Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP
II. Peran politis warga HKBP: Tinjauan Alkitabiah
A. Luasnya ruang tinjau, pembatasan bahas
Secara defenisi apa yang dikandung dalam kata politik (yang berasal dari kata polis = seluruh penduduk
di satu tempat, daerah,kota, dan politeia = urusan yang kait mengait dengan kepentingan kehidupan
seluruh penduduk) adalah segala urusan, tindakan dan kegiatan yang dimaksudkan untuk
memaslahatkan seluruh penduduk di satu daerah atau kota, maka peran politik warga HKBP di Distrik
Tanah Jawa bukanlah dimaksudkan untuk kepentingan diri sendiri saja, melainkan untuk kepentingan
seluruh penduduk. Hal itu didasarkan pada ajaran Yesus tentang mengasihi sesama sama seperti
mengasihi Allah. Di dalam pemahaman sedemikian, maka tugas penulis adalah mengungkapkan
bagaimana Alkitab menggambarkan peran dan tanggung aktif politis umat Allah sebagaimana disaksikan
oleh Alkitab di dalam menyelenggarakan hal-hal yang tujuannya adalah untuk menyejahterakan
umatNya, untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan hanya di dalam komunitas keturunan Abraham
dari Ishak semata, tetapi juga terhadap komunitas lainnya.
Kita mengetahui bahwa Alkitab mengungkapkan bukan hanya tentang bagaimana Allah melakukan hal-hal yang baik untuk kepentingan hidup manusia dan ciptaan Allah lainnya khususnya terhadap umatNya,
tetapi juta tentang bagaimana umat Allah berperan di dalam melaksanakan kehendak Allah yang baik
untuk mereka. Umat dimaksud di dalam Perjanjian Lama adalah umat manusia seluruhnya, secara
khusus umat pilihanNya, yaitu keturunan Abraham dari Sarah, yang kemudian bernama Israel.
Sementara yang dimaksud umatNya di dalam Perjanjian Baru adalah para pengikut Yesus Kristus,
anggota tubuhNya yang berasal dari beraneka bangsa di tempat-tempat yang dikuasai oleh Kekaisaran
Romawi yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias.
Tempat mencari penampakan perspektif Alkitab tentang peran politis umat Allah di dalam Alkitab
Perjanjian Lama itu cukup luas. Jika kita memerhatikan kehidupan umat dimaksud di dalam Perjanjian
Lama, terdapat proses perjalanan yang panjang yang dialami oleh umat Allah yang diceritakan di sana.
Hal itu dimulai pada masa awal jauh sebelum bapak-bapak leluhur Israel ada, yaitu pada masa setelah
Adam dan Hawa diciptakan maupun para keturunannya pada masa awal. Hal itu kemudian dilanjutkan
pada kehidupan para bapak leluhur Israel yang hidup di dalam masyarakat yang nomaden, yaitu yang
berpindah-pindah di dalam perjalanan yang panjang dari dan menuju tanah Kanaan. Di sini tindakan
politik dilakukan di dalam konteks keluarga, yang dilanjutkan dalam konteks kepala-kelapa suku, dan
hakim-hakim yang dikenal dengan masa transisi menuju terbentuknya kerajaan Israel yang kemudian
terbagi dua sampai masa sebelum pembuangan Israel Utara dan Israel Selatan. Di sana raja-raja sangat
berperan dan para nabi sebagai rakyat biasa dan sebagai keturunan imam melakukan tugas politiknya
mengoreksi tindakan para raja yang tidak lagi mengutamakan kemaslahatan umat, malah sebaliknya
telah menindas rakyat teristimewa kaum kecil dan miskin. Lebih lanjut tindakan politik dilakukan pada
masa pembuangan maupun sesudah kembali dari pembuangan hingga masa akhir Perjanjian Lama pada
abad kedua sebelum Masehi.
Di sana peran politis itu ditinjukkan tidak hanya terkait hubungan di
antara sesama Israel semata, tetapi juga terkait hubungan mereka terhadap bangsa-bangsa sekitar yang
ada di sekitar mereka, dan juga yang hidup bersama mereka pada waktu yang berbeda-beda, baik ketika
belum menjadi suatu bangsa dari suatu kerajaan, maupun saat hidup di dalam sistim kerajaan, dan saat
menjadi pengungsi di tengah-tengah bangsa lain yang menaklukkan mereka maupun bangsa lainnya.
