Berbohong Dilarang Semua Agama dan Setiap Orang Tidak Suka Dibohongi

Administrator Administrator
Berbohong Dilarang Semua Agama dan Setiap Orang Tidak Suka Dibohongi
Dok Pribadi
Djalan Sihombing SH

Oleh: Djalan Sihombing


Akhir-akhir ini, berita bohong berkembang pesat dan menjamur. Seolah-olah berita bohong itu bukan dosa lagi. Demi kepentingan pribadi atau kelompoknya, berita bohong diciptakan. Apalagi menjelang pelaksanaan pileg dan pilpres tanggal 17 April 2019 mendatang. 


Kemarin, Kamis 28/02/2019, dakwaan berita bohong/kasus Ratna Sarumpaet telah dibacakan jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Masih banyak lagi berita-berita bohong yang lagi proses penyelidikan dan penyidikan. Yang terbaru, mengenai heboh E-KTP warga Cina. 


Yang mengherankan, pembahasan kasus Ratna, tadi malam di KompasTV, 28/02/2019 antara Saor Siagian dan salah satu penasihat hukum Ratna, berbeda pendapat mengenai berbohong tersebut. Saor dengan tegas menatakan tidak boleh berbohong. Tetapi, penasihat hukum Ratna, seolah-olah tidak masalah seseorang berbuat bohong demi membela diri.  Padahal kebohongan dan akibat kebohongan itu yang mau diuji di Pengadilan, makanya saksi-saksi diperiksa. Saksi-saksi disumpah sebelum diperiksa, agar menyatakan apa yang didengar, dilihat dan dialami sendiri. Artinya, biar saksi tidak berbohong, tetapi mengatakan yang sebenarnya dan jujur.

Mengenai kasus Ratna, biarlah pembuktiannya berproses di pengadilan. Saya bukan untuk mencampurinya.


Semua Agama Melarang Berbohong


Tidak satu agama yang ada dan diakui di Indonesia membenarkan kebohongan. Baik agama Islam, Budha, Hindu, maupun Kristen. Semua agama tersebut dengan tegas melarang berbohong.  


QS.An-Nur : 11 disebutkan "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula)."


BUDHA mengajarkan dalam Dhammapada Kodha Vagga: XVII, 232, Vacῑpakopaṁ rakkheyya vācāya saṁvuto siyā, vacῑduccaritaṁ hitvā vācāya sucaritaṁ careti". "Sebaiknya orang selalu menjaga ucapan, sebaiknya ia bisa mengendalikan ucapannya. Setelah meninggalkan perbuatan jahatnya melalui ucapan, sebaiknya ia selalu mengembangkan perbuatan baiknya melalui ucapan". 

Dalam Samyutta Nikaya, 2010 : 287, Buddha mengajarkan bahwa "seseorang seharusnya hanya mengucapkan ucapan yang menyenangkan, ucapan yang disambut dengan gembira. Ketika diucapkan tidak membawa keburukan, apa yang diucapkan adalah menyenangkan bagi orang lain". Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita hanya berbicara hal-hal dengan benar dan bermanfaat. Perkataan yang mengandung makna dan bermanfaat. Sehingga dapat membawa kebahagiaan bagi yang mendengarnya. Dalam Kakacupama Sutta Majjhima Nikaya 21, Buddha mengatakan bahwa, ucapan benar dapat terjadi apabila terdapat lima syarat, yaitu, ucapan itu tepat pada waktunya, ucapan itu sesuai kebenaran, ucapan itu lembut, ucapan itu bermanfaat, dan ucapan itu penuh cinta kasih.


Dalam ajaran Hindu, Tri Pramana,  jika anda tidak melihat dan merasakan, tidak mengetahui sebab musababnya dan tidak mendengar langsung dari orang yang berkompeten, jangan berani berani ikut menyebarkan. Karena, lebih baik kita terlambat menyebarkan kebaikan daripada terburu-buru menyebarkan kebodohan.


Dalam ajaran Kristen, banyak  tulisan dalam Alkitab tentang berbohong.  Amsal 6 : 16-17 disebut : Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta,  tangan yang menumpahkan darah  orang yang tidak bersalah. Dalam Mazmur 34:14 disebutkan : "Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu".


Berbohong atau berdusta adalah satu dari sekian banyak kesalahan atau pelanggaran yang hampir semua orang pernah melakukannya.  Bahkan hal berbohong atau berdusta ini seringkali dianggap sebagai sesuatu yang sepele, lumrah dan dianggap sebagai kesalahan yang manusiawi.  Benarkah demikian?  Ketahuilah bahwa berkata bohong atau dusta  (tidak benar)  bukanlah perkara yang bisa ditoleransi karena hal itu merupakan dosa. Sebagaimana disebutkan di atas, semua agama melarangnya.


Setiap Orang Tidak Suka Dibohongi


Berbohong adalah perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan sebagaimana dilarang berdasarkan kitab suci agama-agama tersebut.  Bohong salah satu dosa lidah yang sangat berbahaya dan harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan.  Bohong atau dusta sumbernya dari Iblis, karena Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta.  Maka jika ada orang yang suka sekali berbohong atau berdusta, siapa bapanya?  Bila kita tidak mau disebut sebagai anak-anak Iblis maka kita harus berhenti berkata bohong atau dusta. 


Kita harus bisa menjaga lidah kita dari ucapan-ucapan yang menipu;  jika tidak, kita bukan hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, tapi juga mempermalukan nama Tuhan.  


"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu."


Jadilah manusia yang beradab dan beradat. Tidak satu orang pun manusia yang suka dibohongi orang lain. Jika kita suka dan senang dibohongi, berarti ada kelainan pada diri kita sendiri.(*)

Komentar
Berita Terkini