Prospek Asia Tenggara Tetap Terhubung di Tengah Divergensi Pertumbuhan

Administrator Administrator
Prospek Asia Tenggara Tetap Terhubung di Tengah Divergensi Pertumbuhan
Ist | Pelita Batak
Prospek Asia Tenggara Tetap Terhubung di Tengah Divergensi Pertumbuhan

Singapura (Pelita Batak):

Perekonomian enam negara utama Asia Tenggara atau SEA-6, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,8 persen per tahun pada 2026-2035.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026??"2035 yang disusun Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners.

Pertumbuhan kawasan diperkirakan tetap ditopang investasi asing, pembangunan infrastruktur dan industrialisasi, peningkatan produktivitas melalui teknologi, serta konsumsi domestik. Namun, laporan tersebut mencatat adanya divergensi pertumbuhan antarnegara akibat perbedaan kekuatan institusi, ketahanan energi, dan kesiapan teknologi.

Vietnam diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan utama kawasan, sementara Thailand menghadapi pertumbuhan yang relatif lebih lambat. Dalam dua tahun terakhir, 2024??"2025, ekonomi SEA-6 tumbuh rata-rata 5,1 persen. Vietnam mencatat pertumbuhan 7,5 persen, sedangkan Thailand hanya 2,7 persen.

Indonesia dan Filipina juga menghadapi sejumlah tantangan dalam kelembagaan, investasi, dan pelaksanaan kebijakan yang dapat memengaruhi kinerja pertumbuhan ke depan.

FDI dan Rantai Pasok Global

Arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) ke SEA-6 meningkat 25 persen pada 2025, ketika FDI ke China justru mengalami penurunan 34 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan konfigurasi rantai pasok global dan meningkatnya peran Asia Tenggara dalam investasi internasional.

Meski demikian, laporan mengingatkan bahwa peningkatan ekspor, terutama sektor elektronik dan infrastruktur yang berkaitan dengan AI, belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan produktivitas secara luas di kawasan.

Singapura Tetap Menjadi Hub Regional

Laporan tersebut menempatkan Singapura sebagai perekonomian yang memiliki ketahanan tinggi di kawasan, ditopang posisi sebagai pusat modal regional, pasar yang dalam, penyangga fiskal, serta kredibilitas sebagai pusat bisnis dan investasi.

Singapura menarik lebih dari 60 persen FDI kawasan dan menjadi salah satu sumber investasi utama bagi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Posisi tersebut membuat Singapura berperan sebagai penghubung antara modal dan kemampuan global dengan peluang bisnis di berbagai negara Asia Tenggara.

Tiga Prioritas Pertumbuhan

Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners mengidentifikasi tiga prioritas yang dinilai penting bagi negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi dekade mendatang.

Pertama, memperkuat ketahanan institusi, termasuk tata kelola, supremasi hukum, stabilitas fiskal, dan pendalaman pasar modal.

Kedua, memperkuat sistem energi, terutama keandalan jaringan listrik, pengembangan energi terbarukan yang layak dibiayai, serta diversifikasi sumber energi.

Ketiga, memanfaatkan potensi kecerdasan buatan (AI) melalui penerapan teknologi dalam skala perusahaan, tata kelola data, pembangunan infrastruktur komputasi, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Kerja Sama Regional Semakin Penting

Perbedaan arah pertumbuhan antarnegara justru meningkatkan kebutuhan terhadap kerja sama regional. Tingginya perdagangan, investasi asing, rantai pasok yang saling terhubung, serta ketergantungan pada energi dan teknologi membuat perekonomian negara-negara ASEAN tetap saling terkait.

Laporan tersebut menilai proyeksi pertumbuhan rata-rata 4,8 persen hingga 2035 masih dapat dicapai, tetapi membutuhkan kebijakan domestik yang tepat dan penguatan kerja sama regional.

Temuan ini juga menjadi relevan menjelang Keketuaan ASEAN Singapura pada 2027, dengan penekanan pada pentingnya menjaga Asia Tenggara tetap terbuka, terhubung, dan menarik bagi investasi.(*)

Komentar
Berita Terkini