Anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan:

Konflik Gojek Vs Betor di Medan Menjadi Koreksi Atas Penghargaan Tata Kelola Lalulintas yang Diterima Pemko

Administrator Administrator
Konflik Gojek Vs Betor di Medan Menjadi Koreksi Atas Penghargaan Tata Kelola Lalulintas yang Diterima Pemko
Ist
Sutrisno Pangaribuan
Medan(Pelita Batak): Konflik antar pegemudi beca motor dengan pengemudi taksi, ojek online akhirnya terjadi juga. Pengemudi beca motor tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Walikota Medan atas tuntutan aksi kemarin. Terjadi aksi saling sweeping yang mengakibatkan terjadinya perang terbuka, saling lempar, bahkan ada yang dianiaya. 

 

Anggota Komisi C Sutrisno Pangaribuan, ST DPRD Provinsi Sumatera Utara menyebutkan Keadaan ini dapat berlanjut kepada konflik yang semakin meluas apabila Walikota Medan tidak segera memfasilitasi para pihak untuk duduk bersama. "Kondisi ini bertolak belakang dengan penghargaan di bidang tata kelola lalu lintas yang baru- baru ini diterima oleh Walikota Medan dari Menteri Perhubungan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima redaksi. 

 

Menurutnya, Pemerintah Kota Medan ternyata tidak memiliki grand design sistem transportasi Kota Medan. Hal ini dapat dibuktikan ketika transportasi berbasis onlie hadir, Pemerintah Kota Medan tidak memiliki perangkat regulasi yang dapat digunakan untuk mengaturnya. Sehingga kehadiranya mendapat penolakan dari pihak pengelola transportasi publik lainnya.

 

"Laju penambahan jumlah kendaraan bermotor tidak sebanding dengan laju penambahan ruas jalan. Sehingga pengguna jalan raya menghadapi frustrasi berkepanjangan. Kondisi ini akan memicu berbagai persoalan diantara sesama pengguna jalan raya. Perkelahian antara pengemudi beca motor dengan pengemudi transportasi berbasis online menjadi bukti bahwa ada sistem kompetisi yang dianggap tidak fair dan tidak adil di jalan raya," ujarnya.

 

Tingginya angka pengangguran dan sempitnya lapangan kerja menurut Sutrisno mengakibatkan banyak warga yang memilih jalan pintas menjadi pengemudi angkutan kota, beca motor, taksi hingga angkutan umum berbasis online. "Besarnya jumlah penduduk yang kurang terampil mengakibatkan pilihan menjadi pengemudi dianggap jalan yang paling mudah dijadikan sebagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kenyataan di lapangan, banyak para pengemudi yang tidak layak mengendarai kendaraan bermotor. Hal ini dapat dilihat dari tingginya tingkat pelanggaran dan juga tingkat kecelakaan di jalan raya," katanya.

 

Lanjut Sutrisno, kemudahan mendapatkan kendaraan secara kredit, dengan uang muka yang sangat kecil juga ikut memengaruhi permasalahan di sektor transportasi publik. "Besarnya jumlah penduduk yang menjadikan jalan raya sebagai tempat mengadu nasib, memenuhi kebutuhan hidup. Jalan raya menjadi lapangan pekerjaan paling sempit, tetapi peminatnya paling tinggi. Akibatnya jalan raya menjadi tempat paling tinggi sebagai penyebab kematian penduduk," paparnya.

 

Menurut Wakil Bendahara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Sumatera Utara, proses penerbitan SIM yang terlalu mudah yang dilakukan Polri juga ikut menyumbang permasalahan di jalan raya. Seandainya penerapan regulasi menyangkut penerbitan SIM dilakukan dengan benar, ketat dan tertib maka diyakini permasalahan di jalan raya dapat dikurangi.

 

" Pergeseran pemahaman publik terhadap kepemilikan dan penggunaan kendaraan bermotor dari kebutuhan menjadi gaya hidup juga turut menyumbang permasalahan sistem transportasi kita," katanya."Pergeseran pilihan dari transportasi komunal ke individual juga ikut menyumbang permasalahan sistem transportasi publik kita."

 

Penataan ruang yang tidak tepat dan penggunaan area yang tidak sesuai peruntukan juga menjadi variabel yang ikut menyumbang persoalan sistem transportasi. "Atas berbagai kenyataan diatas, maka dibutuhkan berbagai langkah strategis, terencana, terukur, konkrit baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Maka perlu diberi masukan kepada Pemerintah Kota Medan," tegasnya.(R2)

Komentar
Berita Terkini