Cawapres Jokowi Sebaiknya Bukan dari Partai Politik

Administrator Administrator
Cawapres Jokowi Sebaiknya Bukan dari Partai Politik
Ist
Djalan Sihombing SH

Oleh: Djalan Sihombing


Menilik perkembangan dukungan parpol untuk mengusulkan atau mengusung Jokowi presiden di pilpres 2019 sudah semakin jelas kelihatan. Beberapa partai sudah dengan jelas memberi dukungan dan mendeklarasikan.


Pertarungan elit parpol, akan semakin sengit, untuk menjagokan siapa pasangan atau cawapres yang mendampingi Jokowi. Tentu parpol pengusung atau pendukung akan mengusulkan nama-nama cawapres. Tetapi sangat rentan dengan kepentingan masing-masing parpol pengusung. 


Parpol akan berusaha semaksimal mungkin agar cawapres dari partainya. Lobby-lobby politik akan intens mendekati pencalonan pasangan capres dan cawapres.


Jokowi pun akan berhitung secara matematik, matang dan hitungan politik, siapa yang menjadi pasangannya. Tidak lepas dari kepentingan untuk memenangkan dan melanjutkan visi dan misi Jokowi ke depan. Berarti harus mencari orang yang sejalan dengan Jokowi membangun bangsa dan negara ini. 


Bila cawapresnya dari parpol A, misalnya, kemungkinan parpol B atau C tidak setuju. Kekuatan tarik-menarik dan lobby politik akan  tinggi dalam pertarungan pengusulan cawapres. PKB, misalnya telah berkeinginan untuk mengusulkan Muhaimin Iskandar menjadi cawapres Jokowi. Partai pendukung lainnya pun masing-masing akan mengusulkan cawapresnya dalam waktu dekat.


Cawapres yang paling aman buat Jokowi saat ini,  bukan dari parpol, biar tidak ada tarik-menarik antara parpol pengusung/pendukung. Banyak calon-calon yang kompeten, negarawan, nasionalis dan telah teruji, dimana jejak rekamnya sangat luar bisa kepada bangsa ini. 


Untuk pilpres tahun 2018 bisa saja dari pensiunan TNI,  kalangan NU atau Muhammadyah. Misalnya, dari kalangan NU ada Prof. Dr. Mahfud MD dan Prof. Dr. KH.  Said Aqil Siroj, M.A. atau Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko dari kalangan TNI.(Penulis Sekjen FBBI, Pemimpin Umum Pelita Batak)

Komentar
Berita Terkini