Onan Na Marpatik...

Oleh: Nestor Rico Tambunan
Administrator Administrator
Onan Na Marpatik...
IST|Pelita Batak

SAYA tertegun membaca sungkun-sungkun (pertanyaan) tulang Prof. DR. B.A. Simanjuntak di grup WhatsApp FGD Batakologi. Ajari hamu jo ahu, AHA LAPATAN DAN FUNGSI NI ONAN NA MARPATIK. Sada nai AHA FUNGSI NI ONAN DI HALAK BATAK. Serius nih, Tulang Prof. BAS (panggilan populer beliau) bertanya? Atau sekedar memancing agar diskusi beralih ke topik yang lebih substantif dalam Batakologi, sesuai nama WAG.

Sungguh, saya merasa belum banyak tahu dan memahami banyak tentang Habatahon, dan masih terus mencari-cari, bertanya-tanya dan membaca-baca (kalau ada bacaan). Namun, dalam pencarian itu saya menemukan banyak hal menarik, yang membuat saya semakin memahami “kelas peradaban” leluhur saya (dalam hal ini Batak Toba).

ONAN, tempat berjual beli, atau sekarang dikenal dengan pasar, adalah lembaga yang didirikan untuk kepentingan masyarakat di bius bersangkutan. Seperti kita tahu, pemerintahan sosial di Tano Batak sebelumnya kedatangan pemerintah kolonial Belanda adalah dilaksanakan Bius.

Menurut buku Ypes, ada 300 lebih Bius di Tano Batak. Tiap Bius dipimpin Raja Bius, yang dipilih secara demokratis oleh Raja-Raja Horja di wilayah Bius tersebut. Raja Bius dibantu apparat pemerintahan Bius yang menangani bidang-bidang kehidupan masyarakat. Ada bidang ekonomi, pertanian, pertahanan/keamanan, ritual/kepercayaan, dan sebagainya. Bidang-bidang itu, dan nama bidangnya ditetapkan dengan sidang oleh masing-masing pemerintahan Bius.

Jadi, Bius itu memiliki otoritas masing-masing. Tapi mereka juga saling terhubung dengan Bius lain, dan berpedoman kepada satu acuan, yaitu Raja Sisingamangaraja dari Bakkara. Jadi, kerajaaan (harajaon) Dinasti Sisingamangara bukan kerajaan wilayah, tapi lebih sebagai patron ajaran. Belanda menyebutnya “Raja Imam”.

Nah, dalam menentukan Onan tadi, Bius membuat aturan-aturan atau hukum, yang disebut patik ni onan. Letak onan itu dimana, hari onannya kapan, timbangan-timbangan yang berlaku, dan berbagai hukum lain. Itulah kenapa disebut Onan Na Marpatik. Onan yang ada hukumnya. Tempat lain yang sering ditetapkan dengan patik adalah huta. Huta Na Marpatik, berarti ditetapkan dengan aturan dan ketentuan (patik) tertentu.

Salah satu hukum universal dalam lembaga onan, adalah penghentian pertikaian atau perang. Orang yang bermusuhan otomatis harus berhanti kalau datang ke onan. Tapi hukum paling penting dari onan adalah menentuan ukuran timbangan atau takaran.

Dulu ukuran takaran itu itu adalah solup. Solup itu terbuat dari ruas bambu. Ruas bambu tentu tidak sama besar. Jadi harus ditentukan isi takarannya. Solup yang berlaku di satu onan, adalah solup yang ditentukan di onan itu. Jadi kalau ada pembeli dari tempat lain (yang mungkin ukuran solupnya berbeda) datang berbelanja ke satu onan, yang berlaku adalah solup atau ukuran di tempat itu. Dari situlah asal idiom “si dapot solup do na ro”. Kalau kita datang beradat ke satu tempat, kita harus menerima adat yang berlaku di tempat tersebut.

Ada Onan yang langsung dipatikhon oleh Raja Sisingamangaraja. Salah satu pernah saya kunjungi, yaitu Onan Harbangan di Nagasaribu, Desa Pohan Julu, Kec. Siborong-borong. Letak tempat ini di atas Balige, tapi masuk dari jalan ke Sipahutar. Sampai sekarang mereka masih menyimpang hatian (timbangan), solup, dan parmesan (ampang kecil) yang diberikan Raja Sisingamangaraja sebagai pusaka.

Nagasaribu ini satu wilayah yang menurut saya sampai sekarang hukum adatnya sangat kuat dan ditaati masyarakat. Bahkan gereja pun diatur adat. Hanya ada gereja HKBP, HKI, dan GPI. Tidak boleh tambah lagi. Kalau melakukan perayaan, misalnya Perayaan Natal atau Pesta Gotilon, 3 gereja harus bersamaan. Jemaat tidak boleh pindah gereja. Kalau menikah beda gereja, istri ikut suami. Damai sekali mereka.

Kembali ke Onan, menurut cerita yang saya dapat dari abang Monang Naipospos, fungsi onan bukan hanya sekedar tempat jual beli. Pada hari onan, para raja-raja, tetua dari berbagai bidang di Bius itu, berkumpul, marnonang sambil membicarakan hal-hal penting. Mungkin ada orang yang datang mengadukan persoalan yang ia hadapi, untuk mendapat nasihat dan saran dari para tetua itu.

Begitu pula para sibaso dan yang pintar mengobati. Ibu-ibu datang membawa anaknya yang mungkin kurang sehat agar “dijama”. Nanti para pande itu memberi saran-saran obat. Itu tidak komersil. Kadang orangtua itu meninggalkan sesisir pisang, atau jajanan lain, sebagai tanda terimakasih.

Setelah pemerintah kolonial Belanda datang dan pemerintah Bius dibubarkan, lembaga ekonomi Onan diokupasi dan dikelola dengan lebih modern. Didirikan balerong-balerong untuk tempat pedadang (sebelumnya Onan banyak hanya berbentuk lapangan). Itulah cikal-bakal onan yang kita kenal sekarang. Onan Balige, Onan Porsea, Onan Lumbanjulu... apa lagi.

Inilah sedikit gambaran dari yang saya tahu tentang Onan. Maaf, tulang Prof. BAS, hanya sekedar berbagi dari sedikit yang saya tahu. Horas.

Komentar
Berita Terkini