Minggu, 28 Oktober 1928. Itu peristiwa... 20 thn setelah sekelompok Priyai ambtenar terpelajar dokter Jawa.. mendengungkan Boedi Utomo.. Mereka sadar.. bahwa untuk menyongsong dan memperjuangkan kemerdekaan itu, perlu ada pendekatan dan paradigma baru. Meretas sekat-sekat.
Mereka, para mahasiswa dan pemuda, menyingkirkan ego suku, agama, budaya, aliran. Perjuangan tidak atas dasar mayoritas - minoritas.
Mereka tidak mengenforce... Bahasa Jawa, yang penuturnya mayoritas di Nusantara sebagai bahasa persatuan...
Mereka tidak memilih tanah Jawa - yang peradaban dan kemajuannya telah jauh meninggalkan daerah lain di pelosok Nusantara, sebagai tanah air ....
Mereka tidak bersumpah.. sebagai bangsa Jawa... sekalipun secara bilangan ..outweigh/ melampaui suku-suku lain...
Mereka bahkan TIDAK bersumpah dan mengikat solidaritas kebangsaan berdasarkan agama atau aliran kepercayaan..
Mereka ..mencari, menemukan dan bertekad bulat... bersumpah.. hanya atas satu... COMMON Denominator/ Pengikat utuh... INDONESIA
SATU Tanah air... Tanah INDONESIA
SATU Bangsa .... Bangsa INDONESIA
SATU Bahasa .... Bahasa INDONESIA
Mereka kumandangkan tekad suci luhur itu... di Jl. Kramat Raya 106 Jakarta
Tahu kah anda pemilik rumahnya ?
Sie Kong Liang
Hari ini 88 tahun yang lalu...
Para Pemuda Patriot Kebangsaan yang nasionalis,...
Ada Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Djoko Marsaid (Jong Sumatra Bond), Amir Sjarifuddin Harahap (Jong Batak), Djohan M. Tjai (Jong Islamieten Bond), Katjasoengkana (Pemuda Indonesia), RCL Senduk (Jong Sulawesi), Johannes Leimena (Jong Ambon), Moh. Rochjani Su'ud (Pemuda Kaum Betawi), ..bersama ratusan Pemuda/ Pemudi gagah berani... meletakkan visi keIndonesiaan... visi kesatuan ke depan.
Indonesia yang utuh.. yang dipersatukan oleh perasaan senasib sepenanggungan. Itulah perekat semaian nasionalisme, sebagaimana diteorikan Ernest Renan. Bertekad membangun cita-cita bersama. Rumah bersama - Rumah Indonesia. Di seberang jembatan emas. The imagined societies- meminjam istilah Ben Anderson.
Para Senior/ kaoem tua menggembleng, membakar jiwa muda mereka. Tercatat sering berdiskusi disana Bung Karno, Bung Yamin, A.K Gani, M.Roem, Tanzil, Assat dll.
Kelak 17 tahun kemudian... cita-cita bersama itu... menjadi pondasi dan tujuan pertama bangunan Indonesia merdeka itu didirikan
...Melindungi segenap bangsa Indonesia. Itu amanah agung pembukaan Undang-undang Dasar kita..
Mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, menjaga ketertiban dunia.
Di bawah naungan rumah bersama kita Rumah Pancasila.
Rawe rawe rantas, malang malang putung. Mangangkat rap tu ginjang, manimbuk rap tu toru.
Jangan lupa itu. Kobarkan itu. Jangan beri ruang dan peluang sedikitpun kepada anasir anasir - baik asing maupun lokal - yang mencoba menggoyang fondasi kokoh kebangsaan kita.
Bangkitkan tenaga dalammu. Suarakan tekadmu. Tunjukkan sikapmu.
Kita adalah Indonesia.
Kini.... 88 tahun kemudian..
Sebelas windu .. masihkah tekad itu ada ?
Bung Karno mengingatkan..." Jangan mewarisi abunya, tetapi warisilah apinya", . Semangatnya. Rohnya
Kami, kita.. the silent majority pecinta damai dan adab , berharap banyak kepada Bapak dan ibu pengemban jabatan dan kewenangan..bahkan senjata untuk menegakkan aturan.. law and order. Ambillah segala tindakan yang diperlukan. Pencegahan dini, precautionary action, detterent, terukur dan antisipatif. Kita jaga rumah Indonesia ini.. with all necessary means.
Negara tidak boleh terlihat lemah, kalah apa lagi tunduk.
Matikan letupan-letupan dan benih benih api yang mencoba mengganggu fondasi NKRI sebelum berkobar merusak merongrong lebih jauh.
Jangan biarkan cekaman dan ancaman hawa busuk permusuhan menjadi kanker virus yang menggerus dan menghabiskan energi. Padamkan kampanye kebencian, hatred speech dan sebangsanya.
Kita menghadapi front persaingan global dan regional yang tight. Kita perlu memenangkan itu. Ke sanalah seharusnya energi dan kecerdasan kita dituju baktikan.
Mari kita bangun dan rawat peradaban kita yang berkepribadian khas Indonesia. Budaya dan adab sejarah panjang nusantara yang dinamis.
Kita songsong perhelatan akbar demokrasi sebagai wujud kedewasaan politik dan sosial dengan gembira. Festivy. Festival karnaval yang menyejukkan. Dan menghibur. Berpengharapan. Untuk Indonesia yang lebih baik.(Sampe Purba)