TIGA lawyer kondang (Dr. Tomy Sihotang, Dr. Palmer Situmorang dan Hotma Sitompul) telah lama berbeda pendapat mengenai ketiga jenis makanan tradisional Batak ini, dan katanya sampai mereka nekat ke Bonapasogit untuk membahasnya guna mencari kebenaran materil atau formil, saya tak tahulah, namanya lawyer, semua segi bisa dibahas.
Dan konon katanya lawyer Hotma Sitompul akan memberikan hadiah bagi yang bisa menjelaskan persamaan dan perbedaan ketiga jenis makanan khas Batak ini.
Sebagai seorang Lawyer asli made in Samosir mantan gembala dan hobby lampet dan pohul-pohul yang selama ini berpengalaman dalam litigasi, arbitrase internasional dan maritime law, menjadi tertarik untuk mencoba membahasnya secara antropologis dan filosofis, untuk selanjutnya memberikan saran kepada ketiga lawyer tersebut agar mereka menemukan jawaban atas perbedaan pendapat mereka, dan sekaligus mencari persamaan dari pada perbedaan ketiga jenis makanan ini dan juga mengulas sedikit prospek globalnya (bukan gombalnya).
Metode analisis
Metode analisis yang digunakan dalam kajian lampet dan pohul-pohul ini hanya berdasarkan analisa emprik, karena terbatasnya data primer dan kepustakaan.
Diharapkan analisis ini dapat menjawab pertanyaan masyarakat tentang lampet, pohul-pohul dan ombus-ombus ini.
Segi rasa
Dari segi rasa (rasa memang subjektif), ketiga kue khas Batak ini sama-sama enak kok, setidaknya bagiku rasanya di atas maknyus. Bahkan tidak hanya enak. Pesta meriah di Gedung Sudirmanpun dalam acara pernikahan, jika belum memakan lampet dan pohul-pohul, rasanya belum sempurna pesta itu walau pemain serulingnya jempolan dan sudah marligato dan pemain sarunenya nyaris ngos-ngosan karena pargossi (pemukul gendang) lupa menghentikan gendang saking syornya panortor (penari).
Segi bentuk
Dari segi bentuknya, lampet itu rada gepeng sedikit, sedang pohul-pohul bentuknya mengikuti cetakan tangan. Jadi ada bekas tangan dari orang yang membuatnya.
Berbeda dengan ombus-ombus, ini tidak dicetak dengan tangan, rasa boleh dicoba, so pasti enak, apalagi konon yang mempopulerkannya adalah boru Sihombing parkede sehingga terkenal dengan Lagu Ombus Ombus Las Kede (masih hangat). Sama-sama laris, tapi fungsi sosial ombus-ombus tidak masuk sampai ke gedung pesta. Ia cukup di daerah wisata atau lapo.
Pohul-pohul itu bentuknya rada keras
Ombus-ombus itu lembut. Konon katanya asalnya adalah dari Siborongborong dan ahli yang membuatnya adalah boru Sihombing.
Ombus-ombus ini sering diklaim " Las Kede= Its still Warm", sebagai sarana promosi.
Saking larisnya ombus-ombus ini telah lahir lagu Ombus Ombus Las Kede yang tidak saja menembus Nusantara tapi juga mancanegara.
Sejarah singkat
Belum ada bukti sahih kapan terbentuknya ketiga kue ini dan siapa yang memulainya. Belum bisa ditemukan siapa pemegang Hak Ciptanya. Tentu saja sudah NN, jadi tidak bisa digugat lagi atas dasar pelanggaran hak design. Jadi tidak mungkin lawyer mengugat atas dasar UU HAKI, dan sehebat apapun lawyer yang mengaku terhebat, takkan menang dia melawan lawyer kemarin sorepun soal Hak Cipta pohul-pohul, lampet dan ombus-ombus ini, karena sudah NN.
Lampet umumnya disajikan berdampingan dengan pohul-pohul. Bahan bahan bakunya sama. Hanya formation atau pebentukannya dan kemasannya yang berbeda.
Lampet biasanya dikemas dalam daun sumpit, sejenis palm liar dan inilah yang menambah ‘ disorlethon” rasa lampet itu karena daun sumpit tersebut memberi aroma khas tersendiri dan juga melembutkan lampet tersebut, dan gulanya tetap rada semi mencair di dalamnya.
Jika kita makan, harus jaga baju agar tidak muncrat gulanya seperti coklat yang kita beli dari Eropa yang didalamnya ada “anggur”.