Demikian halnya dengan isi Kitab Perjanjian Baru yang menuliskan tentang gerakan Yesus di Palestina
(Galilea dan Judea), suatu propinsi kekaisaran Romawi yang menguasai bangsa Jahudi, maupun gerakan
para pengikut Yesus yang bergerak dari Palestina ke diaspora di kota-kota dan propinsi Romawi yang
memiliki sistim politik patron-klien yang cukup tersusun rapi dengan adanya kesatuan, keamanan dan
kesejahteraan (pax-Romana).
Gerakan Yesus di Palestina dituliskan oleh keempat kitab Injil, pergerakan
para pengikutnya dituliskan di kitab Kisah Rasul-rasul, dan tentang kehidupan kumpulan orang-orang
yang mengaku Yesus (Baca: jemaat-jemaat di rumah-rumah para patron Kristen) di sana dituliskan di
dalam surat-surat, baik yang ditulis sebelum injil-injil ditulis (yaitu surat-surat asli dari rasul Paulus)
maupun yang ditulis pada saat yang bersamaan dengan penulisan injil Lukas dan Mateus, dan Yohannes
maupun sesudah penulisan injil Markus, yaitu surat-surat lainnya yang ada di dalam Perjanjian Baru.
Memang ada injil-injil lain dan surat-surat lain yang pernah dituliskan, dari mana kita dapat mencari tahu
tentang peran politik orang-orang Kristen, tetapi karena mereka tidak masuk kanon Perjanjian Baru kita
tidak menggunakannya di sini.
Di dalam kitab-kitab Injil kita mengetahui ajaran-ajaran Yesus tentang bagaimana para pendengarnya,
khususnya para muridnya seharusnya melakukan peran politisnya di Palestina (Galilea dan Judea) yang
dipimpin oleh tiga pemerintahan (procurator Romawi yang diangkat oleh Kaisar, para raja-raja keluarga
Herodes yang merupakan klien Kaisar, dan pemimpin Judaisme yang berpusat di Bait Allah yang
dipimpin oleh Imam Besar dan ditopang oleh kaum elite lainnya seperti kaum Sadusi, Farisi dan rabi
yang adalah ahli-ahli Taurat). Di dalam surat-surat kita memiliki ajaran-ajaran rasul dan para murid rasul
dari generasi kedua Kekristenan yang diungkapkan untuk menuntun bagaimana anggota komunitas
Kristen di rumah-rumah yang berada di aneka propinsi Romawi di diaspora itu melakukan peran aktif
politis mereka pada saat ketika komunitas agamawi Kristen itu masih belum diakui oleh Kekaisaran
Romawi sebagai kumpulan agamawi yang statusnya sejajar dengan agama Judaisme maupun agama-agama Romawi maupun Yunani.
Surat-surat Perjanjian Baru itu mengungkapkan bagaimana ajaran
Kristen tentang peran politis orang Kristen di tengah-tengah kekaisaran Romawi dilakukan, di mana
mereka merupakan penduduk (ada penduduk dengan hak kewarganegaraan, ada penduduk tanpa
kewarganegaraan Romawi), pada masa ketika orang-orang yang dengannya mereka berinteraksi bertindak tidak toleran terhadap keberadaan dan praktek agamawi mereka, hingga pada masa ketika
pejabat-pejabat Romawi secara belum diaturkan oleh Kaisar menimbulkan kesulitan-kesulitan berarti
terhadap para penyembah Yesus dan pengikut ajaran-ajarannya, dan hingga pada masa ketika Kaisar
sendiri menjadi pihak yang bertanggung jawab dan berkepentingan pada pengejaran dan penganiayaan
para pengaku Yesus.
Mengingat terbatasnya waktu dan luasnya daerah tinjauan kita untuk mencari tahu bagaimana peran
dan tanggung jawab politis dilakukan maupun diajarkan di dalam kedua kitab Perjanjian itu, Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru atau kitab Perjanjian Pertama dan Kitab Perjanjian Kedua itu, tentu di dalam
tulisan ini kita tidak dapat memeriksa dan menyajikan seluruhnya. Penulis akan menyajikan beberapa
contoh dari peran politik tersebut. Pada dasarnya Alkitab berisikan nilai-nilai, ajaran-ajaran dan
kesaksian-kesaksian tentang kegagalan terhadap dan keberhasilan dari pelaksanaan nilai-nilai yang
disampaikan dan dirumuskan/diungkapkan untuk kemaslahatan manusia, yang dilakukan dengan
kegiatan politis. Alkitab berisikan kegiatan-kegiatan manusia dasar manusia seperti makanan, minuman,
sumber-sumber eknomi yang mencoba mengatasi masalah-masalah. Tetapi Alkitab juga
mengungkapkan interaksi di antara sesama manusia, di mana memang terjadi ketegangan-ketegangan
di antara satu sama lain., malah hingga konflik dan perang, tetapi di dalam ketegangan-ketegangan itu-
yang terjadi akibat satu atau beberapa pihak hanya memikirkan diri sendiri- diajarkan bagaimana agar
terjadi perdamaian, keadilan serta kesejahteraan semua pihak, malah bukan saja kesejahteraan dari
manusia saja, tetapi juga ciptaan lainnya.
