Para Presiden Dan Danau Toba

Panusunan Simanjuntak
Administrator Administrator
Para Presiden Dan Danau Toba
IST | PELITA BATAK
Presiden Joko Widodo san Iriana Jokowi di tepi danau toba

PRESIDEN Soekarno, bersama dengan Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir, diasingkan Belanda di suatu rumah peristirahatan di Parapat selama dua bulan pada penghujung tahun 1948 dan awal tahun 1949. Mereka menikmati pemandangan Danau Toba dengan melihat-lihatnya dari rumah atau pekarangan rumah itu. Saya tidak menemukan pemberitaan pers yang menyebut mereka pernah berlayar di danau itu selama masa pengasingan diri mereka. Saya juga tidak menemukan pemberitaan tentang usaha pengembangan Danau Toba yang mengaitkan nama presiden ini di dalamnya.

Saya tidak menemukan adanya pemberitaan pers tentang Presiden Suharto pernah berada di kawasan Danau Toba, sekali pun beliau berkunjung ke Tarutung dalam rangka Jubileum ke 125 tahun Huria Kristen Batak Protestan, HKBP, pada 19 Oktober 1986. Tetapi, pada era presiden ini ada suatu kajian tentang pengembangan Danau Toba, yang dikerjakan bersama dengan Japan International Cooperation Agency, JICA. Salah satu ketetapannya adalah mengembangkan Parapat menjadi suatu kota turis. Namun, ketetapan ini tidak pernah berlanjut ke tahap pelaksanaan sebagai akibat dari berakhirnya secara paksa kepresidenan Suharto.

Masa kepresidenan Bacharuddin Jusuf Habibie hanya singkat, kurang dari dua tahun, dari Mei 1998 hingga Oktober 1999. Tetapi pada masa yang singkat itu beliau mengambil keputusan cepat menghentikan operasi perusahaan pulp PT Inti Indorayon Utama di Tapanuli, yang kegiatannya menurut banyak orang merusak alam hutan kawasan ini, terutama kawasan sekitar Danau Toba. Saya tidak menemukan pemberitaan pers yang berbicara tentang kunjungan presiden ini ke Danau Toba.

Pelacakan saya juga tidak menemukan pemberitaan pers tentang kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Danau Toba. Juga mengenai usaha atau kebijakan pengembangan Danau Toba yang mengaitkan nama presiden ini dalam usaha atau kebijakan itu.

Warga suatu kawasan Danau Toba di Simalungun menyebut ikan porapora dengan nama ikan porapora Megawati. Itu terjadi karena warga kawasan itu dapat kembali menangkap ikan porapora hasil dari tebaran bibit oleh presiden tersebut. Sebelumnya, ikan porapora itu sudah hampir tak ada di kawasan danau itu. Nama Megawati juga tercatat sebagai presiden yang mengijinkan beroperasinya kembali perusahaan pulp Indorayon dengan nama baru PT Toba Pulp Lestari.

Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, 1904-14, satu-satunya pemberitaan pers yang menonjol yang mengaitkan nama presiden ini dengan Danau Toba adalah saat beliau berada di Parapat untuk acara penutupan Pesta Danau Toba pada 18 Juli 2008. Itu berarti nama presiden tersebut berkaitan dengan Danau Toba muncul setelah empat tahun masa pemerintahannya yang pertama. Dan, kejadian setara tidak terulang lagi hingga akhir masa pemerintahan kedua presiden ini. Hingga tahun 2008 itu, Pesta Danau Toba sudah tidak terlaksana selama 10 tahun berturut-turut.

Tidak dapat disangkal adalah nama Presiden Jokowi yang paling banyak disebut berkaitan dengan Danau Toba jika dibandingkan dengan nama-nama presiden RI sebelumnya. Ini terjadi karena presiden inilah yang berbuat lebih banyak dalam pengembangan dan pembangunan danau itu, yang dibarengi dengan kunjungan-kunjungannya yang lebih sering ke kawasan danau. Semasa pemerintahan presiden inilah juga Danau Toba diakui sebagai salah satu anggota dari UNESCO Global Geoparks. Semogalah apa yang telah diperbuat oleh presiden ini, dengan segala kekurangan dan bahkan kesalahannya, menjadi landasan yang lebih kuat bagi pengembangan lebih lanjut Danau Toba. (*)

Camberley, UK

08032023

Komentar
Berita Terkini