Hutan di sekelilingnya sudah habis, berganti pohon-pohon ekaliptus untuk kebutuhan pabrik kayu dan kertas. Semakin sulit melihat kemuliaan Allah di sana. Itu sebabnya firman hari ini menjadi pengingat yang sangat penting bagi kita, laki-laki dan perempuan, bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, diberkati, dan disuruh beranak cucu dan mengisi bumi, dan diberi mandat mengurusi ciptaan lainnya (ayat 28). Ini bukan keistimewaan yang membuat kita bisa sesuka hati di bumi, tetapi sebuah tanggung jawab untuk mempertahankan nilai ciptaan yang baik itu. Perintah menguasai di dalam teks ini bukanlah izin dari Tuhan untuk menguasai dan mengekspoitasi alam semau kita, tetapi sebuah perintah untuk menjaga dan memelihara ciptaan. Itu sebabnya pada ayat 31, setelah manusia diciptakan, firman Tuhan berkata: "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kehadiran manusia seharusnya menjadikan segalanya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
Saudara-saudara sekalian, marilah kembali kepada tugas kita sejak mulanya, yaitu membuat segalanya menjadi lebih baik. Marilah menjaga dan memelihara ciptaan Tuhan, agar dari sana pun kemuliaan Tuhan terpancar. Begitu juga di masa pandemi ini. Menurut peneliti virologi di Jerman, salah satu cara untuk memutus peredaran Covid-19 ialah jika kita sering berada di dekat tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah kita. Untuk memperkuat daya tahan tubuh kita di masa pandemi ini kita juga membutuhkan bahan-bahan makanan yang berasal dari alam sekitar kita. Selain itu, segala keperluan yang dibutuhkan untuk menemukan vaksin Covid-19 juga berasal dari alam. Ini semua kiranya menyadarkan kita kembali akan tugas kita sebagai manusia, yaitu untuk menjaga dan memelihara ciptaan Tuhan. Dari sanalah kemuliaan Tuhan terpancar, dan "Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!" (Mzm. 150:6). Amin.