Medan (Pelita Batak) :
Untuk keempat kalinya kelompok Svara Sacra Choirs (SSC) mementaskan pertunjukan seni dengan konsep choral drama. Sebagaimana pertunjukan sebelumnya, ide pembuatan naskah ini bersumber dari Buku Ende. Buku Ende sendiri adalah kumpulan lagu-lagu gereja dalam bahasa Batak Toba yang biasa dilantunkan oleh umat Kristiani, khususnya ketika sedang beribadah.
Buku Ende menjadi perhatian khusus kelompok seni yang dimotori oleh Ir. Donald Tobing & Dr. Victor Lumbanraja MSP, MAP ini. Sejak berdiri tahun 2013, SSC rutin menggali potensi kreatif demi mengaransemen Buku Ende itu dalam format yang lebih estetis. Karya-karya itu pun sudah ditampilkan di berbagai kota di Indonesia.
Pementasan pertamanya digelar di Tiara Convention Hall Medan 2013 silam. Tahun berikutnya Bandung dan Jakarta. Sedangkan untuk tahun ini, pementasan akan digelar di Plenary Hall, Medan International Convention Center (MICC) 29 Oktober 2016. Pementasan itu mereka beri judul, “The Story of Buku Ende” : Hymns from The Batakland.
Naskah pementasan ditulis oleh Rithaony Hutajulu dan Irwasnyah Harahap. Keduanya sekaligus bertindak sebagai co-director dan music director. Sedangkan garapan multimudia designer ditangani oleh penulis dan aktivits film, MJA Nashir.
Dalam siaran persnya, Rithaony Hutajulu menjelaskan pementasan kali ini difokuskan pada penguatan artistis. Di antaranya dengan memperkaya scene-scene pada alur cerita dan ilustrasi visual. Selain itu, hadirnya orkestrasi akustik Barat diharapkan membuka ruang eksplorasi audiotis yang lebih luas. Dengan demikian pesan yang ingin disampaikan mudah diserap penonton dari berbagai latar belakang yang berbeda.
Disebutkannya, pementasan ini sudah disiapkan sejak Februari lalu. Mulai dari rehearshal paduan suara secara intensif sampai penataan ulang tata ruang dan cahaya. Hal-hal menyangkut multimedia juga mendapat perhatian khusus.
Pementasan ini akan melibatkan sekitar 120 orang pemeran. Terdiri dari paduan suara, solis, para pelakon drama dan para musisi tradisional (uning-uningan dan gondang sabangunan) serta kelompok orchestra Barat.
Beberapa musisi yang terlibat pementasan ini antara lain, musisi tradisi legendaris Batak Toba Marsius Sitohang (Si Raja Seruling). Ken Steven (music conductor) lulusan The Asian Institute for Liturgy and Music Philippines. Horas Simangunsong (sebagai choral choach) Tanaka Manalu (sebagai composer/arranger lulusan Institut Seni Jogjakarta).
Diana Tobing (soprano solist) dan Ernest Simatupang (tenor solist). Gok Parasian Malau (pemenang Bintang Radio tingkat Provinsi Sumatera Utara 2013 dan peserta The Voice 2016) dan Niesya Harahap vokalis dan penari muda anggota kelompok Suarasama dan Mataniari yang pernah ikut pentas di New Zealand dan Jerman.
Sumber Insipirasi
Sebagian besar lagu dalam Buku Ende dibawa oleh misionaris Jerman ke Tanah Batak. Namun tidak sedikit yang bersumber dari lokalitas masyarakat Batak itu sendiri. Kekayaan folklore yang dicipta maupun dipopulerkan Tilhang Gultom itu, ikut memperkaya Buku Ende.
Justru hibriditas itu yang membuat Buku Ende menjadi kaya. Baik dari aspek falsafah, budaya, ideologi dan bahasa. Buku Ende dianggap sebagai kumpulan nyanyian yang hidup, selaras dengan perkembangan zaman. Klasifikasi Buku Ende seidaknya memperlihatkan 4 aspek. Pertama, memperkenalkan siapa Allah. Kedua, membuka tabir manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Ketiga, sifatnya yang menggembalakan setiap orang yang menyanyikannya. Keempat, nyanyiannya yang menyegarkan jiwa manusia. (TAp/Rel)