada di sektor informal. Di tingkat nasional, 59,42 persen tenaga kerja juga berada di sektor informal dengan tingkat pendapatan rendah, tidak menentu, serta minimnya akses terhadap pada tunjangan ketenagakerjaan. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pekerjaan berproduktivitas tinggi maupun skema pensiun formal.
Dampak yang dirasakan lintas generasi
Sekitar 82,96 persen rumah tangga lansia bergantung pada penghasilan dari anggota keluarga yang bekerja, dan kurang dari 1 persen yang kehidupan ekonominya berasal dari tabungan dan investasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa persiapan lebih dini, kebutuhan finansial masa tua berpotensi terus ditopang oleh generasi produktif berikutnya.
Tingkat pendidikan rendah berdampak pada peluang ekonomi di masa depan
Tingkat pendidikan rata-rata generasi saat ini sekitar 9 tahun artinya lulusan SMP, sementara tingkat pendidikan lansia saat ini rata-rata di 6 tahun atau lulusan SD. Terlepas adanya peningkatan rata-rata lama sekolah, peningkatan partisipasi pendidikan hingga minimal 12 tahun akan berdampak pada peluang kerja di masa depan.
Akses keuangan tidak menjamin kesiapan pensiun
Pada kelompok usia 18-50 tahun, inklusi keuangan telah mencapai 93,5-95,1 persen, sementara literasi keuangan berada pada kisaran 72,1-74,1 persen. Artinya, membangun pemahaman untuk memanfaatkan produk dan layanan keuangan yang tepat akan meningkatkan kapasitas keuangan jangka panjang. Akses layanan keuangan masih didominasi pada perbankan sebesar 65,5 persen, sedangkan kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih minim sebesar 5,37 persen. Di sisi lain, pemahaman tentang pentingnya dana pensiun sudah mencapai 27,79 persen. Kesenjangan tersebut menunjukkan perlu adanya skema dana pensiun yang lebih fleksibel bagi sektor informal dan wiraswasta agar cakupan program pensiun lebih luas demi kemandirian di masa mendatang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa membangun ketahanan sosial dan finansial perlu disesuaikan dengan realitas masyarakat, termasuk tingkat pendapatan, pola pekerjaan, dan kapasitas finansial masing-masing. Kesiapan menghadapi masa pensiun tidak dapat hanya mengandalkan perilaku menabung individu. Hal ini memerlukan upaya terpadu sepanjang siklus kehidupan termasuk meningkatkan akses pendidikan, pekerjaan yang layak, memperkuat kemampuan finansial, memperluas cakupan pensiun, serta mengintegrasikan perlindungan sosial di sepanjang siklus hidup.
Pada akhirnya, pendekatan ini menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi masa depan dibangun sebelum seseorang memasuki usia pensiun dan melibatkan para pemangku kepentingan. Pemerintah memiliki peran menyiapkan serangkaian kebijakan dan program yang terintegrasi lintas sektor untuk meningkatkan kapasitas individu sepanjang siklus kehidupan. Sektor swasta dapat mengisi kesenjangan kebutuhan dengan mengembangkan berbagai layanan inovatif untuk melayani lonjakan kebutuhan populasi lansia. Individu juga memiliki peran untuk terus mengembangkan kapasitas, mengadopsi gaya hidup sehat, membuat perencanaan keuangan termasuk investasi dan dana pensiun. Dengan kolaborasi berbagai pihak, transisi menuju masyarakat menua dapat menjadi momentum untuk membangun Indonesia yang lebih sehat, produktif, mandiri, dan sejahtera bagi setiap generasi.
Persiapan Masa Tua Dimulai dari Langkah yang Realistis
Sebagai kelanjutan kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation menghadirkan Retirement Goal Calculator untuk membantu masyarakat mendapatkan gambaran kebutuhan finansial masa depan yang lebih konkret. Mona menjelaskan kalkulator ini memungkinkan pengguna memproyeksikan kebutuhan berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran dan gaya hidup yang diinginkan, serta asumsi inflasi dan imbal hasil investasi, sehingga perencanaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Selain itu, kesiapan menghadapi masa tua tidak berhenti pada seberapa besar dana yang berhasil dikumpulkan. Kesehatan, pendidikan dan keterampilan, pekerjaan, serta kemampuan untuk terus beradaptasi juga turut menentukan kualitas hidup dan kemandirian di masa depan. Bagi generasi produktif, investasi pada kesehatan dan lifelong learning, disertai kebiasaan mengelola keuangan sejak dini, dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan dan mengurangi ketergantungan di kemudian hari.
Memperkuat Ekosistem Kesiapan Lintas Generasi
Perubahan demografi dan berbagai kesenjangan yang menyertainya menciptakan kebutuhan baru di berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan dan perawatan, keamanan finansial, pembelajaran sepanjang hayat, hingga keterhubungan sosial. Hal ini membuka ruang bagi dunia usaha dan Businesses for Impact untuk menghadirkan solusi yang lebih inklusif dan relevan, khususnya bagi kelompok rentan dan kurang terlayani.
Upaya tersebut juga sejalan dengan peran DBS Foundation dalam mendorong solusi yang memperkuat resiliensi sosial dan finansial masyarakat di setiap tahap kehidupan. Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia. Di Indonesia, lebih dari SGD4 juta telah dialokasikan kepada 25 pemenang social enterprises dan Businesses for Impact. Inisiatif ini menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, penguatan keterampilan kerja, kesehatan, hingga penghidupan yang lebih Inklusif.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, termasuk UNICEF untuk mendukung peningkatan gizi dan kualitas pembelajaran anak, serta Dicoding dalam memperluas akses keterampilan digital dan peluang ekonomi bagi generasi muda. Upaya ini mencerminkan keyakinan DBS Foundation bahwa investasi pada generasi hari ini merupakan fondasi penting bagi ketahanan masyarakat di masa depan.
Selain itu, melalui program dana hibah Impact Beyond Award (IBA) DBS Foundation juga mendorong lahirnya berbagai inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat menua di Asia. Diluncurkan pada tahun 2024, saat ini terdapat empat social enterprise di Asia yang telah menerima total hibah senilai SGD 3 juta berfokus pada berbagai layanan seperti pelatihan untuk caregiver, pengembangan teknologi untuk melatih kemandirian para lansia, serta membangun ekosistem perawatan lansia yang terintegrasi. (*)