Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah 2

Administrator Administrator
Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah 2
Ist
Pdt Robinson Butarbutar

Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP



II. Peran politis warga HKBP: Tinjauan Alkitabiah


A. Luasnya ruang tinjau, pembatasan bahas

Secara defenisi apa yang dikandung dalam kata politik (yang berasal dari kata polis = seluruh penduduk

di satu tempat, daerah,kota, dan politeia = urusan yang kait mengait dengan kepentingan kehidupan 

seluruh penduduk) adalah segala urusan, tindakan dan kegiatan yang dimaksudkan untuk

memaslahatkan seluruh penduduk di satu daerah atau kota, maka peran politik warga HKBP di Distrik 

Tanah Jawa bukanlah dimaksudkan untuk kepentingan diri sendiri saja, melainkan untuk kepentingan 

seluruh penduduk. Hal itu didasarkan pada ajaran Yesus tentang mengasihi sesama sama seperti 

mengasihi Allah. Di dalam pemahaman sedemikian, maka tugas penulis adalah mengungkapkan 

bagaimana Alkitab menggambarkan peran dan tanggung aktif politis umat Allah sebagaimana disaksikan 

oleh Alkitab di dalam menyelenggarakan hal-hal yang tujuannya adalah untuk menyejahterakan 

umatNya, untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan hanya di dalam komunitas keturunan Abraham 

dari Ishak semata, tetapi juga terhadap komunitas lainnya.


Kita mengetahui bahwa Alkitab mengungkapkan bukan hanya tentang bagaimana Allah melakukan hal-hal yang baik untuk kepentingan hidup manusia dan ciptaan Allah lainnya khususnya terhadap umatNya, 

tetapi juta tentang bagaimana umat Allah berperan di dalam melaksanakan kehendak Allah yang baik 

untuk mereka. Umat dimaksud di dalam Perjanjian Lama adalah umat manusia seluruhnya, secara 

khusus umat pilihanNya, yaitu keturunan Abraham dari Sarah, yang kemudian bernama Israel. 


Sementara yang dimaksud umatNya di dalam Perjanjian Baru adalah para pengikut Yesus Kristus, 

anggota tubuhNya yang berasal dari beraneka bangsa di tempat-tempat yang dikuasai oleh Kekaisaran 

Romawi yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias.

Tempat mencari penampakan perspektif Alkitab tentang peran politis umat Allah di dalam Alkitab 

Perjanjian Lama itu cukup luas. Jika kita memerhatikan kehidupan umat dimaksud di dalam Perjanjian 

Lama, terdapat proses perjalanan yang panjang yang dialami oleh umat Allah yang diceritakan di sana. 


Hal itu dimulai pada masa awal jauh sebelum bapak-bapak leluhur Israel ada, yaitu pada masa setelah 

Adam dan Hawa diciptakan maupun para keturunannya pada masa awal. Hal itu kemudian dilanjutkan 

pada kehidupan para bapak leluhur Israel yang hidup di dalam masyarakat yang nomaden, yaitu yang 

berpindah-pindah di dalam perjalanan yang panjang dari dan menuju tanah Kanaan. Di sini tindakan 

politik dilakukan di dalam konteks keluarga, yang dilanjutkan dalam konteks kepala-kelapa suku, dan 

hakim-hakim yang dikenal dengan masa transisi menuju terbentuknya kerajaan Israel yang kemudian 

terbagi dua sampai masa sebelum pembuangan Israel Utara dan Israel Selatan. Di sana raja-raja sangat 

berperan dan para nabi sebagai rakyat biasa dan sebagai keturunan imam melakukan tugas politiknya 

mengoreksi tindakan para raja yang tidak lagi mengutamakan kemaslahatan umat, malah sebaliknya 

telah menindas rakyat teristimewa kaum kecil dan miskin. Lebih lanjut tindakan politik dilakukan pada 

masa pembuangan maupun sesudah kembali dari pembuangan hingga masa akhir Perjanjian Lama pada 

abad kedua sebelum Masehi. 

