Oleh Jeje Tobing
Di berbagai wilayah di Indonesia, ada banyak bentuk Perkumpulan atau Paguyuban yang didirikan atas dasar rumpun, daerah asal, seprofesi, sealumni dan lain-lain.
Tujuan dari semua perkumpulan atau pengelompokan itu, dimaksudkan sebagai sarana berkumpul untuk menggalang KEBERSAMAAN, membicarakan kepentingan bersama untuk segala hal yang dianggap baik dan menguntungkan komunitas mereka.
Dalam komunitas atau subetnis Batak misalnya kita mengenal ada banyak Perkumpulan atau Arisan Marga seperti; Sibagot ni Pohan, PTS, Tuan Dibangarna, dan lain-lain.
Jika ada kumpulan demikian, dapat dipastikan bahwa tujuannya adalah untuk hal-hal yang baik saja, hampir mustahil atau jarang dibentuk untuk tujuan melakukan kejahatan. Kecuali, bahwa akan ada pihak tertentu yg memanfaatkan perkumpulan itu untuk tujuan pribadinya semata.
Itu sebabnya dalam ajang pemilihan baik Pilkades, Pileg atau Pilkada, dan sebagainya, perkumpulan yg demikian hampir selalu diberdayakan atau dihidupkan untuk memperoleh dukungan kepada calon yang muncul.
Jika ada pihak yang berpikiran negatif atas komunitas tsbt atau menyebutnya primordial sektarian, saya sungguh kasihan kepada mereka karena mereka telah menjadi manusia yang paling munafik, tidak mengakui, tidak melihat kenyataan yang real di tengah kehidupan masyarakat.
Di wilayah Silindung atau Tarutung, ada satu kelompok marga yg sangat besar yg dikenal dgn PGM, singkatan dari Pomparan Guru Mangaloksa: terdiri dari 4 sub Marga yg besar pula yaitu 1. Hutabarat 2. Panggabean (plus Simorangkir) 3. Hutagalung 4. Hutatoruan (Hutapea dan Lumbantobing atau Tobing).
Keempat sub Marga ini sudah lama membentuk Paguyuban baik dalam konteks Parsadaan PGM se Taput, se Sumatera bahkan se-dunia.
Pun dalam kelompok yang lebih kecil ada Punguan Hutabarat Partali, Punguan atau arisan Lumbantobing Jaejae atau Ompu Sumuntul, dan sebagainya.
Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana manfaat segala bentuk perkumpulan itu bagi para anggotanya?
Mau ke mana dibawa hubungan ini? Kata sebuah lagu.
PGM zaman Now sesungguhnya adalah sebuah ide dan pemikiran utk sebuah kebersamaan dan upaya untuk "masipasangapan" (saling menghargai) di antara sesama "na mardongan tubu" (abang beradek). Sikap masipasangapan itu harus nyata dan dilakukan dalam tindakan nyata pula, khususnya bagi Generasi PGM kaum muda.
Istilah "PGM Jaman Now" ini pertama sekali saya dengar dari Bang Juliski Simorangkir saat kami berbincang di Tarutung, pada tgl 2 Januari 2018 yang baru lalu.
" Tokoh muda PGM harus memulai budaya baru dalam konteks PGM utk saling menopang dan mendukung. Jika misalnya pada periode ini Panggabean yamg jadi ketua PGM maka berikutnya kita parsangapi lah marga Hutabarat, Hutagalung atau Huta Toruan utk memimpin komunitas. Semua harus bergiliran karena semua mampu tetapi dengan tetap mengacu pada azas dan prinsip demokrasi yg baik," paparnya.
Paparan itu muncul dan dilatari oleh keprihatinan beliau melihat kondisi sosio-ekonomi dan politik yang terjadi di kalangan PGM di mana secara umum dan dalam bahasa sehari-hari semua ingin bersatu tapi dalam praktek dan tindakan tidak dilaksanakan.
"PGM memiliki banyak bentuk dan wujud persatuan tapi tidak memiliki Kesatuan yang utuh" tuturnya dengan suara lirih.
Juliski Simorangki, anggota DPRD Sumut (periode 2014-2019) yang juga Ketua DPP PKPI Sumut, pengusaha dan Direktur Utama dari dua perusahaan di bawah bendera PT Rayateh Utama, pada ajang Pilkada Taput 2018 sempat berniat mencalonkan diri namun akhirnya mengundurkan diri.
Dalam berbagai kesempatan, Tokoh Muda PGM ini sudah pernah menjumpai dan mengumpulkan para sesepuh PGM dalam rangka minta ijin dan doa restu serta menyatakan diri mau maju jika beliau dinilai lebih layak.
Beliau mengutarakan idenya, agar para putra/i PGM yang ingin maju dalam ajang Pilkada Taput agar terlebih dahulu diseleksi dan siapa yang lebih layak dan lebih siap agar didukung bersama.
"Saya siap mundur dan mendukung jika ada yg lebih mampu, layak dan lebih siap," kata Juliski pada Maret 2017 di Siantar Hotel; ketika itu ada Bapatua Bigmen L. Tobing (Mantan Kapolda Papua), Inang Fatimah Hutabarat (Wakil Ketua DPRD Taput), BapaUda Hulman L Tobing (Jkt), Opung Tuani Lumbantobing & Opung Boru Samosir (Mantan Bupati Tapteng) P Hutabarat, Juliski dan saya.
Dan ucapan beliau itu bukan sekedar isapan jempol tapi dibuktikan dengan memberi dukungan dan rekomendasi partai kepada JTP. Bahkan Juliski bersedia menjadi Ketua Team Pemenangan JTP FRENS.
Maaf buat para sesepuh PGM, para orangtua kami yang kami hormati. Tulisan dan ajakan ini saya tujukan kepada khususnya para kaum muda PGM.
Ijinkan saya bertanya kepada mereka:
"Saudara/i: Abang, Ito, Apara dan Adek ku_ apakah KITA mau dan siap?"
PGM Jaman Now, Bersatulah!
Bersatulahhhhh!!(*)