Dari Data ke Perdamaian: Ketika Angka Bicara tentang Ancaman Nuklir

Oleh : Adol Frian Rumaijuk
Administrator Administrator
Dari Data ke Perdamaian: Ketika Angka Bicara tentang Ancaman Nuklir
Ist | Pelita Batak
Info grafis

Ada ironi yang menarik pada tanggal 26 September. Indonesia memperingati Hari Statistik Nasional, sementara dunia memperingati Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir.

Yang satu berbicara tentang angka. Yang lainnya berbicara tentang senjata yang daya rusaknya melampaui kemampuan manusia untuk menghitung seluruh akibatnya.

Tetapi justru di situlah keduanya bertemu.

Data memberi manusia kemampuan untuk memahami kenyataan. Dan pemahaman seharusnya membawa manusia pada keputusan yang lebih rasional, termasuk keputusan untuk mengurangi risiko kehancuran.

Hari Statistik Nasional lahir dari tonggak penting perjalanan statistik Indonesia. Pada 26 September 1960, pemerintah mengundangkan UU Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik, menggantikan aturan statistik peninggalan kolonial. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Statistik Nasional pada 1996.

Makna sejarahnya jelas: Indonesia membutuhkan data sendiri untuk merencanakan pembangunan sendiri.

Hari ini, kebutuhan tersebut menjadi jauh lebih besar.

Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi tidak selalu di tengah kualitas informasi yang baik. Angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, produksi pangan, pendidikan, kesehatan hingga pembangunan daerah semuanya membutuhkan data yang dapat dipercaya.

Sebab kebijakan yang tidak berpijak pada data berisiko menjadi kebijakan yang hanya berpijak pada asumsi.

12.187: Angka yang Seharusnya Membuat Dunia Berpikir

Sekarang mari kita melihat angka yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Menurut SIPRI Yearbook 2026, pada Januari 2026 dunia diperkirakan memiliki sekitar 12.187 hulu ledak nuklir.

Dari jumlah tersebut, sekitar 9.745 berada dalam persediaan militer yang berpotensi digunakan. Sekitar 4.012 telah dikerahkan bersama kekuatan operasional, sementara sekitar 2.100-2.200 hulu ledak yang telah dikerahkan diperkirakan berada dalam status siaga operasional tinggi.

Angka tersebut bukan sekadar statistik pertahanan.

Di baliknya terdapat pertanyaan tentang masa depan umat manusia.

Untuk apa manusia mempertahankan ribuan senjata yang sekali digunakan dapat menghasilkan kehancuran dalam skala yang sangat besar?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan karena SIPRI mencatat bahwa kesembilan negara pemilik senjata nuklir terus memodernisasi arsenal mereka selama 2025. SIPRI juga memperingatkan adanya risiko bahwa tren pengurangan senjata nuklir selama beberapa dekade dapat berbalik.

Artinya, dunia bukan sedang melihat persoalan nuklir sebagai sesuatu yang telah selesai.

Sebaliknya, perlombaan teknologi, ketegangan geopolitik dan modernisasi persenjataan membuat isu nuklir kembali menjadi persoalan serius.

Ketika Data Tidak Lagi Sekadar Data

Di sinilah saya melihat pentingnya Hari Statistik Nasional.

Statistik mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat opini, tetapi melihat bukti.

Kalau ada klaim bahwa dunia semakin aman, mari lihat datanya.

Kalau ada klaim bahwa senjata nuklir diperlukan untuk menjaga keamanan, mari lihat pula risikonya.

Kalau ada negara yang mengatakan persenjataan nuklir hanya untuk pertahanan, masyarakat internasional berhak bertanya: bagaimana memastikan senjata tersebut tidak digunakan, tidak salah dipersepsikan, tidak mengalami kecelakaan, dan tidak memicu eskalasi?

Sebab semakin besar kemampuan penghancuran, semakin besar pula konsekuensi apabila terjadi kesalahan perhitungan.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, dalam pesan untuk Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir 2026, menyebut meningkatnya ketegangan, ketidakpercayaan, kompetisi militer dan modernisasi arsenal nuklir sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan. PBB juga menyatakan bahwa ancaman bencana nuklir saat ini semakin meningkat.

Ini bukan lagi sekadar perdebatan ideologis.

Ini persoalan manajemen risiko global.

Ketika Diplomasi Mengalami Kebuntuan

Kondisi diplomasi nuklir juga memberikan sinyal penting.

