Caleg Pelengkap Penderita

Oleh Djalan Sihombing
Administrator Administrator
Caleg Pelengkap Penderita
ist|pelitabatak
Djalan Sihombing SH, Advokat dan Ketua Komisi Hukum Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia
TULISAN Bachtiar Sitanggang, wartawan senior dan advokat senior,  di pelitabatak.com dengan judul "Demam Semua Merasa Mampu" (26/09/2018), sangat menarik diperbincangkan.

Banyak calon legislatif (caleg) yang belum tentu memikirkan kemampuan baik dari sisi keuangan, kemampuan memperjuangkan kepentingan rakyat pemilih,  bahkan tidak pernah memikirkan peluang untuk menang. Bisa saja seorang caleg tanpa visi dan misi ke depan,  hanya ikut-ikutan, tanpa pertimbangan secara matang.

Sebagai contoh, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Humbang Hasundutan memvalidasi Daftar Calon Tetap (DCT),  Kamis 20/9/2018. Ketua KPUD Humbahas, melalui Divisi Teknis, Deliani Saragih,  menjelaskan jumlah Daftar Calon Sementara (DCS) 231 orang dan setelah melalui proses, ditetapkan hari ini jumlah DCT tetap sama jumlahnya,  yakni 231 orang. Sedangkan kursi yang diperebutkan di Humbahas hanya 25 kursi. Dengan demikian ada 206 orang yang tidak terpilih menjadi anggota Dewan. Dari 206 orang itu, hanya beberapa orang yang akan berkesempatan mengikuti Pergantian Antar Waktu selama 5 tahun.

Dengan jumlah caleg sebanyak 231 orang, bisa saja banyak caleg yang diiming-imingi sesuatu oleh pimpinan partai agar memenuhi kuota yang diharapkan.

Pada pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2014, kenyataannya ada pimpinan partai menjanjikan biaya kampanye, bahkan akan memberi alat-alat pertanian agar seseorang mau menjadi caleg,  terutama caleg perempuan. Hal ini dilakukan agar caleg perempuan mencapai kuota 30 persen.

Kenyataannya, biaya tersebut tidak pernah diberikan. Karena si caleg merasa tanggung berjuang maka dia meminjam uang ke sana ke mari dengan jaminan hartanya. Akhirnya biaya habis-habisan digunakan dengan situasi "pemilih dan caleg yang memberi uang" agar menang.

Bagaikan di pasar, terjadi tawar-menawar dari pemilih, tim pemenangan dan si caleg. Pasar dengan pembayaran tertinggi  memengaruhi caleg. Lalu, caleg akan berusaha mencari dana untuk pembiayaan lagi.

Orang yang berpikiran realistis tentu tidak akan terpengaruh oleh keadaan seperti itu. Tapi, yang kurang berpikir secara matematis dan merasa mampu, bisa terpengaruh.

Bagaimana dengan caleg yang tidak mempunyai uang dan tidak bisa mengharapkan pinjaman? Bisa saja keluarga dekat ikut membantu, tapi tidak mungkin semua biaya ditanggung pihak keluarga dekat. Kalau demikian halnya, maka caleg tersebut hanya pelengkap penderita saja. Setelah tidak terpilih, baru sadar dan menyesal.*

Jakarta, 27 September 2018

(Penulis adalah Advokat dan Ketua Komisi Hukum Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia)
Komentar
Berita Terkini