Rekam Jejak dan Integritas Calon Kepala Daerah

Administrator Administrator
Rekam Jejak dan Integritas Calon Kepala Daerah
Ist
Djalan Sihombing diapit Abang None

Oleh: Djalan Sihombing, Pemimpin Umum Pelita Batak

 

Jelang pilkada serentak tahun 2018, calon-calon kepala daerah merebut hati pemilih dengan berbagai cara. Ada dengan cara yang sesuai aturan/undang-undang dan dari nurani yang baik dan ada dengan cara yang tidak benar (dengan segala cara yang penting menang). Ada yang tiba-tiba sangat baik dan mencitrakan diri melalui diri sendiri dan orang lain. Citra itu baik, tapi pencitraan itu tidak baik. Kita tidak tau percis apa yang ada di benak pasangan calon untuk kepala daerah. Ada yang betul-betul ingin membangun dan melayani masyarakat. Tentu ada juga yang ingin berkuasa dan dihormati. 


Sebelum menentukan sikap untuk memilih, sebaiknya cari sebanyak mungkin rekam jejak dan integritas calon-calon tersebut.  Pilihlah yang rekam jejaknya paling bagus. Pilihlah yang tidak terindikasi atau tersangkut dengan korupsi, narkoba, yang tidak terkait SARA, tidak pernah dipidana, dll.  Mungkin banyak calon yang belum dikenal luas di masyarakat setempat, tetapi rekam jejak seseorang semakin mudah diakses dengan teknologi informasi sekarang.  


Jangan mudah terpancing dengan visi dan misi yang luar biasa dan mengesankan. Saat ini, banyak konsultan yang bisa membantu membuat visi dan misi si calon. Bila si calon tidak paham dengan visi dan misi yang dibuat konsultan, bagaimana dia melaksanakannya, bila terpilih dan menang? 


Integritas, berarti sesuai perkataannya dan perbuatannya. Ke mana pun orang yang integritasnya  tinggi dan baik, pasti dipercaya. Dia akan tulus berbuat. Apalagi seseorang itu telah terbukti dan teruji  berbuat untuk banyak orang, tentu pilihan sudah semakin jelas. Pilihlah yang sudah teruji, daripada masih hanya memberi janji-janji dan slogan. Orang-orang yang tidak berintegritas, tidak perduli dengan janji-janji dan slogan yang diucapkannya. 


Terserah pilihan calon masing-masing, tetapi 5 (lima) tahun ke depan tergantung pilihan rakyat. Jangan karena uang sedikit, masa depan kita, masa depan pembangunan tidak terarah dan tepat sasaran. Calon-calon yang dipilih karena uang, bisa menjadi masalah bagi dirinya sendiri dan pembangunan bangsa dan negara. Pemberian uang oleh calon atau timnya agar dipilih, tidak mendidik dan itu merusak demokrasi. Pasangan calon yang kurang percaya diri dan ingin berkuasa, biasanya mengandalkan uang biar menang.(*)

Komentar
Berita Terkini