Oleh: Sebastian Hutabarat
Di antara ratusan buku yang kami beli, banyak yang belum saya baca.
Saat terbangun subuh tadi, saya mengambil salah satu novel, karangan Andrea Hirata.
Bukunya Laskar Pelangi telah menghipnotis saya untuk mencari tulisan tulisan Hirata lainnya.
Buku ini, yang entah kapan kubeli ini, berjudul Sebelas Patriot.
Berkisah tentang kecintaan Andrea pada sepak bola, PSSI dan kisah cinta Hirata pada Ayahnya, pemain striker kiri yang tempurung kaki kirinya diremukkan oleh Belanda, agar tidak lagi mengancam tim persepakbolaan Belanda yang lewat sepak bola, dikhawatirkan juga akan melahirkan Nasionalisme dan pemberontakan pada Belanda yang menguasai Belitong dan timahnya.
Bercerita tentang sepak bola, tetapi berkali kali air mata saya ikut bercucuran membaca cinta seorang Pemuda Belitung ini pada Ayahnya, dan pada Negerinya.
Juga bagaimana Hirata yang lahir dari kemiskinan rela bekerja serendah-rendahnya di Spanyol demi menabung membeli satu kaos bertanda tangan asli Luis Figo, pemain bola andalan Real Madrid, yang menjadi Idola Ayahnya Hirata.
Di akhir tulisan itu, Andrea Hirata menggambarkan cintanya pada Negerinya dengan kalimat begini:
"Tak ada yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain CINTA, dan takkan kubiarkan apa pun menodai cinta itu, tidak juga karena ulah para KORUPTOR yang merajalela, biarlah kalau mereka tidur mereka didatangi kuntilanak sumpah pocong"
Andrea Hirata punya kisah memilukan dan mengharukan pada kampung halamannya Belitong yang melahirkan cinta dan perjuangan mendalam untuk Negerinya.
Aku sebaliknya....
Berkali kali aku berselisih dengan Istriku Imelda Nada Marchia, yang terkadang dengan air mata berkata: "Bukan Negerinya yang salah Pa"
Manakala aku bicara soal APBD yang nyaris tak ada yang tidak dijarah, soal TPL yang membabat ribuan hektar hutan TOBA, soal Aquafarm yang mencemari Danau TOBA, dan kesemua itu lahir setelah TOBA menjadi bagian dari Indonesia dan Pemerintah Indonesia memberikan ijin pada aneka perusahaan yang tanpa ampun terus memperkosa Danau TOBA.
Terkadang istri saya bermain piano sambil menyanyikan lagu Tanah airku Indonesia, Negeri elok yang amat kucinta....
Sering ditengah menyenandungkan syair lagu itu aku terdiam, air mataku lagi lagi bercucuran, tak sanggup melantunkan syair syairnya....
Ah...Indonesia...ajari aku untuk belajar mencintaimu.....
Di sebuah group WA, seseorang menulis, suka tidak suka, TOBA sudah bagian dari Indonesia, kalau anda tidak setuju silahkan hengkang dari Negeri ini.
Dia tidak tulis pesan itu untuk siapa, tapi rasanya sangat menusuk tajam ke sanubari terdalam, karena mungkin seringnya saya menulis tentang pembiaran yang dilakukan Pemerintah Indonesia pada kerusakan alam TOBA dan Tanah Batak.
Dalam hati yang menjerit saya kerap bertanya, kemana Aku harus pergi?
Salahkah jika saya kembali ke tempat leluhur saya dulu memilih tinggal dan bermukim sebelum Negeri ini ada?
Salahkah jika saya lebih mencintai Toba dibanding Negri yang memberikan ijin pada perusahaan yang akhirnya sangat merusak Tanah yang sangat saya cintai ini?
Dalam suasana hati yang menyayat nyayat seperti ini, saya bisa paham kenapa bisa lahir karya karya seni seperti tulisan tulisan Andrea Hirata ini, atau syair syair lagu Nahum Situmorang, yang hening, sepi tapi indah di sanubari.
Tanah Batak yang indah ini, telah melahirkan banyak seniman dan orang orang hebat, yang sayangnya, memilih meninggalkan tanah kelahiran mereka demi Negeri yang memberi mereka hidup jasmani yang lebih layak.
Ya, 90 % atau sekitar 9 juta Orang Batak berpencar keseluruh dunia, sehingga kami yang kini tinggal di TOBA, hanyalah KW 3 dan yang lebih rendah, atau orang orang yang pulang karena 'kalah perang'.
Buah dari kami kami inilah yang kemudian ikut dalam barisan kehancuran Tanah Toba .
Simanungkalit, salah seorang pencipta lagu Batak hebat menulis begini dalam syair lagunya:
Alai dung hupajonok dompak ho, rohangku pe lao tu na dao, tarsunggul tu ari na ro, rohangku pe sai lam jonok, o tao toba na tio.
Yang artinya : Akan tetapi, dikala aku mau mendekat, hatiku berkelana dengan jauh, tersadar akan hari esok, hatikupun kian dekat, duhai TOBAKU nan JERNIH.....
Saya menduga, syair lagu itu menggambarkan kecintaan dan kerinduan mendalam akan Orang orang Batak di penjuru dunia akan Tao Toba dan Tano Batak.
Akan tetapi setelah mendekat, dan terbangun dari khayal, mulai berpikir akan masa depan, mau makan apa dan akan kerja apa di Tanah TOBA yang sangat indah tapi penuh batuan ini??
Akhirnya cinta pada TOBA sering hanya mimpi dan kata kata indah dalam syair dan lagu.
Dalam urusan syair dan lagu ini, Batak memang jagonya, tapi belum pada keberanian bayar harga untuk tinggal dan ikut berjuang memulihkan air Danau TOBA yang jernih seperti sedia kala, seperti yang Maha Pencipta menitipkannya pada Orang Batak dan Indonesia.
Ah, lagi lagi aku masih harus belajar bagaimana mencintai Negeri ini...
Adakah teman teman yang bisa membantu caranya?
Balige, Sabtu, 17 Maret 2018.(*)