Mayat Dibiarkan di jalan, Bupati Taput Minta Maaf

Administrator Administrator
Mayat Dibiarkan di jalan, Bupati Taput Minta Maaf
Saut Togi Ritonga | Pelita Batak
Saat awak media melakukan wawancara Rabu sore jam 14.30 Wib

Taput (Pelita Batak):

Sehubungan dengan berita sebelumnya, yang menyebut bahwa ada peti mayat ditinggalkan dipinggiran jalan, dekat Gereja GKPI Parsaoran di Desa Hutabarat Parbaju Tonga, Hutabarat Tarutung, Tapanuli Utara, maka sebagai tindak lanjut, 3 orang awak media telah melakukan silaturahmi sekaligus melakukan wawancara kepada pihak keluarga.

Oleh salah seorang adek almarhum, yang bertindak sebagai juru bicara, menjelaskan bahwa Kakak mereka, almarhumah Romince Boru Siahaan, (69 tahun) sebelumya, sekitar seminggu yang lalu sempat dibawa berobat ke RS Bina Kasih di Medan dengan status pasien umum dan dari hasil diagnosa disebut bahwa almarhum mengidap Kanker Paruparu dan  almarhum sudah meminta supaya dirinya dibawa pulang ke Tarutung karena merasa bahwa waktunya sudah dekat.

Dijelaskan juga bahwa sehari sebelum pulang, ke Tarutung, almarhum sempat diambil sampel untuk test SWAB, namun sebelum hasilnya diketahui mereka sudah pulang ke Tarutung dan 7 KK dilingkungan mereka tinggal sudah ditetapkan sebagai Orang Dalam Pengawasan (ODP).

KRONOLOGI:

Selasa, 28 April 2020, pagi sekitar jam 07.00 WIB pensiunan Guru yang pernah bertugas di Pahae itu meninggal di rumah salah satu adeknya, lalu kemudian dibawa ke rumah mertua almarhum di Hutabarat, Tarutung.

Saat acara prosesi pemakaman sedang  berlangsung, secara mendadak muncul petugas dari Dinas Kesehatan yang dikomandoi oleh salah seorang Kabid, dokter inisial RP dan menyampaikan bahwa sesuai SOP Gugus Tugas, prosesi pemakaman akan ditangani oleh mereka dan keluarga tidak boleh lagi menyentuh mayat.

"Tadinya kami tidak mau almarhum kakak kami dibawa ke RS sebelum dimakamkan, namun setelah dimediasi oleh Kepala Desa, pada akhirnya kami mau dengan kesepakatan bahwa kami sudah iklas agar pihak Dinas Kesehatan yang menguburkan almarhum, sesuai SOP yang mereka jelaskan," sebut adek almarhum.

APA YANG TERJADI KEMUDIAN?

Pihak keluarga sudah lebih satu jam menunggu di tempat pemakaman, namun mayat yang ditunggu untuk dimakamkan, belum juga datang.

Ketika awak media bertanya bagaimana mayat itu tiba, juru bicara keluarga menjelaskan:

"Jadi pak, ada salah seorang anggota keluarga hendak turun ke bawah karena merasa haus, dan ternyata menemukan  mayat kakak kami itu sudah diletakkan di pinggir jalan dekat Gereja yang disana (GKPI Parsaoran), tidak ada serah terima atau pemberitahuan kepada keluarga," jelas adek almarhum menyisakan rasa kecewa.

Pada akhirnya keluarga memakamkan almarhum dan menjelang  tengah malam puluhan anggota keluarga melakukan aksi demo ke RSUD Tarutung.

"Puji Tuhan, ternyata Pak Bupati melihat dan menonton siaran langsung aksi demo kami di RS itu, yang disiarkan secara life di Facebook, dan beliau sudah minta maaf kepada keluarga serta berjanji akan membantu keluarga dan akan datang kesini dalam waktu dekat. Kamipun menerima permintaan maaf beliau," jelas adek almarhum.

Saat awak media bertanya, jika misalnya janji Bupati tidak dipenuhi, apakah pihak keluarga akan melakukan tuntutan demi efek jera, Ibu tersebut menjawab:

"Saya seorang Pendeta pak, tidak mungkin pak Bupati membohongi saya. Beliau adalah atasan saya langsung, karena saya juga seorang PNS dan guru," tutup adek almarhum tersebut kepada awak media. (JJ)

Komentar
Berita Terkini