Konferensi Tinjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir atau NPT Review Conference 2026 yang berlangsung di New York pada 27 April-22 Mei berakhir tanpa kesepakatan substantif.

Indonesia mengambil posisi aktif sebagai Koordinator Gerakan Non-Blok dan mengoordinasikan posisi 118 negara anggota GNB untuk mendorong implementasi NPT secara seimbang dan konsisten dengan komitmen perlucutan senjata nuklir.

Bagi Indonesia, ini bukan persoalan siapa yang paling kuat.

Justru sebaliknya.

Kekuatan Indonesia terletak pada diplomasi, konsistensi politik luar negeri dan komitmen terhadap perdamaian dunia.

Indonesia tidak memiliki senjata nuklir.

Karena itu, suara Indonesia seharusnya terus diarahkan pada penguatan sistem internasional yang mencegah penyebaran senjata nuklir, mengurangi risiko penggunaannya dan mendorong perlucutan senjata.

Dunia Tidak Kekurangan Senjata, Dunia Kekurangan Kepercayaan

Persoalan terbesar mungkin bukan hanya jumlah hulu ledak.

Persoalan yang lebih dalam adalah ketidakpercayaan antarnegara.

Ketika sebuah negara meningkatkan kemampuan militernya karena merasa terancam, negara lain dapat merespons dengan meningkatkan kemampuan militernya sendiri.

Terbentuklah siklus:

ketidakpercayaan -> persenjataan -> respons -> persenjataan lebih besar -> ketidakpercayaan semakin besar.

Pada akhirnya, teknologi berkembang lebih cepat daripada kepercayaan.

Padahal perdamaian membutuhkan keduanya.

Teknologi membutuhkan kontrol.

Kekuatan membutuhkan tanggung jawab.

Dan keamanan membutuhkan kepercayaan.

Data Harus Berpihak kepada Kehidupan

Bagi saya, inilah relevansi Hari Statistik Nasional dengan Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir.

Statistik tidak boleh hanya digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi atau jumlah penduduk.

Statistik juga harus membantu manusia menghitung risiko.

Berapa banyak sumber daya yang dialokasikan untuk persenjataan?

Berapa banyak negara yang memiliki senjata nuklir?

Berapa banyak senjata yang berada dalam status siaga?

Berapa banyak wilayah yang mengalami dampak pengujian nuklir?

Berapa besar dampak lingkungan dan kesehatan yang diwariskan kepada generasi berikutnya?

Dan yang paling penting:

Berapa harga yang harus dibayar umat manusia apabila diplomasi gagal?

Angka-angka tersebut seharusnya menjadi bahan pertimbangan para pemimpin dunia.

Sebab statistik terbaik bukanlah statistik yang membuat kita bangga karena memiliki kemampuan menghancurkan.

Statistik terbaik adalah statistik yang membantu kita mencegah kehancuran.

Dari Indonesia, Kita Bicara tentang Dunia

Tanggal 26 September seharusnya tidak berhenti sebagai dua peringatan yang kebetulan berada pada hari yang sama.

Hari Statistik Nasional mengajarkan bahwa bangsa yang ingin membangun masa depan harus menghormati data.

Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir mengingatkan bahwa dunia yang ingin bertahan harus menghormati kehidupan.

Keduanya bertemu pada satu prinsip sederhana:

keputusan besar harus dibuat berdasarkan kenyataan, bukan ketakutan.

Dunia membutuhkan lebih banyak data yang transparan, lebih banyak diplomasi, lebih banyak dialog dan lebih sedikit ancaman.

Indonesia pun harus terus mengambil bagian.

Bukan dengan berlomba memiliki senjata yang paling dahsyat.

Tetapi dengan memperkuat diplomasi, hukum internasional, kerja sama multilateral dan budaya perdamaian.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah peradaban bukanlah seberapa besar kemampuan manusia menciptakan kehancuran.

Ukuran keberhasilan peradaban adalah seberapa jauh manusia mampu menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kekuatan yang dimilikinya untuk mencegah kehancuran itu terjadi.

Pada 26 September ini, mari kita membaca angka dengan lebih kritis.

Karena di balik angka 12.187 hulu ledak nuklir, ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting:

Apakah kita akan mewariskan kepada generasi berikutnya dunia yang semakin bersenjata, atau dunia yang semakin aman?

Dari data, kita membaca kenyataan.

Dari kenyataan, kita mengambil pelajaran.

Dan dari pelajaran itu, kita harus membangun perdamaian.

(*)

Adol Frian Rumaijuk

Komentar
Berita Terkini