Parlindungan Purba : Ekspor Pertanian Sumut Butuh Peningkatan

Administrator Administrator
Parlindungan Purba : Ekspor Pertanian Sumut Butuh Peningkatan
tap|pelitabatak
Parlindungan Purba SH MM

Medan (Pelita Batak):

Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Parlindungan Purba meminta agar ekspor komoditi pertanian asal Sumut ditingkatkan. Tahun 2017, data ekspor kakao (Theobroma cacao) bahkan sudah tidak ada.

Data dari Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, jumlah ekspor komoditi pertanian dari Sumut diminati berbagai negara. Hanya saja, kondisi terakhir menurut data kuantitas produk pertanian Sumut semakin menurun.

"Kita harus kaji ini, bagaimana semua stakeholder bisa memacu produk pertanian untuk ekspor. Sehingga Sumut tetap meningkat nilai ekspornya," jelas Parlindungan, Senin (12/3/2018).

Pria yang juga Ketua Apindo Sumut ini menyayangkan adanya komoditi pertanian yang pernah menjadi unggulan dari Sumatera Utara seperti kakao justru tidak lagi masuk dalam daftar ekspor di tahun 2017.

Produk pertanian Sumut banyak yang menjadi permintaan pasar. Misalnya pinang (Areca catechu). Ternyata diekspor dalam jumlah besar. Sejak tahun 2015 ekspor pinang Sumut antara lain ke Bangladesh, Thailand, Srilanka dan Vietnam.

Pinang asal Sumut kata dia, diekspor dalam dua jenis yakni pinang tua dan pinang muda. Untuk pinang tua, di ekspor ke India. Di negara tersebut, pinang tua menjadi kebutuhan pokok makanan serta banyak diolah menjadi berbagai bentuk makanan dan industri olahan makanan lainnya. 

Selanjutnya, pinang muda banyak masuk ke Tiongkok dan menjadi bahan baku obat-obatan untuk kesehatan. Saat ini, produksi pinang di Sumut masih tergolong rendah dibandingkan dengan Aceh, Riau, Padang dan Jambi.

"Pinang Sumatera ternyata dangat diminati, kita saat ini kekurangan produk untuk di ekspor," katanya sembari mengatakam bahwa hal ini menjadi bagian perhatian dan masukan bagi DPD yang saat ini mengajukan Rancangan UU tentang Ketahanan Pangan.

Berbagai produk hortikultura seperti wortel (Daucus carota) dari Karo dikirim ke Singapura dalam jumlah besar. Demikian halnya dengan sarang burung walet ke Cina. "Wortel ke Singapura masih sebatas permintaan, namun sudah dalam jumlah besar," ujar Parlindungan.(TAp)

Komentar
Berita Terkini