B. Tinjauan Alkitabiah tentang peran politis: Beberapa pengalaman pilihan
1. Masa awal
(a) Berteriak kepada Allah melawan penghilangan hidup.
Pada masa awal tindakan politis manusia sang ciptaan Allah, Alkitab telah menunjukkan tindakan politis
manusia yang tidak menyejahterakan sesamanya, sebaliknya mencelakan malah menghilangkan hidup
sesamanya. Ketimbang menjagai saudaranya dengan mengatasi perbedaan pengalaman penerimaan
Allah terhadap persembahan Habel dan Kain, Kain menghilangkan hidup saudara kandungnya,
sesamanya petani dan peternak. Pada peristiwa di mana tidak ada saksi lain untuk secara politis
meminta pertanggung jawaban dari Kain, ada dua peran politis yang dicatat pada Kejadian 4: 8-12, yang
pertama dilakukan oleh pihak yang hidupnya di bumi telah dihilangkan, Habel, dan yang dilakukan oleh
pihak Allah.
Ternyata, Habel yang terbuat dari tanah itu tidak tinggal diam di alam kematian. Darah, yang
merupakan kehidupan itu sendiri- mungkin belum kering tetapi tercurah di tanah di mana Habel
ditemukan mati terbunuh-tidak tinggal diam. Darahnya (Ibrani: demey) ternyata berteriak (Ibrani:
tsoaqim) kepada Allah (4: 8). Allah yang mendengar teriakan menuntut keadilan itu bertindak
menghukum penghilang hidup, Kain. Adalah menarik di sini bahwa hukuman itu tidak menghilangkan,
tetapi membuat hidup Kain sulit (4: 11-16). Hal berteriak (Ibrani: tsaaqatam, Kel 3:8) ini juga
merupakan tindakan peran politis yang dilakukan oleh umat Israel di negeri Mesir yang mendapat
penindasan.
Tindakan politis berteriak itu didengar oleh Tuhan yang menolak ketidakadilan dan
memberlakukan keadilan. Warga yang diam seribu bahasa dan berpangku tangan mengalami dan
mengalami ketidakadilan di dalam masyarakat di mana ia merupakan penduduk tidak memainkan peran
politisnya untuk memastikan kemaslahatan penduduk. Penguasa yang membiarkan warga atau penduduknya yang ditindakadili hingga kehilangan nyawanya juga bukan merupakan tindakan politis
yang benar.
(b) Tunduk pada Allah menyelamatkan umat manusia dan ciptaan lainnya: Noah, Kej 6: 1-9: 22)
Menyadari akan rencana Allah untuk memusnahkan penduduk bumi yang melakukan kejahatan, Noah
melakukan peran politisnya untuk memastikan adanya keturunan manusia setelah air bah. Ia melakukan
apa yang Allah katakan untuk ia lakukan, mulai dari membangun bahtera dan melakukan hal-hal yang
Allah sebutkan padanya sampai waktu segala penumpang bahtera diijinkan keluar dari bahtera itu ketika
air bah sudah benar-benar surut.
2. Masa Para Leluhur Israel: Masyarakat Nomaden
a. Berpisah untuk kemaslahatan masing-masing: Abraham dan Lot, Kej 13: 1-13
Menghadapi tidak mencukupinya kebutuhan makanan dan minuman untuk ternak-ternak mereka,
tindakan politis yang diambil oleh Abraham dan Lot. Mengambil prakarsa untuk mengatasi konflik kini
dan masa depan tidak dengan pertumpahan darah, melainkan dengan perpisahan, dilakukan oleh
Abraham.
b. Mengungsi menghindari pembunuhan, bertemu menciptakan perdamaian: Yakub dan Esau
Di dalam interaksi politis di antara sesama anggota masyarakat pertanian dan peternakan konflik di
antara sesama anak dari seorang ayah dan ibu merupakan keniscayaan. Penyebab konflik itu beraneka.
