Harga Cabe Masih Bagus, Petani Sayur Karo Menjerit

Parlindungan Purba akan Surati Dirjen Hortikultura
Administrator Administrator
Harga Cabe Masih Bagus, Petani Sayur Karo Menjerit
tap|pelitabatak
Parlindungan Purba mencatat keluhan petani yang disampaikan Basri Sitepu

Medan (Pelita Batak):

Sejumlah produk hortikultura asal Kabupaten Karo seperti tomat, wortel, kentang, kol dan brokoli mengalami penurunan harga. Harga jual bahkan disebut-sebut tidak menutupi biaya panen. Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba SH MM akan menyurati Dirjen Hortikultura untuk meminta turun dan menyelidiki penyebabnya.

Petani se Kabupaten Karo pun kini diresahkan dengan adanya pestisida dan pupuk yang beredar diduga palsu. Sebagian hama, justru immun terhadap sejumlah merk festisida yang beredar.

Informasi ini ditemukan Parlindungan Purba saat mengunjungi Pasar Induk Lau Cih di Medan Tuntungan Kota Medan Provinsi Sumatera Utara, Minggu (25/3/2018) sekitar pukul 23.00 WIB. "Ini sangat memprihatinkan, perlu penanganan segera," ujar senator asal Sumut ini saat mendapat penjelasan dari pedagang yang juga bertani di Karo Basri Sitepu.

Untuk itu, dia menyebutkan melalui Ketua DPD RI pihaknya akan meminta Dirjen Hortikultura segera turun dan melakukan upaya-upaya menjawab keluhan warga.

Seperti dituturkan Basri, harga tomat di petani hanya Rp 700/kg, wortel Rp 1.500/kg, kubis Rp 700/kg. Kondisi ini disebutkan Basri membuat petani tidak bisa melakukan panen karena harga jual bahkan tidak bisa menutup biaya panen. 

"Petani biarkan saja, semua busuk di pohon. Tak bisa mentupi biaya panen,"kata Basri.

Selain biaya produksi yang tidak tertutupi, dikatakan Basri, pihaknya resah akan peredaran pestisida diduga palsu dan pupuk yang tidak baik. "Harga pupuk tidak pernah turun, festisida tidak mempan, harga justru turun. Kami petani mau kemana?" katanya.

Sementara harga cabai merah masih bertahan di harga Rp35.000/kg dan cabai hijau kisaran Rp 19.000/kg. "Masih seperti kemarin, Rp35.000 per kilonya," ujar pedagang lainnya Helen Tarigan.

Akademisi Joan Berlin Damanik SSi MM menanggapi adanya dugaan pupuk dan pestisida palsu perlu dilakukan tes kualitas di lapangan. Hal itu bisa diwujudkan dengan bantuan tenaga penyuluh. "Sehingga kita bisa pastikan keberadaan pupuk dan pestisida yang beredar palsu atau tidak," kata Dekan Fakultas Ekonomi UNITA ini. (TAp)

Komentar
Berita Terkini