Green Jobs Bertambah, Mahasiswa Vokasi Perlu Lebih Dekat dengan Praktik Industri

Administrator Administrator
Green Jobs Bertambah, Mahasiswa Vokasi Perlu Lebih Dekat dengan Praktik Industri
Ist | Pelita Batak

Jakarta (Pelita Batak):

Ekspansi besar sektor ketenagalistrikan hingga 2034 diproyeksikan membuka 1,7 juta lapangan kerja baru. Proyeksi itu mengikuti rencana penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, pembangunan hampir 48.000 kilometer sirkuit jaringan transmisi, dan sekitar 108.000 MVA gardu induk di berbagai wilayah Indonesia.

Di balik ekspansi itu, kebutuhan tenaga kerja hijau ikut melonjak. Sektor ketenagalistrikan diperkirakan membuka sekitar 760 ribu peluang green jobs, menandai pergeseran kebutuhan kompetensi menuju proyek-proyek energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Peluangnya besar, tetapi tantangannya bergeser pada kesiapan sumber daya manusia. Seberapa siap generasi yang masih berada di bangku pendidikan untuk memenuhi kebutuhan kompetensi industri ketenagalistrikan yang terus berkembang?

Di sinilah kolaborasi kampus dan industri menjadi penting untuk memperkecil jarak antara pembelajaran dan kebutuhan kerja. Bagi mahasiswa vokasi, kesiapan tidak cukup dibangun lewat teori, tetapi juga melalui pengalaman praktik, penguasaan perangkat, pemahaman prosedur, dan standar kerja profesional.

Direktur Politeknik Negeri Jakarta, Dr. Syamsurizal, mengatakan kesiapan tersebut tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis. “Keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh hard skill, seperti pengetahuan teknis dan penguasaan alat, tetapi juga soft skill yang kuat. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya kerja perusahaan, dan disiplin menjalankan SOP menjadi bekal yang sama pentingnya,” ujar Syamsurizal.

Gambaran kesiapan itu mulai terlihat dari serapan lulusan. Di Jurusan Teknik Elektro, tingkat serapan lulusan pada 2026 tercatat sekitar 70 persen. Secara keseluruhan, 41 persen lulusan PNJ pada wisuda September 2026 telah bekerja atau berwirausaha sebelum menerima ijazah.

Namun, terserap ke dunia kerja baru menjadi satu ukuran. Tantangan berikutnya adalah memastikan lulusan mampu bekerja sesuai standar kualitas, produktivitas, dan keselamatan yang dituntut industri.

Dalam pekerjaan kelistrikan, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menyelesaikan pekerjaan. Ketepatan pengukuran, pemilihan alat, kondisi perangkat, serta kepatuhan terhadap prosedur turut menentukan kualitas dan keselamatan kerja.

Karena itu, teknisi perlu memahami batas penggunaan perangkat, memeriksa kondisi alat sebelum digunakan, mengikuti prosedur kerja, serta menggunakan perlengkapan pelindung sesuai kebutuhan.

Pakar K3 bidang kelistrikan sekaligus dosen kelistrikan Politeknik Negeri Jakarta, A. Damar Aji, mengatakan kompetensi tenaga kelistrikan mencakup keterampilan, sikap kerja, dan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi berbeda. “Dari sisi pengguna, alat yang aman juga harus tangguh dan nyaman digunakan. Ketahanan terhadap debu, air, dan benturan serta desain yang ergonomis membantu mengurangi risiko kerja tanpa mengorbankan kualitas dan produktivitas,” kata Damar.

Kebutuhan itu semakin penting ketika teknisi bekerja pada sistem bertegangan atau instalasi yang tidak dapat dimatikan. Dalam situasi tersebut, ketepatan pengukuran harus berjalan bersama prosedur keselamatan dan penggunaan perangkat yang sesuai.

Dalam pekerjaan kelistrikan, tuntutan kompetensi itu bertemu langsung dengan kondisi lapangan yang beragam. Teknisi dapat bekerja di ruang terbatas, pencahayaan yang berubah, hingga susunan instalasi yang kompleks. Di tengah tuntutan penyelesaian pekerjaan secara cepat, ketepatan pengukuran tetap menjadi bagian penting untuk memahami kondisi instalasi sekaligus menjaga keselamatan kerja.

Kebutuhan tersebut membuat pemilihan perangkat menjadi bagian dari kompetensi teknisi. Bosch Power Tools memperkenalkan tiga alat ukur dengan fungsi berbeda untuk menyesuaikan dengan karakter pekerjaan di lapangan. GMC 600-15 Professional Clamp Meter digunakan untuk pengukuran arus, sedangkan GFM 1000-15 Professional Fork Meter memiliki desain garpu terbuka yang membantu pengukuran pada panel dengan susunan kabel padat tanpa memutus sirkuit.

Untuk kebutuhan pengujian yang lebih beragam, GDM 600-15 Professional Digital Multimeter dilengkapi dengan perlindungan IP65 dan telah melewati uji jatuh dari ketinggian dua meter. Ketiga perangkat juga memiliki layar untuk membantu pembacaan hasil pengukuran dalam berbagai kondisi pencahayaan.

Perbedaan fungsi tersebut memberi teknisi pilihan perangkat sesuai karakter pekerjaan. Penggunaan alat yang tepat membantu proses pengukuran berlangsung lebih efisien tanpa mengabaikan akurasi dan keselamatan.

Country Business Director Bosch Power Tools Indonesia, Edwin Irawan, mengatakan pemilihan peralatan yang sesuai menjadi bagian penting dari pekerjaan teknisi. “Teknisi listrik di lapangan sering kali menghadapi instalasi beragam dan tenggat waktu yang ketat. Mengandalkan peralatan yang aman dan sesuai standar keselamatan menjadi cara untuk menjaga efisiensi sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan,” ujar Edwin.

Di tengah pembangunan infrastruktur dan perkembangan teknologi kelistrikan, pengalaman praktik dapat membantu mahasiswa memahami bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya bergantung pada kemampuan mengoperasikan sebuah perangkat. Pemahaman terhadap pekerjaan, kemampuan memilih alat sesuai kebutuhan, ketelitian, produktivitas, serta kebiasaan bekerja dengan aman menjadi fondasi yang dapat terus digunakan ketika teknologi berubah.(*)

Komentar
Berita Terkini