Tujuan filosofis pembuatan lampet beda dengan ombus-ombus.
Lampet dan pohul-pohul itu digunakan juga dalam acara adat. Sedang ombus ombus, sepertinya di kedai boru Sihombing. Dalam adat, banyak peristiwa dimana sebelum mangan indahan (makan nasi) na las dihidangkan dulu lampet dan atau pohul pohul. Jadi kedudukan antropologis lampet dan pohul-pohul ini lebih sakral dan lekat dengan adat.
Ombus-ombus boleh kalah, tapi dari segi popularitas namanya telah menandakan persaudaraan. Pecinta kuliner Batak baik di Jakarta pun serasa tidak sempurna jika habis makan enak di lapo tidak diakhiri dengan makan lampet atau pohulpohul. Tapi agaknya daya tarik pohul-pohul agak kalah di lapo dibanding lampet, menurut pengamatan pribadi penulis.
Tujuan lampet dan pohul-pohul disediakan bukan sekedar konsumsi an sich. Karena kalau sekedar konsumsi saja, banyak makanan lainnya. Dan saya yakin sekiranya dihidangkan kue dari Holland Bakery dan lampet, pasti yang diambil orang Batak duluan adalah lampet itu, kecuali ibu-ibu mungkin sekaligus dibungkus dengan plastik. Bungkusan plastik tidak penulis bahas di sini karena ini sudah urusan globalisasi. Biarlah ahli lingkugan hidup membahasnya. Yang jelas ibu-ibu Batak banyak membawa plastik jika ada pesta, untuk diisi dengan jagal dan lampet dan pohul pohul. Ini bukan soal mokkus (rakus), tapi memang kita yang asli lahir di kampung, memang rasanya “nikmat sekali” makan lampet dan pohul-pohul ini, ada kisah di belakangnya.
Aku dulu, kalau 17 Agustus, pasti ada pesta martumba. Disaat itu pasti dijual juga mie gomak dan lampet. Pasti kuamankan itu lampet, kecuali satu kali aku tidak jadi membeli lampet karena kalah marjanggar janggar.
Masyarakat KDT bolehlah populerkan cerita lampet dan pohul-pohul ini, dan jika perlu juga kisah mengenai itak gurgur, yang dapat menjadi international culinary selain natinombur. We are proud of the Batak’s culinary seperti lampet dan pohul pohul. Tentu saja juga Natinombur dan sambal andalimannya.
Sambal andaliman ini sudah go global hingga ke Rusia dan Eropa. Mungkin juga ke Australia.
Seni menaikkan pendapatan Samosir bisa dengan menguasai seni menyajikan kuliner unik seperti lampet dan pohul-pohul dan memberi narasi mengenai penggunaan lampet dan pohul-pohul dan semua makanan khas tersebut secara sosio kultural.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa ketiga makanan ini lejat, dan masih cerah masa depannya dan terasa tidak sempurna pesta tanpa lampet dan pohul-pohul. Tapi untuk ombus-ombus, kelasnya masih kelas di lapo, tetapi juga popular di daerah wisata dengan marketing tag : Ombus ombus Laskede.
Saran
Perlu ditingkatkan kelas, posisi, dan kemasan serta pemasaran lampet dan pohul-pohul dan ombus-ombus ini untuk pariwisata. Bisa menaikkan PAD Samosir dan KDT.
Sekilas menajawab pertanyaan ketiga lawyer kondang di atas, saya rasa, jika ketiga lawyer tersebut mau belajar tentang lampet, pohul-pohul dan ombus-ombus bolehlah saya berikan: Inroduction to Lapet and Pohul-pohul and Ombus- ombus, baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Sileban, agar sekaligus saudara kita yang di perantauan mengetahui bahwa lampet itu ada khasnya, lekat adat dan ada fungsi pemersatu di belakangnya, pemersatu dan pengikat persaudaraan, dan tidak kalah dengan cake di Starbuck atau di Resto Jepang.
Disana malah ada cake mirip hintang ni andalu, cuma sudah diberi nama Jepang. Padahal 65 tahun lalu aku sudah menikmati juga hintang ni andalu, yang tak kalah serunya dengan lampet, dan malah ini lebih seru lagi ceritanya dan filosofinya.
Jakarta, 17 Oktober 2020.
Penulis adalah lawyer di Jakarta
Email: hstglawfirm@gmail.com