Medan (Pelita Batak):
Pengurus Majelis Pendidikan Kristen Wilayah (MPKW) Sumut-Aceh menggelar perayaan HUT ke-55 Tahun dengan melibatkan keterpanggilan Pengurus menjadi momen kerinduan para tokoh Kristen di Sumatera Utara untuk mengembalikan kejayaan perguruan Kristen seperti era 1960-an hingga 1990-an.Pada masa itu, sekolah-sekolah Kristen seperti Perguruan Immanuel dan Perguruan Nasrani Medan dikenal sebagai pilihan utama masyarakat lintas suku dan agama. Kualitas pendidikan dan disiplin yang tinggi membuat lulusannya mampu mendominasi berbagai perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.
Namun, memasuki awal 2000-an hingga saat ini, sebagian besar sekolah Kristen di Sumut, khususnya di Medan, mulai meredup.Ketua MPKW Sumut-Aceh, Dr. RE Nainggolan, menyebut, kondisi tersebut sebagai fenomena "3T", yakni tertinggal, terpuruk dan terlupakan.

"Sekitar 15 persen sekolah tidak lagi mendapat penambahan murid sehingga semakin menurun. Akibatnya sekolah-sekolah tertinggal dan akhirnya terlupakan. Bahkan, 10 persen di antaranya sudah tutup. Ini menjadi beban kita," ujar RE Nainggolan. Ia mencontohkan, Perguruan Kristen Immanuel, di Jalan Sudirman Medan, yang dahulu pernah berpredikat terbaik, kini meredup. Karena itu, MPKW berupaya menghimpun para tokoh Kristen untuk mencari solusi bersama mengembalikan kejayaan pendidikan Kristen.
Hadir dalam puncak peringatan HUT ke-55 MPKW Sumut-NAD ini Ketua MPKW Sumut-NAD, Dr RE Nainggolan MM beserta jajaran pengurus; Ketua Dewan Pembina Pdt R Bambang Jonan; Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara, Rudy Brando Hutabarat, Anggota DPRD Sumut yang juga Dosen FEB Universitas HKBP Nomensen dan Ketua Perhimpunan Orang Tua Murid Perguruan Kristen Immanuel Medan, Timbul Sinaga; perwakilan Kapolda Sumut dan Wali Kota Medan; Kepala BPSDM Sumut, Dr Agustinus S SiT, MT, dan Perhimpunan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Sumut.
Pdt. Dr. R. Bambang Jonan menyoroti hasil riset Bambang Wijaya yang menyebut perguruan Kristen ternama di Indonesia kini hanya tersisa dua, yakni Universitas Maranatha Bandung dan Universitas Satya Wacana Salatiga.
"Dalam situasi menurunnya kualitas perguruan Kristen di Sumut, saya mengajak pimpinan gereja dan lembaga kerohanian untuk memikirkan kembali mutu pendidikan Kristen," tegasnya. Senada, Kepala Perwakilan BI Sumut, Rudi B. Hutabarat, menegaskan bahwa mendidik generasi muda adalah panggilan iman.
"Produk pendidikan Kristen harus mampu menyiapkan generasi yang takut akan Tuhan," ujarnya. Sementara itu, anggota DPRD Sumut, Dr. Timbul Sinaga, juga mengakui terjadinya penurunan kualitas sekolah Kristen. Ia mendorong MPKW menjadi organisasi strategis untuk membangun kembali perguruan Kristen di Sumut dan Aceh.
"Untuk memperbaikinya, perlu ada rapat besar bersama seluruh perguruan tinggi. Misi Kristen adalah menciptakan generasi yang berpendidikan, sehat, dan mandiri secara ekonomi. Seperti Nommensen yang dalam pelayanannya mendirikan sekolah dan rumah sakit, warisan itu harus kita tingkatkan," ungkap politisi Partai Nasdem tersebut.
Timbul Sinaga sebagai Ketua Perhimpunan Orang Tua Murid Perguruan Kristen Immanuel Medan, memberikan apresiasi atas komitmen MPKW Sumut-NAD untuk membantu mengembangkan mutu lembaga pendidikan Kristen di Sumut dan Aceh. Anggota DPRD Sumut ini juga menyoroti menurunnya mutu lembaga pendidikan Kristen di tingkat nasional. Seperti di tingkat perguruan tinggi dimana saat ini hanya ada 2 perguruan tinggi Kristen yang masuk dalam jajaran 10 besar perguruan tinggi terbaik swasta nasional, yakni Universitas Maranatha Bandung dan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Padahal dulu banyak perguruan tinggi Kristen terkemuka. Sebut saja Universitas HKBP Nomensen yang dulu dikenal memiliki kualitas yanh setara dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Oleh karena itu, dirinya menginginkan agar MPKW Sumut-NAD dapat menjadi organisasi strategis untuk membantu menumbuhkan solidaritas dan kecintaan tentang mutu pendidikan perguruan-perguruan Kristen di Sumut dan Aceh.
Timbul yang juga Dosen FEB Universitas HKBP Nomensen Medan itu mengingatkan 4 hal yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas SDM, yakni iman, kesehatan, pendidikan dan penghasilan. Dirinya berharap agar MPKW Sumut-NAD dapat duduk bersama dengan lembaga-lembaga pendidikan Kristen dalam mencari solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Juga mengajak MPKW Sumut-NAD untuk menggandeng para tokoh Kristen yang telah sukses untuk ikut membantu memperbaiki serta meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Kristen. Kerja sama dan dukungan ini diperlukan agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara, Rudy Brando Hutabarat, memberikan apresiasi atas keberadaan MPKW Sumut-NAD ini. "Menurut saya mendidik generasi muda bukan hanya masalah tanggung jawab, tapi juga panggilan. Kalau kita membina anak-anak ini sejak kecil, maka sebenarnya kita menyiapkan pemimpin-pemimpin di masa depan yang takut akan Tuhan. Jadi kalau ini yang menjadi panggilan kita maka ini adalah suasana yang sangat tepat," tuturnya.
Ketua Panitia HUT ke-55 MPKW Sumut-NAD; Prof Dr Eva Marlina br Ginting mengungkapkan bahwa berbagai kegiatan telah dilakukan dalam rangkaian menyambut HUT ke-55 lembaga nirlaba tersebut. Di antaranya lomba story telling, lomba paduan suara, bakti sosial kesehatan, bazar UMKM dan lain sebagainya.
Sementara dalam final lomba paduan suara yang diadakan pada kesempatan tersebut maka untuk tingkat SD terbaik pertama adalah SD HKBP Tarutung, terbaik kedua SD Kalam Kudus Medan dan terbaik ketiga adalah SD Kalam Kudus Pematangsiantar.
Sementara pemenang lomba paduan suara tingkat SMP adalah terbaik pertama SMP Nasrani 5 Medan, terbaik kedua SMP Masehi Berastagi, terbaik ketiga SMP Immanuel Medan.
Sedangkan pemenang lomba paduan suara tingkat SMA adalah terbaik pertama SMK BNKP Gunungsitoli, terbaik kedua SMA HKBP Pematangsiantar dan terbaik ketiga SMA HKBP Sibolga. (*)