Ada karena yang satu lebih cerdik dari yang lain, sehingga yang kalah cerdik kehilangan
keistimewaannya. (atak: "Nabisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan"). Bagaimana menghindari
konflik yang berakibat pada penghilangan nyawa pada masa emosional, tetapi kemudian menyelesaikan
konflik lama dengan pertemuan untuk menciptakan perdamaian diungkapkan pada Kej 25: 19-28, 27: 1-
40,27: 41-28:9; 32: 1-33:33) pada diri Yakub dan saudaranya Esau.
Tindakan politis yang dilakukan Rebekka dengan menasehati Yakob melakukan tipu muslihat terhadap Ishak sehingga mengambil berkat yang seharusnya diserahkan pada Esau dan mengakibatkan amarah Esau yang telah didahului Yakub harus dibayar oleh Rebekka dengan menyuruh Yakub mengungsi dari tanah Kanaan ke Haran, negeri pamannya Laban. Tindakan politis yang dilakukan oleh Laban menyundangi Yakub dengan tidak
memberikan Rachel melainkan Lea menjadi istri pertamanya dan tidak memberikan pada Yakub upah
kerjanya secara wajar (Kej 31: 38-42) direspon oleh Yakub dengan tindakan politis yang merobah
makanan ternak sehingga menguntungkannya (Kej 30: 37-43) dan akhirnya melarikan diri dari hadapan
Laban yang menganggap Yakub sebagai miliknya. Di dalam pelarian, Yakub yang diancam pengejaran
Laban dari satu arah mengadakan perjanjian dengannya, dan menghadapi pengejaran saudaranya Yakub
dari arah lain memaksa Yakub untuk keluar dari kematian dengan mengadakan prakarsa perdamaian
dengan saudaranya Esau.
Perjanjian Laban dan Yakub:
"Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau..Tuhan kiranya
berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan. Jika engkau mengabaikan anakanakku, dan jika engkau mengambil istri lain di samping anak-anakku itu, ingatlah, walaupun tidak ada orang dekat kita, Allah yang menjadi saksi antara aju dan engkau..Aku tidak akan
melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkau pun tidak akan melewati timbunan batu dan tubu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat. Lalu Yakub bersumpah
demi yang Disegani oleh Ishak, azaynya" (Kej 31: 48-53).
Prakarsa pertemuan yang dilakukan oleh Yakub untuk saudaranya Esau telah menghasilkan amarah Esau
berobah menjadi kasih sayang terhadap adiknya yang sujud di dekatnya: "Tetapi Esau berlari
mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluhnya lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah
mereka" (Kej 33: 4). Hal yang berbeda dilakukan kemudian oleh anak-anak Yakub yang membalaskan
kejahatan dari Sichem anak Hamor orang Hewi terhadap saudari mereka Dina. Dengan tipu muslihat
mereka membunuh seluruh orang Hewi, suatu tindakan politis yang dilihat Yakub mendatangkan
kebusukan pada Namanya (Kej 34: 30).
c. Merubah tindakan jahat saudaranya padanya dengan kebaikan menjamin kelangsungan hidup
banyak penduduk: Yakub (Kej 41-47).
Mendapat tindakan politis penganiayaan oleh saudara-saudaranya terhadapnya tidak membuat
keberuntungan ahli ekonomi Yakub, yang mendapat anugerah penyertaan Allah dan kuasa dari raja
Mesir menjadi orang kedua setelah raja mendatangkan kesulitan pada saudara-saudara anak dari
ayahnya maupun keturunan mereka. Sebalinya, tindakan politis yang besar yang dilakukannya adalah
menyediakan bahan makanan dan tempat tinggal yang subur untuk saudara-saudaranya dan seluruh
keturunan ayahnya, maupun untuk penduduk seluruh negeri Mesir dan negeri-negeri di sekitarnya yang
menghadapi bencana kelaparan berkepanjangan (7 tahun).
Hal itulah yang menjadi alasan mengapa
dirinya diberi nama Mesir oleh Firaun, Zaphnath-Paaneach (Kej 41: 45), yang berarti Penyedia
pertahanan hidup, walaupun ia berusia hanya 30 tahun. Dari ungkapannya yang tercatat pada Kej 45: 4-
8 nampak seorang yang melihat pengalaman pahitnya sebagai jalan untuk kemaslahatan banyak orang
dalam masa bencana kelaparan: "Akulah Yusuf, saudaramu yang kamu jual ke Mesir. Tetapi janganlah
bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara
kehidupalah Allah menyuruh kau mendahului kamu..Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu
untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di buni ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian
besar dari padamu tertulong. Jadi bukan kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah...Dialah yang
menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas
seluruh tanah Mesir."
