Khotbah Minggu I Setelah Trinitatis, 14 Juni 2020: "Jauhilah Keserakahan" (Luk. 12:13-21)

Administrator Administrator
Khotbah Minggu I Setelah Trinitatis, 14 Juni 2020:  "Jauhilah Keserakahan" (Luk. 12:13-21)
ist
Pdt Dr Robinson Butarbutar
Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP


Saudara-saudara terkasih di mana pun berada


Pada tahun 2009 di Jerman terbit sebuah buku yang ditulis oleh Horst W. Opaschowski berjudul: Wohlstand neu denken. Wie die naeschte Generation leben wird (Dalam bahasa Indonesia kurang lebih: Memikirkan kembali kemakmuran: Bagaimana generasi selanjutnya hidup). Buku ini membahas tentang bagaimana bangsa-bangsa kaya memandang kemakmuran. Bangsa Jerman, misalnya, yang menjadi kaya setelah Perang Dunia ke-2 sampai tahun 1989, dan setelah itu menjadi bangsa yang sangat makmur setelah Amerika Serikat dan Jepang. Kemakmuran mereka bukan saja karena hidup disiplin dan kesukaan menyimpan uang, tetapi juga karena pengetahuan teknologi yang menjadikan mereka sebagai negara industri utama di dunia, bangsa besar pengekspor hasil-hasil industri. Bangsa-bangsa berlomba untuk menjadi yang paling makmur.  


Namun, rupa-rupanya, kemakmuran tidak selalu menjamin kebahagiaan. Masyarakat di negara makmur sangat mudah panik dan stress jika terjadi goncangan atau krisis ekonomi. Keinginan untuk memiliki sebanyak-banyaknya memang menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Selalu ingin lebih dan lebih. Jiwa tidak tenang. Itulah keserakahan. Yesus berkata: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Luk 12: 34). Sejarah telah membuktikan, kerakusan/keserakahan selalu mendatangkan perselisihan, perang dan bencana: Antara sesama saudara, tetangga, di jemaat, sebangsa, antar bangsa. Juga menyebabkan penjajahan, kolonialisme, perbudakan, rasisme, diskriminasi, eksploitasi serta penghancuran alam ciptaan Tuhan, dan sebagainya. 


 Atas ragam persoalan kerakusan dan ketidakbahagiaan ini, penulis buku tadi menawarkan sebuah pemikiran baru, yaitu: "Hiduplah dengan baik alih-alih memiliki banyak" (Jerman: Gut leben statt viel haben). Misalnya, hidup tidak hanya diisi dengan bekerja terus menerus demi memiliki sebanyak mungkin, tetapi bagaimana caranya agar lebih mensyukuri yang sudah dimiliki, punya cukup waktu istirahat, menjaga kesehatan supaya panjang umur, berbagi dengan orang yang membutuhkan, dan lain-lain. Pada saat yang bersamaan, tahun 2010-an, gereja-gereja anggota DGD (Dewan Gereja-gereja se-Dunia) menyerukan kepada umat Kristen untuk mengubah pola pikir, yaitu tidak lagi bertujuan memiliki sebanyak-banyaknya dengan cara apa pun, tetapi memiliki hidup yang sebaik-baiknya, hidup yang cukup, yang ugahari.


Inilah yang disuarakan Yesus pada hari ini, Minggu I setelah Trinitatis pada kita, lewat Injil Lukas 12:13-21, yaitu agar tujuan hidup kita bukan lagi memiliki sebanyak-banyaknya (Yunani: huparchontos) melalui cara-cara keserakahan (Yunani: pleoneksias, ayat 15, 21), sebab hidup kita tidak bergantung pada kekayaan tersebut. Secara keras Yesus mengingatkan kita melalui perumpamaan seorang yang kaya yang mengumpul dari hasil tanah yang berlimpah, dan yang menggantungkan hidupnya pada kekayaannya tersebut. Bagi Tuhan itu merupakan kebodohan dan kejahatan. Hidupnya pun dihentikan Tuhan.      


Saudara-saudara sekalian, hendaklah kita peka untuk mendengar dan memahami firman Tuhan hari ini. Mereka yang hidup dalam keserakahan, bertobatlah. Yang sedang tergoda untuk serakah, segera menjauh dari sana. Keserakahan hanya akan membawa pada kehancuran. Roh Kudus memampukan kita menjalani hidup yang ugahari dan saling berbagi terutama di masa pandemi ini, sebab kita orang-orang percaya, pengikut Yesus, bukan lagi manusia lama yang rakus (Rm. 1: 29; 2 Kor. 9:5), melainkan manusia baru yang hidup dengan baik. (Mat. 10:15,Rm. 12:1,1 Tes. 2:5,Kol. 3:5,Ef. 4:19,5:3,2 Pet. 2:3, 14). Marilah, bersama Roh Tuhan, hidup dalam kekayaan di hadapan Allah, dan berbagilah, sebab berbagi adalah kekayaan. Amin! 


Komentar
Berita Terkini