Oleh sebab itu, lewat Kolose 3:18-21, kita hendak mendengarkan kembali dua nasehat untuk membangun keluarga yang berbahagia, yaitu (1) melakukan yang baik, dan (2) menjauhi yang tidak baik. Pertama, nasehat kepada perempuan (Yunani: gunaika), supaya tunduk (Yunani: hupotasso) kepada suami sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Sementara kepada laki-laki (Yunani: hoi andres) diserukan untuk mengasihi (Yunani: agavao) istri. Kasih di sini adalah kasih yang membebaskan dan bahkan siap untuk kehilangan nyawa bagi orang yang dikasihinya sebagaimana yang dilakukan Kristus. Kepada anak-anak dikatakan untuk menaati (Yunani: hupakuo) orangtua mereka. Pertanyaannya, manakah yang lebih sulit untuk dilakukan? Bukankah sama sulitnya? Sulit bagi perempuan untuk tunduk kepada suaminya, dan sulit juga bagi suami untuk mengasihi istrinya. Begitu juga anak-anak sulit untuk menaati orangtua mereka. Namun, berbahagia dan diberkatilah keluarga yang melakukannya. Hari ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk introspeksi diri, apakah keluarga kita sudah berada di jalur yang tepat sesuai dengan firman Tuhan?
Kedua, nasehat 'larangan,' dengan menggunakan kata 'jangan' (Yunani: me). Nasehat 'larangan' ini disampaikan kepada laki-laki dan atau orangtua laki-laki (Yunani: pater). Laki-laki 'jangan' berlaku kasar (Yunani: pikrainomai, membuat menderita, Inggris: to make bitter) terhadap perempuan! Laki-laki 'jangan' menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga, entah itu verbal atau nonverbal. Bagaimana bisa laki-laki mengatakan bahwa dia mengasihi istrinya sementara dia melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya tersebut? Kemudian kepada orangtua laki-laki dikatakan, 'janganlah' sakiti hati (Yunani: erethizeste, Inggris: provoke) anakmu. Provokasi dari orangtua bisa saja membuat anak-anak melawan, sedih, depresi, dan sebagainya, dan berujung pada kekerasan domestik. Marilah kita renungkan, bagaimana kita memperlakukan istri kita masing-masing selama ini? Bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita? Pernahkah kita berlaku kasar dan melukai hati mereka? Kalau pernah, bertobatlah, jangan lakukan lagi. Kalau tidak pernah, teruslah menjadi suami dan orangtua yang mengasihi keluarga dan menjauhi kekerasan. Selamat berbahagia. Amin!