Mencandai Harimau

Oleh : Jansen Sinamo
Administrator Administrator
Mencandai Harimau
ist|pelitabatak
Jansen H Sinamo

MENJELANG magrib saat penduduk bersiap pulang dari ladangnya, dari arah padang penggembalaan terdengar teriakan panik seorang laki­-laki. “Tolong ... tolong ... harimau ... harimau ...!” Namun aneh, teriakan itu tidak mendapat tanggapan dari siapa pun.

Maka mengamuklah seekor betina harimau yang besar. Dengan ganas, dikejarnya kerbau. Tetapi karena kawanan itu bersatu­ padu dengan tanduk yang merapat, harimau itu merasa jeri, lalu mengganti sasaran: dikejarnya si gembala.

Mendapat serangan itu si pemuda hanya bisa berlari semampunya. Dan malang, kecepatan dan kekuatannya tidak sebanding dengan sang macan. Diapun diterkam dan mati mengenaskan.

Esok paginya, penduduk desa berdatangan ke padang. Mereka terkejut mendapati si gembala sudah tinggal kerangka rusak dengan sisa-­sisa cabikan yang mengerikan. Terdengar celutukan

di sana sini, ”Inilah hasil sebuah keisengan. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan pernah berlaku usil dan kurang ajar!”

Muasal terjadinya peristiwa naas tersebut masih segar dalam ingatan penduduk. Setiap keluarga di desa itu memiliki sedikitnya seekor kerbau. Tapi karena pekerjaaan utama mereka adalah bertani, mereka pun kesulitan menggembalakan ternak-­ternak itu. Mereka semufakat mengangkat seorang pemuda dengan tugas khusus menggembalakan semua kerbau di padang penggembalaan yang tak jauh letaknya dari pemukiman dan perladangan.

Awalnya, pemuda itu menerima tanggung jawabnya dengan sukacita. Penuh semangat si pemuda tiap hari membawa ter­nak­-ternak itu ke padang, menuntun dan membiarkan mereka merumput sepuasnya, memandikannya sore hari di sungai, berse­nandung dan menari.

Namun karena tugas tersebut dilakoni tiap hari sebagai rutinitas, lama-­lama timbullah rasa bosan dan jenuh. Ia pun mulai mengeluh, kehilangan keceriaan, sering ketiduran, dan mulai menelantarkan kerbau­-kerbau gembalaannya.

Suatu hari timbullah keisengannya. Dia ingin mempermainkan penduduk. Caranya? Ia berlari kencang ke arah ladang sambil berteriak dengan suara menakutkan: “Harimau … harimau… harimau ... selamatkan kerbau!”

Penduduk terkejut. Segera mereka bangkit dengan cangkul, golok, garu, dan benda tajam apa saja yang bisa diraih, berlari ke padang, membantu si gembala mengusir harimau.

Tetapi apa lacur? Tidak ada harimau! Kawanan kerbau yang katanya diserang ternyata tenang­-tenang saja merumput. Mereka melihat ke sekeliling, mencari si pemuda, yang malah tertawa terbahak­-bahak.

“Hua… hua…hua...; ha…ha…ha..., kalian kena tipu, harimau jauh di hutan, aku cuma iseng, hua...hua...hua...; ha…ha...ha ...”

Penduduk sangat kesal, namun tak bisa berbuat apa-­apa.

Mereka kembali ke ladang masing-­masing penuh gerutuan.

Si gembala tersenyum puas.

Esok harinya, keisengan si gembala timbul lagi. Dengan tergopoh­-gopoh, dia kembali berlari ke ladang dan berteriak, “Harimau datang... harimau datang… kerbau dikejar, diterkam, dimangsa!”

Penduduk pun bangkit lagi, tergopoh-­gopoh membawa segala macam senjata menuju padang. Namun kembali mereka kecewa. Tidak ada harimau. Dan lagi-­lagi si pemuda kurang ajar tergelak­ gelak penuh bahagia karena dapat mempermainkan penduduk.

Dan itulah sebabnya ketika harimau benar-­benar datang pada hari berikutnya--seperti dikisahkan di awal cerita ini--tidak seorangpun yang tergerak untuk memberikan bantuan.

*

Jangan pernah bermain-­main ketika bekerja. Pekerjaan yang sudah diamanahkan kepada kita, sama seperti si pemuda men­dapat amanah menggembalakan kerbau dan sapi, harus ditunaikan sungguh­ -sungguh. Sikap kurang ajar, iseng, main­-main, jahil, berarti tidak bertanggung jawab, tidak profesional, dan dapat menimbulkan bencana.

Bisnis adalah keseriusan. Berapa nilai bisnis Anda? Mungkin puluhan juta, ratusan juta, atau puluhan miliar. Satu hal harus selalu diingat: betapa kecil pun itu, kita harus mengerjakannya dengan sungguh­-sungguh, sepenuh hati, segenap tanggung jawab.

Kita tidak bisa memprediksi datangnya bencana. Bahaya bisa mengintai dari balik pintu dan siap menerjang bila kita lalai. Yang bisa dilakukan hanyalah mengembangkan sikap waspada: tidak membuka celah bagi malapetaka dan jangan membiarkan keisengan menjadi bencana.

Pupuklah sikap kerja sepenuh hati, sebaik­-baiknya, disertai rasa tanggung jawab yang besar. Itulah yang akan menyelamatkan dan menjadi kunci sukses dalam pekerjaan kita.

Dan inilah inti Etos#2: Kerja adalah amanah; aku bekerja benar penuh tanggung jawab. Selamat bekerja kawan.(**)

Komentar
Berita Terkini