Bentrok TNI AU dengan Warga Sari Rejo

Tendang Kotak Infaq, Lantaran Tensi Anggota TNI yang Tinggi

Administrator Administrator
Tendang Kotak Infaq, Lantaran Tensi Anggota TNI yang Tinggi

Jakarta (Pelita Batak) :
Hasil dari peninjauan di lapangan termasuk melihat rekaman CCTV di salah satu lokasi bentrokan, Komnas HAM menemukan pula salah seorang oknum TNI masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu. Anggota TNI AU tersebut juga menendang kotak infaq yang berada di depan masjid.

Pigai mengatakan hasil wawancara dengan pengurus Masjid, anggota TNI tersebut melewati batas suci tempat ibadah.

"Ada anggota TNI masuk ke tempat ibadah tanpa melepas sepatu dan menendang kotak infaq yang berada di seberang jalan. Pada saat itu di tengah kerumunan ada yang menendang," kata Komisoner Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Peristiwa Bentrok TNI AU dan Warga Desa Sari Rejo, Natalius Pigai ‎di kantor Komnas HAM, Senin..

Namun, menurut Pigai, setelah dilakukan pendalaman anggota TNI tersebut tidak bermaksud melecehkan agama. Ia hanya lupa lantaran tensi yang tinggi ketika bentrokan terjadi.

‎"Setelah kami cek anggota TNI yan masuk adalah muslim. Bukan agama lain, sehingga menurut kami dia lupa melepas alas kaki," tutur Pigai.

Kekerasan dan penganiayaan terhadap warga juga tidak hanya dilakukan di lokasi bent‎rokan.

Menurut Pigai, terdapat warga yang ditangkap dan diinterogasi di Markas Lanud Soewondo Medan. Saat bentrokan terjadi pun, aparat TNI AU tampak kalap, selain warga, wartawan media cetak dan elektronik tidak luput dari tindakan penganiayaan.

Bahkan salah satu wartawan hingga mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

‎"Adanya kekerasan terhadap dua jurnalis selain itu kamera dirampas dan lainnya sehingga menyebabkan salah seorang wartawan dirawat Intensif," ujarnya.

Bentrokan tersebut, menurut Pigai, diawali oleh aksi TNI AU yang secara sepihak mematok dan memalang jalan dikawasan dua unit rusun yang sedang dibangun. Rusun yang dibangun untuk prajurit TNI AU tersebut berada di lahan sengketa yang diklaim oleh warga.

‎"Masalah utamanya karena TNI AU melakukan pemalangan di atas lahan seluas 100 x 50 meter yang diklaim oleh warga diantaranya Singh dan Ginting. Pemalangan dilakukan di lahan yang mau dibangun rusun yang diharuskan segera selesai, sementara tiga bulan lagi tahun anggaran selesai. Itu memancing reaksi publik, sehingga melakukan demonstrasi," kata dia. (kps/TAp)
 

Komentar
Berita Terkini