KABAR DARI SEBERANG

Detik-detik Kemerdekaan dan Teks Proklamasi

Administrator Administrator
Detik-detik Kemerdekaan dan Teks Proklamasi
Ist
Bachtiar Sitanggang (kanan) bersama Ketum FBBI Ronsen Pasaribu

Oleh Bachtiar Sitanggang

PERINGATAN Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-73 sudah berlalu dengan segala keagungan, kehkidmatan serta kemeriahan yang  dilakukan oleh masyarakat dengan semeriah mungkin. Salah satunya yang cukup menegangkan adalah peristiwa penaikan bendera di Motaain,  Belu, NTT Jumat pagi, saat bendera dikibarkan, tali pengait bendera lepas, lalu seorang anak kecil siswa SMP Atambua keluar dari barisan dan segera memanjat tiang bendera setinggi 23 meter dan mengambilnya.

Aksi si anak yang memanjat tiang bendera tersebut mendebarkan, sampai terdengar suara menyuruh "turun" dan kelihatannya sang anak mendengar sehingga dia seolah berhenti sebentar, namun dia teruskan sampai ke ujung tiang dan mengambil pengait bendera itu. Semua bertepuk tangan dan ada juga suara ibu yang terdengar menyebut Tuhan.

Peristiwa menegangkan, mengharukan serta membuat bulu roma merinding, mungkin bukan hanya penulis yang merasakan itu. Jam 15.30 peristiwa itu muncul di di grup WA dengan kata-kata:  "Apa pun ceritanya Sang Saka Merah Putih harus berkibar! Dirgahayu Indonesiaku. PS: Direkam oleh Ika Silalahi (Deplu) yang sedang bertugas  di perbatasan Timor Leste, 17 Agustus 2018".

Kekaguman yang tak terhingga, anak bernama Johanis Gama Marshal Lau yang polos dan punya kepedulian tinggi serta mau berkorban untuk hal yang jauh di luar tanggung jawabnya, wajar dirawat oleh semua sebagai monumen hidup bagaimana berlaku wajar sesuai kebutuhan dan kemampuan. Tidak perlu dielu-elukan apalagi diperpolitisir,  cukup dan perlu keluhuran hatinya ditumbuhkembangkan. Kabarnya,  dia diundang Menteri Pemuda dan Olahraga untuk menghadiri pembukaan Asian Games di Jakarta.

Dalam setiap peringatan hari Kemderdekaan RI, sering dibacakan teks Proklamasi, Pembukaan UUD Tahun 1945 dan Pancasila, kemudian doa ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan Kemerdekaan  melalui para pejuang dan pendahulu-pendahulu kita sebagai bangsa dengan penuh pengorbanan.

Teks Proklamasi itu semula adalah tulisan tangan Soekarno (Bung Karno) seperti di bawah ini.
                      Proklamasi.
Kami bangsa Indonesia dengan ini
menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai peminda-
han kekoeasaan d.l.l, diselenggakan
dengan tjara saksama dan dalam
tempoh jang sesingkat-singkat
nja.
Djakarta, 17 - 8 - '05
Wakil2 bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Kemudian diketik Sayuti Melik, namun menurut beberapa penjelasan, ada perbedaan dari tulisan tangan Bung Karno itu dengan hasil ketikan Sayuti Melik. Pada tulisan Bung Karno ada tiga coretan penggantian kata yaitu pada kata  "pemindahan" kelihatannya ada dua kali penggantian atau coretan dan terakhir "pemindahan". Lalu pada kata "diselenggarakan"  sebelumnya ada kata (mungkin dilaksanakan, tetapi dicoret menjadi "diselenggarakan".
Dalam ketikan Sayuti Melik, sebagai berikut:

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan
Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., di-
selenggarkan  dengan cara saksama dan dalam tempo jang se-
singkat  singkatnja
Djakarta hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta

Perbedaan itu memang tidak berpengaruh pada makna, maksud, dan tujuannya. Perbedaan itu dapat ditemukan hanya pada penggantian huruf k menjadi besar pada Kemerdekaan, kemudian penghilangan tanda baca. Setelah d.l.l., setelah huruf l langsung koma tidak ada lagi titik. Kata "tempoh" pada tulisan tangan Bung Karno hasil ketikan menjadi hanya "tempo",
Dalam tulisan tangan Bung Karno, Djakarta, 17-8-05, oleh ketikan menjadi Djakarta hari 17 boelan 8 tahoen 05, koma diganti "hari" strip datar diganti dengan "hari" dan "boelan".

Wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi Atas nama bangsa Indonesia, kalau kertas tulisan tangan Bung Karno kelihatannya kecil,  sehingga karena kecilnya kertas itu satu baris hanya memuat "Kami bangsa Indonesia dengan ini" saja sudah langsung sambung ke belakang.

Perbedaan lainnya, Bung Karno menggunakan garis datar setelah kata sesingkat (-), kemudian menggunakan titik (.) setelah kata sesingkat singkatnya, sementara
hasil ketikan tanpa titik (.).

Kita perlu menyimak kedua peristiwa, terutama teks Proklamasi itu, hanya dengan sekitar 30 kata sekali lagi tiga puluh kata, kita bisa menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Perlu direnungkan, kalau ada di antara kita yang sudah besar dengan kekuasaan, harta, ilmu dan pengaruh, mari tolonglah beratnya mendirikan bangsa ini, sulitnya merajut persatuan itu serta ruwetnya membangun pemerintahan yang berdaulat serta melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Seorang teman mengingatkan saya kemarin, di saat bangsa ini merayakan Proklamasi Kemerdekaan, tentang ungkapan Jenderal Agum Gumelar yang pernah dikemukakannya di stasiun televisi, "kalau tidak bisa membantu memperbaiki, marilah paling tidak jangan merusak".

Itulah tantangan bagi para pemimpin  kita di masa mendatang, apalagi menjelang Pemilihan Umum tahun depan memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, Kabupaten/Kota. Ya, tidak perlu menyanjung Bung Karno dan para pendahulu, tetapi juga janganlah menghujat.
(Penulis adalah wartawan senior dan advokat)

Komentar
Berita Terkini