Di sana peran politis itu ditinjukkan tidak hanya terkait hubungan di 

antara sesama Israel semata, tetapi juga terkait hubungan mereka terhadap bangsa-bangsa sekitar yang 

ada di sekitar mereka, dan juga yang hidup bersama mereka pada waktu yang berbeda-beda, baik ketika 

belum menjadi suatu bangsa dari suatu kerajaan, maupun saat hidup di dalam sistim kerajaan, dan saat 

menjadi pengungsi di tengah-tengah bangsa lain yang menaklukkan mereka maupun bangsa lainnya. 

Demikian halnya dengan isi Kitab Perjanjian Baru yang menuliskan tentang gerakan Yesus di Palestina 

(Galilea dan Judea), suatu propinsi kekaisaran Romawi yang menguasai bangsa Jahudi, maupun gerakan 

para pengikut Yesus yang bergerak dari Palestina ke diaspora di kota-kota dan propinsi Romawi yang 

memiliki sistim politik patron-klien yang cukup tersusun rapi dengan adanya kesatuan, keamanan dan 

kesejahteraan (pax-Romana). 

Gerakan Yesus di Palestina dituliskan oleh keempat kitab Injil, pergerakan 

para pengikutnya dituliskan di kitab Kisah Rasul-rasul, dan tentang kehidupan kumpulan orang-orang 

yang mengaku Yesus (Baca: jemaat-jemaat di rumah-rumah para patron Kristen) di sana dituliskan di 

dalam surat-surat, baik yang ditulis sebelum injil-injil ditulis (yaitu surat-surat asli dari rasul Paulus) 

maupun yang ditulis pada saat yang bersamaan dengan penulisan injil Lukas dan Mateus, dan Yohannes 

maupun sesudah penulisan injil Markus, yaitu surat-surat lainnya yang ada di dalam Perjanjian Baru. 


Memang ada injil-injil lain dan surat-surat lain yang pernah dituliskan, dari mana kita dapat mencari tahu 

tentang peran politik orang-orang Kristen, tetapi karena mereka tidak masuk kanon Perjanjian Baru kita 

tidak menggunakannya di sini. 

Di dalam kitab-kitab Injil kita mengetahui ajaran-ajaran Yesus tentang bagaimana para pendengarnya, 

khususnya para muridnya seharusnya melakukan peran politisnya di Palestina (Galilea dan Judea) yang 

dipimpin oleh tiga pemerintahan (procurator Romawi yang diangkat oleh Kaisar, para raja-raja keluarga 

Herodes yang merupakan klien Kaisar, dan pemimpin Judaisme yang berpusat di Bait Allah yang 

dipimpin oleh Imam Besar dan ditopang oleh kaum elite lainnya seperti kaum Sadusi, Farisi dan rabi 

yang adalah ahli-ahli Taurat). Di dalam surat-surat kita memiliki ajaran-ajaran rasul dan para murid rasul 

dari generasi kedua Kekristenan yang diungkapkan untuk menuntun bagaimana anggota komunitas 

Kristen di rumah-rumah yang berada di aneka propinsi Romawi di diaspora itu melakukan peran aktif 

politis mereka pada saat ketika komunitas agamawi Kristen itu masih belum diakui oleh Kekaisaran 

Romawi sebagai kumpulan agamawi yang statusnya sejajar dengan agama Judaisme maupun agama-agama Romawi maupun Yunani. 

Surat-surat Perjanjian Baru itu mengungkapkan bagaimana ajaran 

Kristen tentang peran politis orang Kristen di tengah-tengah kekaisaran Romawi dilakukan, di mana 

mereka merupakan penduduk (ada penduduk dengan hak kewarganegaraan, ada penduduk tanpa 

kewarganegaraan Romawi), pada masa ketika orang-orang yang dengannya mereka berinteraksi bertindak tidak toleran terhadap keberadaan dan praktek agamawi mereka, hingga pada masa ketika 

pejabat-pejabat Romawi secara belum diaturkan oleh Kaisar menimbulkan kesulitan-kesulitan berarti 

terhadap para penyembah Yesus dan pengikut ajaran-ajarannya, dan hingga pada masa ketika Kaisar 

sendiri menjadi pihak yang bertanggung jawab dan berkepentingan pada pengejaran dan penganiayaan 

para pengaku Yesus.