Ungkapan Yakub itulah yang merupakan inspirasi bagi para pejabat yang mendapat tugas untuk
memastikan keberlangsungan kehidupan. Yusuf bisa saja bertindak berbeda dari hal itu. Tetapi ia
memilih aktif melakukan kehendak Allah untuk memelihara kehidupan.
3. Masa keluar dari perbudakan menuju dan tinggal menetap di Kanaan
a. Pentingnya partisipasi rakyat tertindas untuk bebas
Dapat dipahami bahwa kisah pembebasan bangsa Israel keluar dari 400 tahun perbudakan di Mesir (Kel
12: 40-41) dititik beratkan pada tindakan Jahwe yang merespon teriakan umat Israel di Mesir dengan
menugaskan Musa yang didampingi saudaranya Harun yang diberi kuasa ilahi yang luar biasa untuk
membebaskan mereka. Tindakan politis Allah yang membebaskan tidak dapat dipandang rendah, mirip
dengan tindakannya menyelamatkan seluruh keluarga besar Lot dari pembumi hangusan kota Sodom dan Gomorra dengan juga menari tangan istrinya dan kedua putrinya dan memaksa mereka keluar dari
kota itu dan menbyuruh mereka lari untuk tidak melihat kebelakang sebelum hukuman dilaksanakan Akan tetapi adalah penting juga untuk menekankan bahwa tindakan penyelamatan oleh Allah itu
ditopang juga oleh usaha-usaha Allah lewat Musa dan Harun untuk meyakinkan umat Israel terperbudak
itu untuk mau ikut keluar dari pembuangan Mesir, dan kemudian ketika di Padang Gurun untuk kuat
menjalani perjalanan ke tanah Kanaan yang penuh tantangan tanpa bersungut-sungut dan kembali ke
perbudakan di Mesir, atau menyembah allah emas walaupun telah mengalami tindakan Allah yang besar
di dalam pembebasan mereka.
Musa yang mengangkat pertanyaan pada Tuhan bagaimana caranya meyakinkan umat Israel yang telah mengetahui tindakannya membunuh orang Mesir yang menganiaya orang Israel semasa kerja paksa dan
karena itu telah melarikan diri dari Mesir, bahwa ia datang membawa mandate dari Allah yang dikenal
oleh bangsa itu yang sudah lama hidup di negeri Mesir, negara di mana Allahnya Abraham tidak dikenal.
Jawaban Tuhan pada Musa merusaha menagkal keraguraguan rakyat pada mandate yang Musa terima
dari Tuhan (Kel 3: 13-14; 4: 1, 5, 8, 9-14). Ketika Musa dan Harun berbicara dengan orang-orang Israel di
Mesir melalui para wakil-wakil utama mereka, menyampaikan pesan Tuhan kata demi kata dan juga
melakukan tanda muzijat di hadapan mereka, mereka pun percaya, berlutut dan berdoa pada Tuhan (Kel
25: 31).
Pada pelaksanaannya, ketika raja Firaun memersulit kondisi perbudakan setelah mendengar rencana
dan permohonan Musa, merekapun bersungut pada Musa (Kel 5: 15-120). Mereka berkata: "Kiranya
Tuhan memerhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama
kami kepada Firaun dan hamba-hambaNya dan dengan demikian kamu memberikan pisau kepada mereka
untuk membunuh kami" (Kel 5: 21). Malah ketika setelah mereka keluar dari Mesir bala tentara Firaun
mengejar mereka dengan kuda dan kereta Firaun maupun orang-orang berkuda berikut pasukannya,
orang Israel masih berkata begini: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa
kami untuk mati di padang gurun ini?...Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah
mengganggu kami dan biarlah kamu bekerja pada orang Mesir.
Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja
pada orang Mesir daripada mati di padang gurun ini" (Kel 14: 12). Dan ketika minuman di padang gurun tidak tersedia di Mara dan di Elim, mereka mengungkapkan begini: "Apakah yang akan kami minum"
(Kel 15: 24)? "Ah, jalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk
menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke
padang gurun ini untuk membunuh seluruh Jemaah ini dengan kelaparan"(Kel 16: 3). Di Masa dan
Meriba, "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum" (17: 2). Ketika Musa tak kunjung turun
dari gunung Sinai, mereka berkata kepada Harun, "Mari, buatlah unuk kami allah, yang akan berjalan di
depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir- kami tidak tahu
apa yang telah terjadi dengan dia" (Kel 32: 1).
