Natal Nasional 2016 Dilaksanakan di Dolok Sanggul

Sutrisno Pangaribuan dan Janter Sirait Nilai Pemilihan Tempat Natal Nasional 2016 Miliki Nilai Historis

Administrator Administrator
Sutrisno Pangaribuan dan Janter Sirait Nilai  Pemilihan Tempat Natal Nasional 2016 Miliki Nilai Historis
Medan (Pelita Batak) :

Kalangan DPRDSU, Sutrisno Pangaribuan ST dan Janter Sirait SE menyambut baik serta mengapresiasi rencana Pemerintah melaksanakan perayaan Natal Nasional 2016 di Dolok Sanggul. "Tentu ini kita sambut secara positif. Rencana melakukan perayaan Natal Nasional 2016 di Sumut dan pertama kalinya di luar Jakarta, apalagi itu bukan di Ibukota Propinsi malah di kampung yang tersembunyi,"ujar Sutrisno menanggapi rencana Pemerintah menggelar perayaan Natal Nasional 2016 yang  dipusatkan di luar Jakarta dan dihadiri oleh Presiden Joko widodo.

Lebih lanjut Sutrisno mengatakan, Pemilihan Tempat Di Dolok Sanggul Itu Sangat Berkaitan Dengan Makna kelahiran Yesus Kristus sendiri. Sebab, Yesus sendiri justru lahir di tempat yang hina malahan yakni di kandang domba dan bukan di tempat yang mewah.

Sutrisno melihat kesamaan konteks tersebut, ia berharap agar pelaksanaan Natal di Dolok Sanggul 27 Desember mendatang juga harus dilakukan sederhana dan tidak lari dari makna Natal yang sesungguhnya. Artinya, jangan sampai ada misalnya keinginan-keinginan-keinginan paniti membuat sesuatu yang berlebihan.

Kata Sutrisno, kesederhanaan harus menjadi thema perayaan Natal Nasional tahun 2016. Apalagi, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo adanya pengurangan Dana Alokasi Umum (DAU), karena kondisi ekonomi saat ini juga belum sepenuhnya baik.

Sehingga kesederhanaan harus menjadi thema besar perayaan Natal nanti. Dengan demikian makna Natal itu dapat dirasakan dan menyentuh semua orang. Kemudian, pemilihan tempat itu juga memberi pesan bahwa sesungguhnya memang berkaitan dengan thema besar pembangunan lima kawasan Danau Toba. Karena melihat dari rangkaian-rangkaian kegiatan yang dilakukan Presiden dari waktu sebelumnya, Dolok Sanggul juga kini menjadi salah satu perhatian Presiden.

Sutrisno menilai, bahwa kegiatan Natal  ini juga merupakan salah satu wujud dari sebuah komitmen Presiden Jokowi. Karena, Jokowi memang tak henti-henti memberikan perhatian dan mengunjungi tempat-tempat yang jauh.

Oleh karena itu, lanjut Sutrisno, perayaan Natal nantinya diharapkan harua berbeda dengan kunjungan-kunjungan yang dilakukan boleh Presiden Jokowi selama ini di Kawasan Tapanuli dan Sumut. Jadi, seluruh lapisan masyarakat khususnya Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemkabnya diharapkan tidak hanya berbenah pada moment itu saja dan menampilkan hal-hal yang berlebihan.

Sutrisno berpendapat, yang perlu ditunjukkan kepada Presiden adalah perubahan-perubahan yang mendasar dari sisi mentalitas. Dikatakannya, Natal nanti harus dirayakan dengan sebuah proses perubahan mental sesuai dengan pesan-pesan dan kehadiran Presiden Joko Widodo selama ini.

Sehingga, masyarakat Sumut harus ada pembebasan dari mentalitas selama ini, misalnya tidak lagi mendapati pelayanan publik yang bertele-tele, termasuk berkonfirasi dengan perusahaan-perusahaan pengrusak lingkungan. Dengan demikian, setelah Natal nanti ada sukacita luar biasa yang dirasakan, dan kehadiran Presiden betul-betul bisa dimaknai sebagai kehadiran Juru Selamat pada konteks jaman ini.

Hal serupa disampaikan oleh Janter Sirait. Disebutkannya, warga Sumut patut mensyukuri moment ini. Tentu, warga Sumut juga harus tetap menjaga kerukunan umat beragama.

Sependapat dengan Sutrisno, Janter berharap, perayaan Natal tersebut dilaksanakan dengan kesederhanaan agar tidak lari dari makna natal yang sesungguhnya. Yakni, yang terpenting adalah bagaimana natal itu dapat menyentuh semua orang dan membawa kebahagian di semua lapisan.

Menurut Janter, yang membuat Dolok Sanggul menjadi tempat yamg dipilih.dalam perayaan ini juga dikarenakan masyarakat Sumut Khususnya Tapanulu menjunjung tinggi nilai kerukunan umat beragama.

Janter berharap, masyarakat Sumut Khususnya warha Kristen setelah Natal tersebut nantinya dapat meningkatkan implementasi keimanan, pengharapan dan kasuh. Kata Janter, Umat Kristiani harus mampu menciptakan kedamaian di tengah masyarakat. (TAp/BK)
Komentar
Berita Terkini