Tidak Sehat dan Tak Makan, Saling Memengaruhi

Oleh : Djalan Sihombing,SH
Administrator Administrator
Tidak Sehat dan Tak Makan, Saling Memengaruhi
Ist|pelitabatak
Djalan Sihombing, SH

TIDAK sehat mengakibatkan kurang makan bahkan tidak makan. Karena tidak sehat maka tidak bisa mencari nafkah atau bekerja.

Kurang makan, kurang gizi, tidak makan mengakibatkan tidak sehat. Karena kurang makan, tidak makan menjadi tidak sehat.

Hubungan antara sehat dan makan saling memengaruhi kehidupan manusia. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (mensana in corpore sano). 

Hal di atas berlaku untuk orang per orang. Salah satu bagian tubuh yang sakit akan memengaruhi tubuh secara keseluruhan. Bagian-bagian tubuh yang satu saling memengaruhi tubuh yang lainnya.

Tidak sehat dan tak makan ini bisa dianalogikan dengan keluarga. Bila salah satu anggota keluarga sakit, maka keluarga tersebut akan terganggu. Yang seharusnya bisa mencari nafkah, bekerja tentu terganggu juga untuk mengurus salah satu keluarga yang sakit. Apalagi ada beberapa, sekeluarga sakit semua.

Demikian juga dalam skala bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bila banyak masyarakat yang sakit, tentu memengaruhi biaya hidup dan biaya makan. Bila banyak masyarakat yang sakit, tentu banyak yang tidak makan. Sebaliknya, bila banyak orang tidak makan tentu banyak juga yang tidak sehat. 

Pada saat pandemi yang terjadi di dunia, termasuk Indonesia tentu saling memengaruhi antara tidak sehat dan tak makan. 

Bila kesehatan diutamakan tanpa memperhatikan makan (perekonomian) apa yang akan dimakan? 

Bila mengutamakan makan (perekonomian) tanpa memperhatikan kesehatan tentu semakin banyak masyarakat yang sakit.

Dalam bernegara, antara sehat dan makan saling memengaruhi. Tidak makan maka tak sehat. Tidak sehat maka tak makan.

Pada saat pandemi, pemerintah sudah membuat ketentuan dan berbagai kebijakan agar sehat dan makan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang ditandatangani pada 20 Juli 2020.

Bagaimana agar sehat dan makan?

Mau sehat, makan makanan bergizi dan seimbang. Mau makan makanan yang bergizi dan seimbang harus sehat. Bila tak sehat, tidak bisa bekerja dengan baik untuk mencari makanan bergizi dan seimbang.

Untuk itu, bila mau sehat dan makan serta bisa melewati pandemi, tentu harus taat dengan peraturan dan kebijakan yang dibuat. 

Sudah banyak yang terpapar/terkonfirmasi bahkan banyak yang sudah meninggal akibat covid-19, tapi kenyataannya masih banyak yang kurang dan tidak taat prokes. Bahkan masih banyak yang belum percaya adanya covid-19. Ada juga anggota Dewan yang terhormat tidak mau vaksinasi. Beliau masih wakil rakyat atau hanya mewakili diri sendiri di Parlemen sana?

Sebagus apa pun peraturan maupun kebijakan yang dibuat, bila tidak ditaati maka tetap saja banyak yang tertular dan menularkan.

Mau karantina atau lock down? 

Mau karantina wilayah/provinsi/kabupaten, lock down atau istilah apa pun yang dipakai, bila tidak taat, hasilnya kurang. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi bersatu padu menaati aturan yang dibuat.

Jangan suka menyalahkan orang lain, jangan suka menyalahkan kebijakan pemerintah bila diri dan keluarga kita sendiri tidak mau taat dan disiplin.

Yang dituntut adalah kesadaran diri sendiri dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Pergunakan hati dan pikiran. Lindungi diri, lindungi keluarga, lindungi tetangga, lindungi sahabat dan kerabat, lindungi sesamamu manusia. Dengan demikian masyarakat, bangsa atau negara terlindungi. Taati prokes dan vaksinasi.(*)

Djalan Sihombing (Anggota Partungkoan Na Ringgas Manjaha)

Komentar
Berita Terkini