Hari Batik Nasional 2026: Jangan Jadikan Batik Sekadar Seragam, Adol Frian Dorong Jadi Kekuatan Ekonomi dan Identitas Bangsa

Administrator Administrator
Hari Batik Nasional 2026: Jangan Jadikan Batik Sekadar Seragam, Adol Frian Dorong Jadi Kekuatan Ekonomi dan Identitas Bangsa
Ist | Pelita Batak
Adol Frian Rumaijuk

Medan (Pelita Batak):

Hari Batik Nasional 2026 tidak semestinya berhenti pada seremoni mengenakan batik sehari dalam setahun. Di tengah perubahan selera generasi muda, derasnya arus budaya global dan persaingan industri kreatif, batik justru dituntut untuk terus hidup, berinovasi dan memiliki nilai ekonomi yang semakin kuat.

Pandangan itu disampaikan Adol Frian Rumaijuk, STP., MMA, dalam momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober.

Menurutnya, batik harus ditempatkan bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai aset strategis bangsa yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Jangan sampai kita hanya ramai memakai batik pada Hari Batik Nasional, tetapi setelah itu melupakannya. Batik harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi kekuatan ekonomi bagi para perajin dan pelaku UMKM,” ujar Adol.

Ia menilai, tantangan terbesar batik saat ini bukan sekadar mempertahankan eksistensinya, tetapi memastikan warisan budaya tersebut mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Generasi muda, kata dia, harus menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Batik perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih kreatif dan modern tanpa kehilangan filosofi serta karakter budaya yang melekat di dalamnya.

Batik Harus Naik Kelas

Adol mengatakan, pengembangan batik tidak cukup hanya mengandalkan kebanggaan terhadap warisan budaya. Diperlukan strategi yang mampu mempertemukan tradisi dengan inovasi, teknologi, desain dan pasar.

Digitalisasi, pemasaran melalui media sosial, perdagangan elektronik, kolaborasi dengan desainer serta pengembangan produk turunan menjadi sejumlah ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar batik.

“Batik harus naik kelas. Kita tidak boleh hanya menjual kain, tetapi menjual cerita, nilai budaya, kreativitas dan identitas Indonesia. Ketika nilai itu berhasil dikemas dengan baik, batik memiliki peluang besar untuk menjadi produk ekonomi kreatif yang semakin kompetitif,” katanya.

Menurutnya, kekuatan batik Indonesia justru terletak pada keberagamannya. Setiap daerah memiliki motif, warna, filosofi dan cerita yang berbeda.

Karena itu, pengembangan batik berbasis kearifan lokal harus terus didorong agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen produk budaya, tetapi juga menjadi pencipta dan pemilik nilai ekonomi dari kekayaan budaya tersebut.

Jangan Lupakan Perajin

Di balik kemegahan batik sebagai warisan budaya, terdapat para perajin yang menjadi aktor utama dalam menjaga keberlangsungannya.

Adol mengingatkan bahwa pelestarian batik harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan perajin. Regenerasi pembatik, peningkatan keterampilan, akses modal, teknologi produksi dan perluasan pasar harus menjadi perhatian bersama.

“Kalau kita ingin batik tetap hidup 20, 30 bahkan 100 tahun ke depan, kita harus memastikan generasi pembatik juga terus lahir. Anak-anak muda harus melihat profesi di sektor batik sebagai sesuatu yang membanggakan dan memiliki masa depan,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar institusi pendidikan, pemerintah, dunia usaha, komunitas dan generasi muda dapat membangun ekosistem yang lebih kuat bagi industri batik.

Dari Sumatera Utara untuk Indonesia

Dalam konteks Sumatera Utara, Adol menilai potensi kekayaan budaya daerah dapat menjadi sumber inspirasi pengembangan industri kreatif, termasuk melalui eksplorasi motif dan identitas lokal.

Keberagaman budaya Sumatera Utara, menurutnya, dapat diterjemahkan ke dalam karya kreatif yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

“Sumatera Utara memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan itu diterjemahkan menjadi produk kreatif yang memiliki daya saing, tanpa menghilangkan akar budayanya,” ujarnya.

Adol menambahkan, momentum Hari Batik Nasional harus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan pekerjaan satu pihak.

Masyarakat dapat berperan dengan menggunakan dan menghargai produk batik. Pemerintah dapat memperkuat ekosistem dan kebijakan. Pelaku usaha dapat membuka pasar. Sementara generasi muda dapat membawa batik ke ruang kreativitas dan teknologi yang lebih luas.

“Batik adalah identitas. Tetapi identitas yang tidak dikembangkan akan berhenti menjadi kenangan. Karena itu, tugas kita bukan hanya melestarikan batik, tetapi membuatnya terus hidup, berkembang dan relevan bagi generasi masa kini dan masa depan,” pungkas Adol.(*)

Komentar
Berita Terkini