Aksara Batak Masih Ada

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Aksara Batak Masih Ada

AKSARA BATAK erat kaitannya dengan Hata Batak, karena Aksara (tulisan) Batak itu adalah hata Batak tulisan, oleh karenanya kalau aksara Batak hilang atau punah maka keberadaan Hata Batak itu juga akan berkurang.

Kenyataannya sekarang pengguna Aksara Batak sudah jarang bahkan pengguna Hata (Bahasa) Batak juga sudah semakin menipis, sebab anak-anak di pedesaan di sekolah-sekolah menggunakan Bahasa Indonesia, termasuk Sekolah Minggu.

Sebagai contoh, Selasa (11/1-2022) lalu di waktu makan pagi beramai-ramai di Ronggur ni huta (Samosir), Noah anak berusia 6 tahun disuruh ayahnya memimpin doa makan, kerabat dari berbagai daerah terperangah mendengar doa si anak kecil dengan bahasa Indonesia. Keluarga berkumpul, karena nenek si anak baru wafat.

Noah memimpin doa bagaikan majelis gereja tanpa canggung dan enggan, dia memulai “mari kita bersatu dalam doa” dan dia berdoa.

Di samping keberaniannya memimpin doa, menjadi pertanyaan, adalah kefasihannya berdoa dalam Bahasa Indonesia. “Kok anak anak-anak HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Bona Pasogit tidak berdoa tidak menggunakan Bahasa Batak?

Lalu saya bertanya kepada Ibu si anak, Noah Sitanggang boru Manalu, mengapa tidak diajar berdoa dalam hata Batak, jawabnya singkat “agar anak-anak itu percaya diri dan tidak canggung kalau merantau harus dipersiapkan dari kecil”. Sang Ibu adalah Majelis (Sintua) dan Guru Sekolah Minggu, yang mengajar anak-anak tersebut. Tidak tahu apakah Noah belajar berdoa dengan membaca atau hanya mendengarkan pengajaran ibunya.

Salah satu bukti bahwa Hata Batak itu akan semakin berkurang penggunanya menyusul Aksara Batak, apabila tidak dibenahi dari sekarang baik oleh masyarakat Pemerintah Daerah Aksara dan Bahasa Batak tinggal kenangan.

Berkaitan dengan kerinduan untuk melestarikan aksara Batak sebagai bagian dan penunjang peradaban/budaya Batak maka FGD Batakologi menyelenggarakan Webinar Sabtu (15/1/2022) dengan topik “Pustaha Laklak & Aksara Batak” dengan nara sumber Manguji Nababan, akademisi dari Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Univ. HKBP Nommensen. Medan.

Menurut Maguji, Aksara (surat/tulisan/huruf) Batak yang terdapat dalam Buku “Laklak” (kulit kayu/bambu/tanduk) bersifat sillabis (suku kata), yang asal usulnya memuat ilmu pengetahuan dan mitos yang berasal dari Aksara Brahmi (India) India Selatan, Proto Sumatra: Lampung, Rencong dan Batak.

Aksara/tulisan yang ada di Nusantara katanya tergolong pada: Aksara Hanacaraka (Jawa, Sunda, Bali);

Aksara Ka-ga-Nga (Kerinci, Rejang, Lampung, Lembak, Pasemah;

Aksara Batak: Toba, Karo, Simalungun, Pakpak Dairi dan Angkola Mandailing;

Aksara Sulawesi: Bugis, Makassar, dan Bima;

Aksara Filipina terdiri dari Bisaya, Tagalog, Tagbanua dan Mangiyan.

Manguji Nababan juga menjelaskan isi dari Pustaha tersebut yaitu berupa:

Cerita Rakyat/folklore seperti Si Ajidonda Hatahuton.

Ilmu Hitam, Pangulubalang, tunggal panaluan, pamunu tanduk, pamodilon dan gadam (penyekit kusta).

Ilmu Putih yaitu: pagar, sarang timah, parsimboraon, , songon, piluk-piluk.

Ilmu lainnya terdiri dari: tambatua, dorma, parpangiron, parsili, ambangan, pamapai ulu-ulu.

Dan tidak kalah pentingnya adalah Obat dan Nujum. Nujum terdiri dari Perbintangan yaitu 1. Parmesa na sampuludua. 2. Panggorda (Panggorga ?) na ualu. 3.Pehu na pitu. 4. Pane na bolon. 5. Parhalaan. 6. Ari rojang. 7. Pangambui.

Nujum dengan menggunakan lambang binatang yaitu: 1. Aji nangka piring/ayam. 2. Manuk gantung. 3. Aji payung/memenggal kepala babi. 4. Parbuhiton kerbau yang disembelih. 5. Gorah gorahan sibarobat/telur ayam.

