Ingin Hidup Berapa Lama?

Oleh : Henry Sitanggang SH
Administrator Administrator
Ingin Hidup Berapa Lama?
IST|Pelita Batak

INGIN hidup tiga bulan sampai satu tahun, tanamlah padi. Ingin hidup 30 tahun sampai dengan 100 tahun tanamlah pohon. Ingin hidup 1000 tahun, didiklah masyarakat.

Tuhan telah memberi kita semua yang kita perlukan. Tetapi manusia merusak alam karena kerakusan.

Tuhan mengirim sinar mata hari, ditangkap oleh daun dan rumput. Diolah di daun, jadilah karbohidrat dan muncullah air yang bisa menjadi binanga (sungai) untuk memutar dinamo sehingga menghasilkan listrik untuk menjalankan pabrik kebutuhan manusia agar bisa membuat aneka produk dan bahkan pesawat antariksa menjelajah hingga ke Mars.

Cahaya matahari yang ditangkap oleh rumput, dan rumput dimakan oleh kerbau atau lembu, dan ternak kita panggang jadi sate atau rendang, maka enerji masuk ke mitochondria dalam tubuh kita yang merupakan generator pemberi enerji sehingga kita tidak loyo dan bahkan kuat berlari walau kalah lari mengimbangi orang Malaysia dan Thailand dalam rebutan bola karena pebola kita kurang terisi enerji di mitochondrianya karena kurang protein.

Cahaya matahari disambut daun maka di bukit Kawasan Danau Toba (KDT) atau Pulau Samosir dulu sering kita lihat embun menutup pohon. Tapi sejak hutan dihabisi PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) dulu PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) dan diganti dengan eucalyptus untuk membuat tissue maka embun ogah hinggap karena pohon tidak ada lagi. Ompung kita membuat umpasa dulu, "Bintang na rumiris, ombun na sumorop; anak pe riris, boru pe torop". Itu diucapkan dalam memberkati pengantin. Ditambah umpasa: "Tubu ma hariara di holang holang ni huta. Sai tubuan anak ma hamu na marsangap (dang-tidak koruptor, bajingan, pezinah, penipu, dsb) dohot boru na martua".

Jadi leluhur kita juga memohon ke Mulajadi Nabolon agar kita berketurunan yang riris (lengkap) anak laki laki dan perempuan yang "marsangap" (berbudaya, memelihara kehormatan, moral) dan martua (blessed).

Generasi berikut diingatkan akan pentingnya pohon...hingga disebut "tubu ma hariara". Leluhur kita mengerti bahwa pohon adalah untuk kehidupan.

Jadi jika anda punya pekarangan atau tanah, tanamlah pohon, entah sotul, mangga atau nira (jika ingin tuak takkasan) dan nira bisa diolah jadi ethanol untuk anti covid juga.

Dengan pohon yang cukup, maka kita akan dapat menghirup udara segar karena pohon mengeluarkan oksigen dan menangkap C02 dari asap mobil atau pabrik.

Pohon tersebut selain menghasilkan mata air untuk menyuburkan sawah ladangmu juga lapuk menjadi batu bara sehingga Kalimantan misalnya bukan tempat jin buang anak, tapi jadi sumber enerji yang dikeruk untuk menyalakan PLN dan pabrik agar kita ada listrik untuk penerangan atau untuk memanggang sate dengan kompor induksi yang aman dari kebakaran dan lebih hemat dari LPG yang per tahun kita impor senilai Rp 80 triliun.

Dengan pohon, air Danau Toba bisa pulih, sehingga debit air cukup untuk memutar turbin pembangkit listrik PT Inalum, agar perusahaan itu cepat melunasi hutang untuk divestasi PT Freeport, yang dengan demikian bisa kita memproduksi emas.

Enerji batu bara kita dari pelapukan pohon bisa melebur nikel dan tembaga untuk membuat logam stainless untuk kebutuhan logistik seperti tanker untuk angkut kimia atau untuk membuat sendok dan roaster untuk kita ngopi dan makan.

Dengan adanya cukup pohon maka oleh giga triliun mikro organisme dihasilkanlah humus dan pupuk sehingga pohon dan sawah kita subur. Hutan menghasilkan humus dan cacing, dimakan sibahut (ikan lele) dan ikan oleh karenanya ikan di Danau Toba bisa melimpah untuk kesejahteraan saudara kita di KDT dari pada mereka jadi kuli seumur umur di TPL atau jadi supir tembak dan tukang tambal karena melarat di kampung.

Pohon adalah sumber kehidupan. Pohon mengolah karbon, memberi kita oksigen dan air. Kita tidak bisa hidup tanpa oksigen dan air.

Jadi kita tidak bisa hidup tanpa pohon. Maka tanamlah pohon.

KDT yang gersang jika dihijaukan bisa menghasilkan oksigen untuk carbon trading dan menyuburkan sawah ladang kita dan memulihkan kerusakan danau Toba.(*)

Penulis adalah pemerhati sosial kemasyarakatan KDT, pengacara, berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini