Oleh: Bantors Sihombing, S.Sos, M.Si
Pariwisata sedang mengalami kebangkitan di Danau Toba. Pemerintah memberikan perhatian besar dengan membenahi infrastrukturnya. Dulu orang berdalih tentang jarak yang jauh dan waktu yang lama, yang membuat turis enggan ke Danau Toba. Kini sudah ada jalan tol Medan-Tebingtinggi, sehingga memperpendek waktu tempuh.
Lalu sudah ada Bandara Silangit, yang kini statusnya internasional. Trayek penerbangan langsung dari Malaysia dan China ke Silangit sudah dibuka. Artinya, turis asing telah berdatangan, dan akan lebih banyak lagi di masa depan. Belum lagi turis lokal yang bukan hanya dari Sumut saja, tetapi juga dari daerah lain.
Danau Toba memang memiliki sejuta pesona yang memikat hati pengunjungnya. Andalannya bukan hanya keindahan panoramanya saja. Daerah ini memiliki budaya yang khas, baik itu musik, tarian, ukiran, rumah khas Batak, dan tempat bersejarah melegenda. Makanannya juga unik dengan bumbu yang hanya ada di Tapanuli, seperti andaliman.
Berbagai even secara rutin digelar di Danau Toba. Pemkab Samosir misalnya, sangat getol membuatnya, dan sepanjang tahun, ada saja acara di sana. Meski masih perlu ditata, sehingga ada kalender even tahunan. Terutama Festival Danau Toba (dulu Pesta Danau Toba), masih berubah-ubah jadwalnya setiap tahun. Bagi wisatawan asing ini menjadi kendala, sebab biasanya perjalanan sudah dirancang jauh hari.
Namun S. Pendit menegaskan produk pariwisata tanpa adanya keramahtamahan (hospitality) adalah mati. Sebagus apapun paket wisata yang ditawarkan, tapi orangnya kasar, dan jutek, maka semua sia-sia. Keramahtamahan adalah roh dari pariwisata itu sendiri. Penelitian Katan, mengungkapkan turis asing berkunjung ke Indonesia terutama karena masyarakatnya ramah.
Turis yang datang ke Danau Toba diharapkan mengulangi kunjungannya di masa depan dan merekomendasikan ke orang lain. Strategi pemasaran terbaik adalah "word of mouth" (WOM), dari mulut ke mulut. Rekomendasi dari rekan sangat memengaruhi putusan memilih destinasi wisata.
Bagaimana membuat seorang turis melakukan WOM tentang Danau Toba? Tentu saja, mereka harus terlebih dahulu terkesan dengan keramahtamahan dan produk wisata Danau Toba. Jika mereka kecewa, meski keindahan Danau Toba tak berubah, maka turis enggan merekomendasi. Malah mereka akan mengampanyekan agar jangan datang ke Danau Toba.
Jadi keramahtamahan harus menjadi budaya bagi setiap pelaku wisata di Danau Toba. Membangun infrastruktur adalah urusan pemerintah, tetapi menunjukkan keramahtamahan adalah urusan setiap orang. Semua mesti ramah, sebab perilaku segelintir orang saja bisa merusak citra positif Danau Toba.
Mari jujur terhadap diri sendiri. Sudahkah pelaku wisata Danau Toba ramah terhadap turis? Harus diakui, masih ditemukan beberapa kasus ketidakramahan. Antara lain, harga kamar tak sesuai layanan, dan turis ditipu dengan berbagai modus. Masih ada "aji mumpung" (memanfaatkan kesempatan) untuk meraup keuntungan tak wajar dari wisatawan.
Pembangunan fisik yang saat ini gencar di Danau Toba harus diimbangi penyemaian keramahtamahan bagi warga Danau Toba. Belum terlambat untuk memulainya dari sekarang. Libatkan guru-guru, agamawan dan budayawan untuk mengampanyekan sekaligus menjadi panutan beramah tamah dengan turis.(Penulis adalah dosen di Akademi Pariwisata dan Perhotelan Darma Agung Medan. Tulisan adalah sikap pribadi, tidak mencerminkan institusi)