Pendukung Jtp-Frends Dikeroyok

Pilkada Taput Ternodai Aksi Intimidasi

Diminta ASN & Polri Netral
Administrator Administrator
Pilkada Taput Ternodai Aksi Intimidasi
Jeje Tobing
Salah satu korban

Laporan Jeje Tobing


Dalam seminggu terakhir relawan dan pendukung Jtp Frends (sebutan untuk Pasangan Calon Nomor Dua, dalam Pilkada Taput: DR. Jonius Taripar P. Hutabarat S. Si: M Si dengan Frengki P Simanjuntak SE. M. Si) sudah beberapa kali mengalami tindakan Intimidasi dan kekerasan yang disebut dilakukan secara terorganisir oleh kubu salah satu pasangan calon yang juga ikut berlaga dalam Pilkada Taput 2018.


Sebelumnya dalam terbitan berita koran SIB pada hari Rabu tanggal 13 Juni 2018, yang berjudul: "Jangan Intimidasi Masyarakat hanya untuk kepentingan Politik"


Berawal dari kejadian di Siborong borong pada hari Selasa malam 12 Juni 2018, telah terjadi  intimidasi terhadap pasangan Suami istri (Pasutri) bapak Benget Siahaan dimana mereka dintimidasi seorang pria berinisial UN,   hanya gara gara selembar poster Paslon yang robek yang kebetulan ditempel di rumah Pasutri tersebut.


Demikian kronologi kejadian sebagaimanw terungkap melalui percakapan via telepon dengan salah seorang Team Advokasi Jtp Frends, M. Yasir Silitonga.


Sehari setelah kejadian itu, pada Rabu malam 13 Juni 2018, telah terjadi juga aksi pengepungan di rumah Koordinator Jtp Frends di Kecamatan Pagaran, yang diduga dilakukan oleh segerombolan massa mengaku pendukung Paslon Nomor Satu. 


Dari sebuah video liputan yang diunggah oleh Sdr Tulus Nababan terungkap bahwa Korcam tersebut selain diintimidasi, ternyata juga diancam dan disandera selama tiga jam.


Perlakuan yang paling tragis dialami oleh Pasutri Gultom dan istrinya karena selain diintimidasi, Gultom juga dikeroyok oleh empat orang yang sudah dikenal bahkan istrinyapun tak luput dari penganiayaan.


Menanggapi kejadian yang meresahkan itu,  seorang warga: bapak B. Hutagalung (Amani Hinsa) penduduk Komplek Stadion Tarutung,  Tapanuli Utara, dalam keheranannya  mempertanyakan peran pihak keamanan yang dinilainya kurang cepat tanggab atas perilaku kekerasan tersebut:


"Heran juga saya kenapa para pelaku kekerasan itu, katanya belum ditangkap atau ditahan. Kalau nanti teman teman yang kena keroyok itu tidak bisa terima karena kawan-nya dikeroyok lalu mereka bertindak sendiri, kan bisa gawat nanti pak," sebut bapak dua anak ini dengan rasa khawatir.


Hampir senada dengan Amani Hinsa, bapak Sihombing juga menanyakan netralitas  para ASN yang ada di Taput dan kelambanan pihak keamanan dalam mengantisipasi tindakan Intimidasi tersebut.


"Ai gabe heran do iba Amang, nga dohot Kades kampanye, gariada adong na mangancam naeng manarik kartu PKH molo so pinilliit na dirohana i. Songoni angka Polisi on, boasa gabe hira na dipasombu angka namasa on. Hira na so netral do idaon Amang," sebut Sihombing ketika awak media Pelita Batak meminta pendapat nya terkait adanya tindakan Intimidasi menjelang hari H Pilkada.


Pada status seorang Netizen, seorang pemilik akun FB bernama Hendra Simbolon dalam statusnya menyebutkan bahwa saat kontestasi kian mendekati hari H, kubu salah satu Kandidat seperti nya tidak siap kalah sehingga mereka bertindak destruktif dan meningkatkan eskalasi tekanan, intimidasi, persekusi yang semakin gencar. "Lalu apakah tindakan ini salah satu nya cara?? Mungkin saja. Entah demokrasi jenis apa yg mereka anut," sebut Hendra dalam statusnya.


"Dari semua rangkaian kejadian ini, semestinya  pihak yang berwajib harus menganggapnya sebagai hal yang berbahaya dan sangat urgen untuk diusut, dan dituntaskan. Kalau bisa secepatnya, karena dampak dari lambatnya penanganan kasus seperti ini adalah munculnya kasus-kasus yang sama dan situasi bisa jadi lebih memburuk," tutur Hendra memberi saran.(*)

Komentar
Berita Terkini