Mengingat terbatasnya waktu dan luasnya daerah tinjauan kita untuk mencari tahu bagaimana peran 

dan tanggung jawab politis dilakukan maupun diajarkan di dalam kedua kitab Perjanjian itu, Perjanjian 

Lama dan Perjanjian Baru atau kitab Perjanjian Pertama dan Kitab Perjanjian Kedua itu, tentu di dalam 

tulisan ini kita tidak dapat memeriksa dan menyajikan seluruhnya. Penulis akan menyajikan beberapa 

contoh dari peran politik tersebut. Pada dasarnya Alkitab berisikan nilai-nilai, ajaran-ajaran dan 

kesaksian-kesaksian tentang kegagalan terhadap dan keberhasilan dari pelaksanaan nilai-nilai yang 

disampaikan dan dirumuskan/diungkapkan untuk kemaslahatan manusia, yang dilakukan dengan 

kegiatan politis. Alkitab berisikan kegiatan-kegiatan manusia dasar manusia seperti makanan, minuman, 

sumber-sumber eknomi yang mencoba mengatasi masalah-masalah. Tetapi Alkitab juga 

mengungkapkan interaksi di antara sesama manusia, di mana memang terjadi ketegangan-ketegangan 

di antara satu sama lain., malah hingga konflik dan perang, tetapi di dalam ketegangan-ketegangan itu-

yang terjadi akibat satu atau beberapa pihak hanya memikirkan diri sendiri- diajarkan bagaimana agar 

terjadi perdamaian, keadilan serta kesejahteraan semua pihak, malah bukan saja kesejahteraan dari 

manusia saja, tetapi juga ciptaan lainnya.


B. Tinjauan Alkitabiah tentang peran politis: Beberapa pengalaman pilihan


1. Masa awal

(a) Berteriak kepada Allah melawan penghilangan hidup.


Pada masa awal tindakan politis manusia sang ciptaan Allah, Alkitab telah menunjukkan tindakan politis 

manusia yang tidak menyejahterakan sesamanya, sebaliknya mencelakan malah menghilangkan hidup 

sesamanya. Ketimbang menjagai saudaranya dengan mengatasi perbedaan pengalaman penerimaan 

Allah terhadap persembahan Habel dan Kain, Kain menghilangkan hidup saudara kandungnya, 

sesamanya petani dan peternak. Pada peristiwa di mana tidak ada saksi lain untuk secara politis 

meminta pertanggung jawaban dari Kain, ada dua peran politis yang dicatat pada Kejadian 4: 8-12, yang 

pertama dilakukan oleh pihak yang hidupnya di bumi telah dihilangkan, Habel, dan yang dilakukan oleh 

pihak Allah. 

Ternyata, Habel yang terbuat dari tanah itu tidak tinggal diam di alam kematian. Darah, yang 

merupakan kehidupan itu sendiri- mungkin belum kering tetapi tercurah di tanah di mana Habel 

ditemukan mati terbunuh-tidak tinggal diam. Darahnya (Ibrani: demey) ternyata berteriak (Ibrani: 

tsoaqim) kepada Allah (4: 8). Allah yang mendengar teriakan menuntut keadilan itu bertindak 

menghukum penghilang hidup, Kain. Adalah menarik di sini bahwa hukuman itu tidak menghilangkan, 

tetapi membuat hidup Kain sulit (4: 11-16). Hal berteriak (Ibrani: tsaaqatam, Kel 3:8) ini juga 

merupakan tindakan peran politis yang dilakukan oleh umat Israel di negeri Mesir yang mendapat 

penindasan. 

Tindakan politis berteriak itu didengar oleh Tuhan yang menolak ketidakadilan dan 

memberlakukan keadilan. Warga yang diam seribu bahasa dan berpangku tangan mengalami dan 

mengalami ketidakadilan di dalam masyarakat di mana ia merupakan penduduk tidak memainkan peran 

politisnya untuk memastikan kemaslahatan penduduk. Penguasa yang membiarkan warga atau penduduknya yang ditindakadili hingga kehilangan nyawanya juga bukan merupakan tindakan politis 

yang benar.


(b) Tunduk pada Allah menyelamatkan umat manusia dan ciptaan lainnya: Noah, Kej 6: 1-9: 22)


Menyadari akan rencana Allah untuk memusnahkan penduduk bumi yang melakukan kejahatan, Noah 

melakukan peran politisnya untuk memastikan adanya keturunan manusia setelah air bah. Ia melakukan 

apa yang Allah katakan untuk ia lakukan, mulai dari membangun bahtera dan melakukan hal-hal yang 

Allah sebutkan padanya sampai waktu segala penumpang bahtera diijinkan keluar dari bahtera itu ketika 

air bah sudah benar-benar surut. 


2. Masa Para Leluhur Israel: Masyarakat Nomaden


a. Berpisah untuk kemaslahatan masing-masing: Abraham dan Lot, Kej 13: 1-13

Menghadapi tidak mencukupinya kebutuhan makanan dan minuman untuk ternak-ternak mereka, 

tindakan politis yang diambil oleh Abraham dan Lot. Mengambil prakarsa untuk mengatasi konflik kini 

dan masa depan tidak dengan pertumpahan darah, melainkan dengan perpisahan, dilakukan oleh 

Abraham.


b. Mengungsi menghindari pembunuhan, bertemu menciptakan perdamaian: Yakub dan Esau


Di dalam interaksi politis di antara sesama anggota masyarakat pertanian dan peternakan konflik di 

antara sesama anak dari seorang ayah dan ibu merupakan keniscayaan. Penyebab konflik itu beraneka. 


Ada karena yang satu lebih cerdik dari yang lain, sehingga yang kalah cerdik kehilangan 

keistimewaannya. (atak: "Nabisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan"). Bagaimana menghindari 

konflik yang berakibat pada penghilangan nyawa pada masa emosional, tetapi kemudian menyelesaikan 

konflik lama dengan pertemuan untuk menciptakan perdamaian diungkapkan pada Kej 25: 19-28, 27: 1-

40,27: 41-28:9; 32: 1-33:33) pada diri Yakub dan saudaranya Esau.


Tindakan politis yang dilakukan Rebekka dengan menasehati Yakob melakukan tipu muslihat terhadap Ishak sehingga mengambil berkat yang seharusnya diserahkan pada Esau dan mengakibatkan amarah Esau yang telah didahului Yakub harus dibayar oleh Rebekka dengan menyuruh Yakub mengungsi dari tanah Kanaan ke Haran, negeri pamannya Laban. Tindakan politis yang dilakukan oleh Laban menyundangi Yakub dengan tidak 

memberikan Rachel melainkan Lea menjadi istri pertamanya dan tidak memberikan pada Yakub upah 

kerjanya secara wajar (Kej 31: 38-42) direspon oleh Yakub dengan tindakan politis yang merobah 

makanan ternak sehingga menguntungkannya (Kej 30: 37-43) dan akhirnya melarikan diri dari hadapan 

Laban yang menganggap Yakub sebagai miliknya. Di dalam pelarian, Yakub yang diancam pengejaran 

Laban dari satu arah mengadakan perjanjian dengannya, dan menghadapi pengejaran saudaranya Yakub 

dari arah lain memaksa Yakub untuk keluar dari kematian dengan mengadakan prakarsa perdamaian 

dengan saudaranya Esau. 


Perjanjian Laban dan Yakub:

"Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau..Tuhan kiranya 

berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan. Jika engkau mengabaikan anak￾anakku, dan jika engkau mengambil istri lain di samping anak-anakku itu, ingatlah, walaupun tidak ada orang dekat kita, Allah yang menjadi saksi antara aju dan engkau..Aku tidak akan 

melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkau pun tidak akan melewati timbunan batu dan tubu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat. Lalu Yakub bersumpah 

demi yang Disegani oleh Ishak, azaynya" (Kej 31: 48-53).

Prakarsa pertemuan yang dilakukan oleh Yakub untuk saudaranya Esau telah menghasilkan amarah Esau 

berobah menjadi kasih sayang terhadap adiknya yang sujud di dekatnya: "Tetapi Esau berlari 

mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluhnya lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah 

mereka" (Kej 33: 4). Hal yang berbeda dilakukan kemudian oleh anak-anak Yakub yang membalaskan 

kejahatan dari Sichem anak Hamor orang Hewi terhadap saudari mereka Dina. Dengan tipu muslihat 

mereka membunuh seluruh orang Hewi, suatu tindakan politis yang dilihat Yakub mendatangkan 

kebusukan pada Namanya (Kej 34: 30).


c. Merubah tindakan jahat saudaranya padanya dengan kebaikan menjamin kelangsungan hidup

banyak penduduk: Yakub (Kej 41-47). 

Mendapat tindakan politis penganiayaan oleh saudara-saudaranya terhadapnya tidak membuat 

keberuntungan ahli ekonomi Yakub, yang mendapat anugerah penyertaan Allah dan kuasa dari raja 

Mesir menjadi orang kedua setelah raja mendatangkan kesulitan pada saudara-saudara anak dari 

ayahnya maupun keturunan mereka. Sebalinya, tindakan politis yang besar yang dilakukannya adalah 

menyediakan bahan makanan dan tempat tinggal yang subur untuk saudara-saudaranya dan seluruh 

keturunan ayahnya, maupun untuk penduduk seluruh negeri Mesir dan negeri-negeri di sekitarnya yang 

menghadapi bencana kelaparan berkepanjangan (7 tahun). 

Hal itulah yang menjadi alasan mengapa 

dirinya diberi nama Mesir oleh Firaun, Zaphnath-Paaneach (Kej 41: 45), yang berarti Penyedia 

pertahanan hidup, walaupun ia berusia hanya 30 tahun. Dari ungkapannya yang tercatat pada Kej 45: 4-

8 nampak seorang yang melihat pengalaman pahitnya sebagai jalan untuk kemaslahatan banyak orang 

dalam masa bencana kelaparan: "Akulah Yusuf, saudaramu yang kamu jual ke Mesir. Tetapi janganlah 

bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara 

kehidupalah Allah menyuruh kau mendahului kamu..Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu 

untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di buni ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian 

besar dari padamu tertulong. Jadi bukan kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah...Dialah yang 

menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas 

seluruh tanah Mesir."

Ungkapan Yakub itulah yang merupakan inspirasi bagi para pejabat yang mendapat tugas untuk 

memastikan keberlangsungan kehidupan. Yusuf bisa saja bertindak berbeda dari hal itu. Tetapi ia 

memilih aktif melakukan kehendak Allah untuk memelihara kehidupan. 


3. Masa keluar dari perbudakan menuju dan tinggal menetap di Kanaan


a. Pentingnya partisipasi rakyat tertindas untuk bebas 


Dapat dipahami bahwa kisah pembebasan bangsa Israel keluar dari 400 tahun perbudakan di Mesir (Kel 

12: 40-41) dititik beratkan pada tindakan Jahwe yang merespon teriakan umat Israel di Mesir dengan 

menugaskan Musa yang didampingi saudaranya Harun yang diberi kuasa ilahi yang luar biasa untuk 

membebaskan mereka. Tindakan politis Allah yang membebaskan tidak dapat dipandang rendah, mirip 

dengan tindakannya menyelamatkan seluruh keluarga besar Lot dari pembumi hangusan kota Sodom dan Gomorra dengan juga menari tangan istrinya dan kedua putrinya dan memaksa mereka keluar dari 

kota itu dan menbyuruh mereka lari untuk tidak melihat kebelakang sebelum hukuman dilaksanakan Akan tetapi adalah penting juga untuk menekankan bahwa tindakan penyelamatan oleh Allah itu 

ditopang juga oleh usaha-usaha Allah lewat Musa dan Harun untuk meyakinkan umat Israel terperbudak 

itu untuk mau ikut keluar dari pembuangan Mesir, dan kemudian ketika di Padang Gurun untuk kuat 

menjalani perjalanan ke tanah Kanaan yang penuh tantangan tanpa bersungut-sungut dan kembali ke 

perbudakan di Mesir, atau menyembah allah emas walaupun telah mengalami tindakan Allah yang besar 

di dalam pembebasan mereka. 

Musa yang mengangkat pertanyaan pada Tuhan bagaimana caranya meyakinkan umat Israel yang telah mengetahui tindakannya membunuh orang Mesir yang menganiaya orang Israel semasa kerja paksa dan 

karena itu telah melarikan diri dari Mesir, bahwa ia datang membawa mandate dari Allah yang dikenal 

oleh bangsa itu yang sudah lama hidup di negeri Mesir, negara di mana Allahnya Abraham tidak dikenal. 


Jawaban Tuhan pada Musa merusaha menagkal keraguraguan rakyat pada mandate yang Musa terima 

dari Tuhan (Kel 3: 13-14; 4: 1, 5, 8, 9-14). Ketika Musa dan Harun berbicara dengan orang-orang Israel di 

Mesir melalui para wakil-wakil utama mereka, menyampaikan pesan Tuhan kata demi kata dan juga 

melakukan tanda muzijat di hadapan mereka, mereka pun percaya, berlutut dan berdoa pada Tuhan (Kel 

25: 31). 


Pada pelaksanaannya, ketika raja Firaun memersulit kondisi perbudakan setelah mendengar rencana 

dan permohonan Musa, merekapun bersungut pada Musa (Kel 5: 15-120). Mereka berkata: "Kiranya 

Tuhan memerhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama 

kami kepada Firaun dan hamba-hambaNya dan dengan demikian kamu memberikan pisau kepada mereka 

untuk membunuh kami" (Kel 5: 21). Malah ketika setelah mereka keluar dari Mesir bala tentara Firaun 

mengejar mereka dengan kuda dan kereta Firaun maupun orang-orang berkuda berikut pasukannya, 

orang Israel masih berkata begini: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa 

kami untuk mati di padang gurun ini?...Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah 

mengganggu kami dan biarlah kamu bekerja pada orang Mesir. 

Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja 

pada orang Mesir daripada mati di padang gurun ini" (Kel 14: 12). Dan ketika minuman di padang gurun tidak tersedia di Mara dan di Elim, mereka mengungkapkan begini: "Apakah yang akan kami minum"

(Kel 15: 24)? "Ah, jalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk 

menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke 

padang gurun ini untuk membunuh seluruh Jemaah ini dengan kelaparan"(Kel 16: 3). Di Masa dan 

Meriba, "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum" (17: 2). Ketika Musa tak kunjung turun 

dari gunung Sinai, mereka berkata kepada Harun, "Mari, buatlah unuk kami allah, yang akan berjalan di 

depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir- kami tidak tahu 

apa yang telah terjadi dengan dia" (Kel 32: 1).


Malah ketika menghadapi kesulitan sangat berarti dalam usaha memasuki tanah Kanaan dari bangsa-bangsa yang berada di sana, yang kelihatan lebih kuat dari mereka, mereka berkata: "Ah sekiranya kami 

mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya 

kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami 

pulang ke Mesir?... Baiklah kita mengangkat seorang pemipin, lalu pulang ke Mesir" (Bil 14: 2-4). Itulah 

sebabnya pada Kitab Ulangan mereka diperhadapkan dengan pilihan taat dan setia pada Tuhan atau 

tidak, jika taat mendapat berkat, jika tidak mendapat kutuk (Ul 1-32). Hal sama diingatkan oleh Yosua 

pada Yosua 24: 19-24. 

Walaupun mereka pada setiap kesempatan merespon secara positif permintaan 

agar taat, toh di dalam pelaksanaannya mereka ditemukan tidak setia.Partisipasi aktif orang-orang Israel terhadap tindakan politik pembebasan mereka dari perbudakan di 

Mesir dengan kuat kuasanya boleh dikatakan dapat diragukan dan tak sanggup menghadapi tantangan 

pada proses dan paska pembebasan yang harus dijalani pada awalnya dengan hidup yang 

berkekurangan. Seharusny mereka berpartisipasi lebih aktif, tidak sebalik memersalahkan Musa yang 

telah membawa mereka keluar dari perbudakan. Hal itulah yang menyebabkan mengapa perjalanan 

mereka di padang gurun menuju tanah perjanjian memakan waktu 40 tahun lamanya.


b. Hidup di dalam hukum-hukum Allah


Di dalam kehidupan bangsa Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan diatur bagaimana interaksi 

sosial dan politis di antara bangsa itu dan di antara mereka dengan Tuhan. Sebagai bangsa pilihan Tuhan 

mereka diikat oleh perjanjian dengan Allah yang dapat berlangsung terus menerus jika mereka 

melakukan hukum-hukum yang diberikan oleh Allah kepada mereka lewat Musa. Hukum-hukum itu 

diatur sedemikian jelas dan jelimet untuk memastikan bahwa hubungan mereka yang baik dengan Allah 

dapat dinampakkan dalam hubungan mereka yang baik dengan sesamanya manusia. Kitab Keluaran 

hingga kitab Ulangan berisikan sejarah penerimaan dan isi dari hukum-hukum itu dengan segala 

pernyataan tentang berkat bagi yang melakukannya dan hukuman atau kutuk bagi yang tidak 

melakukannya. Berdasarkan hukum-hukum itulah diatur kehidupan sosial, ekonomi, politis dan agama 

dari bangsa itu. 


c. Respons positif terhadap panggilan Allah membebaskan umat: Masa Transisi di bawah Hakim-hakim


Setelah Musa dan Josua berlalu, sementara tugas memasuki tanah Kanaan belum selesai, ketika akibat 

dari pelanggaran-pelanggaran mereka terhadap janji mereka kepada Allah umat Israel ditaklukkan oleh 

bangsa-bangsa di sekitarnya, Allah mengadakan tindakan politis membebaskan mereka ari pengaruh 

dan kekuasaan para raja bangsa-bangsa itu berkali-bali dengan memanggil dan menugaskan para Hakim

yang memimpin militer dan juga bertindak sebagai hakim yang bertindak menurut pandangan sendiri 

berdasarkan hukum Taurat, tanpa suatu pemerintahan pusat. Dari enam belas Hakim Israel pada abad 

tahun 1405-1025 Sebelum Masehi, satu di antaranya yang dapat kita sebut sebagai contoh peran aktif 

perempuan di dalam menaklukkan raja bangsa lain yang mengancam umat Israel adalah Debora seorang 

nabiah yang berhasil mengatasi ketakutan Barak, seorang jenderal yang tidak berani menghadapi 

musuh, dengan dirinya sendiri ikut berperang melawan Sisera. Debora sebaliknya mampu mengalahkan 

Sisera. Hal itu diungkapkan pada Hakim-hakim 4-5 sehingga bangsanya hidup dengan aman selama 40 

tahun (Hakim 5: 31c). Pada seluruh tindakan para hakim, mereka melakukan pembebasan tanpa 

menyaratkan perobahan perilaku moral umat yang mereka pimpin. Penyelamatan rakyat dari kekuasaan 

asing mengutama. (Bersambung)

Komentar
Berita Terkini