Malah ketika menghadapi kesulitan sangat berarti dalam usaha memasuki tanah Kanaan dari bangsa-bangsa yang berada di sana, yang kelihatan lebih kuat dari mereka, mereka berkata: "Ah sekiranya kami
mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya
kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami
pulang ke Mesir?... Baiklah kita mengangkat seorang pemipin, lalu pulang ke Mesir" (Bil 14: 2-4). Itulah
sebabnya pada Kitab Ulangan mereka diperhadapkan dengan pilihan taat dan setia pada Tuhan atau
tidak, jika taat mendapat berkat, jika tidak mendapat kutuk (Ul 1-32). Hal sama diingatkan oleh Yosua
pada Yosua 24: 19-24.
Walaupun mereka pada setiap kesempatan merespon secara positif permintaan
agar taat, toh di dalam pelaksanaannya mereka ditemukan tidak setia.Partisipasi aktif orang-orang Israel terhadap tindakan politik pembebasan mereka dari perbudakan di
Mesir dengan kuat kuasanya boleh dikatakan dapat diragukan dan tak sanggup menghadapi tantangan
pada proses dan paska pembebasan yang harus dijalani pada awalnya dengan hidup yang
berkekurangan. Seharusny mereka berpartisipasi lebih aktif, tidak sebalik memersalahkan Musa yang
telah membawa mereka keluar dari perbudakan. Hal itulah yang menyebabkan mengapa perjalanan
mereka di padang gurun menuju tanah perjanjian memakan waktu 40 tahun lamanya.
b. Hidup di dalam hukum-hukum Allah
Di dalam kehidupan bangsa Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan diatur bagaimana interaksi
sosial dan politis di antara bangsa itu dan di antara mereka dengan Tuhan. Sebagai bangsa pilihan Tuhan
mereka diikat oleh perjanjian dengan Allah yang dapat berlangsung terus menerus jika mereka
melakukan hukum-hukum yang diberikan oleh Allah kepada mereka lewat Musa. Hukum-hukum itu
diatur sedemikian jelas dan jelimet untuk memastikan bahwa hubungan mereka yang baik dengan Allah
dapat dinampakkan dalam hubungan mereka yang baik dengan sesamanya manusia. Kitab Keluaran
hingga kitab Ulangan berisikan sejarah penerimaan dan isi dari hukum-hukum itu dengan segala
pernyataan tentang berkat bagi yang melakukannya dan hukuman atau kutuk bagi yang tidak
melakukannya. Berdasarkan hukum-hukum itulah diatur kehidupan sosial, ekonomi, politis dan agama
dari bangsa itu.
c. Respons positif terhadap panggilan Allah membebaskan umat: Masa Transisi di bawah Hakim-hakim
Setelah Musa dan Josua berlalu, sementara tugas memasuki tanah Kanaan belum selesai, ketika akibat
dari pelanggaran-pelanggaran mereka terhadap janji mereka kepada Allah umat Israel ditaklukkan oleh
bangsa-bangsa di sekitarnya, Allah mengadakan tindakan politis membebaskan mereka ari pengaruh
dan kekuasaan para raja bangsa-bangsa itu berkali-bali dengan memanggil dan menugaskan para Hakim
yang memimpin militer dan juga bertindak sebagai hakim yang bertindak menurut pandangan sendiri
berdasarkan hukum Taurat, tanpa suatu pemerintahan pusat. Dari enam belas Hakim Israel pada abad
tahun 1405-1025 Sebelum Masehi, satu di antaranya yang dapat kita sebut sebagai contoh peran aktif
perempuan di dalam menaklukkan raja bangsa lain yang mengancam umat Israel adalah Debora seorang
nabiah yang berhasil mengatasi ketakutan Barak, seorang jenderal yang tidak berani menghadapi
musuh, dengan dirinya sendiri ikut berperang melawan Sisera. Debora sebaliknya mampu mengalahkan
Sisera. Hal itu diungkapkan pada Hakim-hakim 4-5 sehingga bangsanya hidup dengan aman selama 40
tahun (Hakim 5: 31c). Pada seluruh tindakan para hakim, mereka melakukan pembebasan tanpa
menyaratkan perobahan perilaku moral umat yang mereka pimpin. Penyelamatan rakyat dari kekuasaan
asing mengutama. (Bersambung)