LPER Sumut dan FP UHN Gelar Seminar Iptek dan Kebijakan Mewujudkan Ketahanan Pangan

Administrator Administrator
LPER Sumut dan FP UHN Gelar Seminar Iptek dan Kebijakan Mewujudkan Ketahanan Pangan
Adol Frian Rumaijuk | pelita batak
Panitia, pembicara dan peserta diabadikan

Medan (Pelita Batak):

Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Sumut bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan sukses melaksanakan seminar dengan topik "Iptek dan Kebijakan Mewujudkan Ketahanan Pangan di Sumut". Ketersediaan bahan pangan dalam waktu yang berkesinambungan menjadi isu yang penting dibahas dan dipersiapkan, mengingat isu ketahanan pangan menjadi isu global.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) Sumut, Ir Ronald Naibaho,MSi mengatakan seminar ini sebagai program pertama dari LPER Sumut yang baru disahkan oleh LPER Pusat pada 11 Feb 2021. "LPER Sumut sebagau lembaga baru ingin agar Pemberdayaan ekonomi disektor pertanian menjadi fokus semua stakeholder karna masalah Ketahanan Pangan sudah menjadi isu global," kata Ronald.

Hal itu menjadi alasan bagi pihaknya memilih topik "IPTEK dan Kebijakan Mewujudkan Ketahanan Pangan di Sumut". Yg bekerja sama dengan Fakultas Pertanian UHN Medan. "Sehingga Kami ingin agar Masalah-masalah Ketahanan pangan baik itu IPTEK dan kebijakan nantinya kelihatan, dimana duduk persoalannya. Hasil seminar ini nanti akan kami sampaikan ke pemerintah Sumut dan berbagai kalangan Utk menjadi perhatian agar rakyat terbantu. Selain itu kami juga mendorong agar Perguruan Tinggi mengambil peran. Seperti FP UHN Medan sebagai bagian dari Pengabdian masyarakat yang sekarang dikenalkan Mas Nadiem Makarim Mendikbud sebagai Program Kampus Merdeka," kata Ronald yang juga diamini Dekan Fakuktas Pertanian Fakuktas Pertanian UHN Medan Ir Benika Naibaho.

Pola angka harapan pangan Sumut menurut BPS masih banyak warga yang mengalami kerawanan pangan. Tentu dengan pandemik ini, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin meningkat. Untuk itulah, kata penasehat LPER Sumut Naslindo Sirait, lewat seminar yang dilaksanakan di Ruang Justin Sihombing Universitas HKBP Nommensen Medan itu akan melahirkan sejumlah rekomendasi untuk pemerintah dalam rangka membuat kebijakan peningkatan ketahanan pangan di Sumut ke depan.

Senada juga disampaikan Rektor UHN Medan diwakili Pembantu Rektor IV, Dr Samse Simanungkalit bahwa apa yang dilakukan LPER Sumut dan FP UHN sangat selaras dengan harapan universitas dalam rangka kerjasama ke depan. 

Pentingnya melakukan upaya mendorong ketahanan pangan menjadi bagian yang krusial. Sebagaimana dikatakan Anggota DPRD Sumut Meril Saragih strategi ke depan bagaimana mendorong masyarakat kembali bisa menikmati hasil pertaniannya. Selama ini, kata Politis PDI Perjuangan itu, profesi sebagai petani tidak lagi menjanjikan di pikiran masyarakat. Padahal, tanpa pertanian, bagaimana masyarakat bahkan bangsa ini mendapatkan ketahanan pangan. Untuk itu, lanjutnya perlu membangun satu sistem from farm to table. Bagaimana petani bisa langsung menjual produknya ke konsumen tanpa melalui proses distribusi yang terlalu panjang. "Petani bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi, sementara di konsumen harga tersebut masih rendah karena terlepas dari biaya distribusi yang panjang," katanya. Tentu untuk mewujudkan hal itu, petani harus dibenahi dengan pelatihan dan dilakukan pendampingan oleh pemerintah termasuk pemerataan penyaluran pupuk, dan kenyamanan dalam melakukan usaha pertanian.

Pada seminar ini, hadir sebagai Pembicara Dr. Ir. Jongkers Tampubolon,M.Sc (Dosen FP UHN), Kepala Perwakilan BI Medan diwakili Agustinus Fajar, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut diwakili Jonni Akim Purba, Kepala Kantor Bulog Sumut diwakili Rudi Amran, Ketua Yayasan Bitra diwakili Iswan Kaputra dan dimoderatori Ferlando Jubelito,S.TP, M.Sc (Kaprodi Tehnologi Pangan FP UHN Medan).

Menurut data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumut dari sisi produksi bahan pangan seperti beras, Sumut surplus. Diperkirakan 1,8 juta ton beras surplus di Sumut. "Kalau dihitung per daerah, ya mungkin bisa ada yang kurang produksinya.  Namun daerah sekitarnya bisa menutupi kebutuhan itu," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumut. Pemerintah provinsi Sumut hingga saat ini mendorong peningkatan periode pertanaman dengan harapan akan semakin meningkatnya produksi.

Sementara dari sisi perbankan, dukungan terhadap sektor pertanian terus ditingkatkan. Hanya saja, kata Perwakilan Bank Indonesia Medan belum banyak masyarakat petani memanfaatkan dunia perbankan untuk mendukung proses produksi. Perubahan mindset akan dunia perbankan masih perlu diubah, sehingga kolaborasi pertanian dengan perbankan bisa semakin dioptimalkan. 

Fakta di Sumut saat ini, kata Dr.Ir. Jongkers Tampubolon, M.Sc bahwa mayoritas petani tidak bisa dikategorikan sebagai produsen netto, akan tetapi menjadi produsen netto. "Mayoritas petani di Sumut lebih banyak membeli saat paceklik dan bukan me jual lebih banyak pada saat panen," kata mantan Rektor UHN Medan itu. Bahkan saat ini, ketahanan pangan tidak bisa hanya dilihat dari sisi produksi pangan. Namun juga harus melihat kemampuan seseorang untuk menyediakan bahan pangannya dengan kemampuan finansial yang dimiliki.

"Seperti Singapura, meski dengan produksi bahan pangan dari sektor pertanian sangat rendah, tidak bisa dikatakan tidak memiliki ketahanan pangan," lanjutnya seharusnya mengatakan sebab mereka mampu untuk mengadakan bahan pangan meski tidak memiliki lahan produksi yang mencukupi.

Setelah seminar, panitia menyerahkan cinderamata kepada para pembicara  berupa ulos yang juga disponsori Universitas HKBP Nommensen Medan.  (TAp)

Komentar
Berita Terkini