Nujum lainnya: 1. Rambu siporhas/ramalan perang. 2. Panampuli/ramalan dengan jeruk. 3. Parmunian/ramalan tanda-tanda celaka. 4. Parombunan/partimusan bentuk awan. 5. Parsopoan dan 6. Tondung /meramal.

Sastra Batak menurut Manguji disampaikan dengan lisan dan bukan dengan tradisi tulis; tidak digunakan untuk tujuan sehari-hari tetapi digunakan untuk kedukunan (75%), datu, penulis Pustaha profesional; Surat menyurat (Pulas), musuh berngi, ancaman; Ratapan (bilang-bilang, suman-suman, Andung;

Ragam Bahasa dalam Pustaha disebut “hata poda”.

Manguji Nababan juga menyebutkan “Punahnya tradisi beraksara Batak menurut HN Van der Tuuk (1852) datu dan babi hampir habis, datangnya kaum Padri dan missionaris dibenciinya produk datu (dibakar).

Dan sejak tahun 1920 tidak ada lagi datu yang menulis pustaha. Buku terakhir adalah tahun 1916 beraksara Batak berjudul “Pargolatan” oleh Arsenius Lumban Tobing,

Mengingat semakin menipisnya pengguna Hata Batak, apalagi Aksara Batak, maka para peserta zoom meeting yang terdiri dari desainer, pendeta, budayawan serta pengusaha itu mengungkapkan kekagumannya atas paparan Manguji. Oleh karenanya besar keinginan agar anak-anak sejak dini diajar lagi dengan peradaban Batak dan generasi muda didorong untuk menjadi peneliti peradaban dan Hata Batak serta meminta Pemerintah Daerah menyediakan dana menyekolahkan anak-anak muda menjadi peneliti peradaban sekitar Danau Toba atau yang menggunakan Hata Batak.

Buku Laklak yang tersebar di Eropa dan benua lainnya dengan Aksara Batak memuat Peradaban Batak terutama obat-obatan dan pengobatan sebagai ilmu warisan yang digunakan nenek moyang orang Batak mengobati berbagai penyakit, namun hilang dengan pengobatan modern dan teknologi kesehatan.

Nenek moyang kita hanya dengan ramuan serta teknik pengobatan sederhana dapat mengobati berbagai penyekit seperti patah tulang dengan “dampol siburuk”, menolong ibu-ibu yang melahirkan tidak mengenal operasi tehnik sederhana dan di rumah.

Beragam dukungan untuk menggali dan meneliti agar kekayaan dan warisan leluhur itu dapat dilestarikan untuk perlu upaya intensif dan berkesinambungan dengan memasukkan dalam kurikulum SD, SMP, SMA tidak hanya Hata Batak, tetapi juga etika dan moral yang terkandung dalam Dalihan Na Tolu Paopat Sihal-sihal, yaitu Somba Marhula-hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu.

Sebagaimana dikemukakan Sahala Benny Pasaribu, guna mengurangi pertikaian anak-anak perlu diketahui siapa boru, siapa tulangnya dan siapa dongan tubunya dalam satu kelas. Kalau dari sejak kecil sudah paham posisi dan kedudukannya, anak-anak sekolah tidak ada lagi bentrok. Bila itu sudah terpelihara dari sejak anak-anak, di kemudian hari akan ada tawuran.

Webinar yang dipandu Dr. Pirma Simbolon tiga setengah jam berlangsung hangat kelihatannya semua memberikan perhatian serius.

Selain terancamnya budaya Batak terutama aksara dan hata Batak, tidak lepas dari tanggung jawab Pemerintah Daerah untuk perlu mengalokasikan Anggaran Belanja pembinaan SDM (Sumber Daya Manusia) serta mempertahankan Peradaban Suku Batak.

Pemda juga harus mendorong bertumbuh dan berkembang lembaga-lembaga Adat untuk turut serta membina kerukunan dan sifat tolong menolong di Pedesaan agar tidak serba uang dan proyek.

Dengan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu dan mengefektifkan Raja Bius sebagian persoalan hukum dan kemasyarakatan akan dapat teratasi.

Khusus mengenai hata Batak, Pemdan dan HKBP harus bertanggung jawab, agar anak-anak di Bona pasogit dan perantauan dapat belajar bahasa Batak.

Oleh karenanya apa yang dilakukan FGD Batakologi adalah suatu keharusan, walaupun terlambat, tetapi lebih baik daripada generasi tua sekarang “berhutang” kepada leluhur dan anak-cucunya.(*)

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini