Medan (Pelita Batak):
Dies Natalis ke XII Sekolah Tinggi Teologia (STT) Paulus dirangkai dengan seminar 'Pemimpin Yang Ideal'. Dengan menghadirkan sejumlah narasumber, acara yang berlangsung sukses itu dilaksanakan di Hotel Danau Toba Internasional (HDTI) Medan, Jumat (24/08/2018).
Seminar yang digelar diikuti Ketua Yayasan, Dosen - dosen STT Paulus, Mahasiswa/i Pasca Sarjana & Program S1 yang akan di Wisuda Sabtu 25 Agustus 2018. Narasumber diantaranya Jadi Pane, SPd., Dr Adolfina E Koamesakh,MTh, M.Hum, Binsar Simatupang SE., dan dimoderatori Joy Sopater Wasiyono,ST., MTh. Hadir Ketua Umum Yayasan Pater Chrysostomos Manalu.
Kesempatan itu, Jadi Pane mengatakan emimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain dalam situasi yang kompleks dan dinamis. Pemimpin juga seharuanya bertanggungjawab dan bekerjasama dalam pencapaian visi dan misi bersama. "Tahun-tahun politik seperti saat ini, kita sebagai warga negara yang baik harus turut ambil bagian untuk menentukan calon pemimpin yang ideal bagi bangsa ini," kata Jadi mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam proses tahun politik.

Khususnya dalam konteks warga gereja, ada beberapa hal yang harus dimiliki untuk menjadi pemimpin dalam pribadi Musa ketika memimpin bangsa Israel keluar dari mesir : antara lain1) integritas diri menyangkut kecakapan, kemampuan; 2) Integritas Rohani, yaitu takut akan Tuhan;3) Integritas Sosial yaitu dapat diterimah ditengah tengah masyarakat (kelompok); 4) Integritas Ekonomi yaitu takut akan suap atau tdk korupsi; dan 5) Integritas Kerja yaitu kemauan kerja.
Dikatakan Pane, dalam perjalanannya ketika organisasi (komunitas) berkembang maka dibutuhkan pembagian tugas. Ada struktur dan mekanisme yang harus dibangun dan dilakukan seorang pemimpin. Itulah yang dilakukan Musa dalam perjalanan kepemimpinannya dengan mengangkat pemimpin untuk 1000, 400 bahkan sampai kelompok 40.
Pada kehidupan masa kini, mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia harus memperlengkapi dirinya dengan berorganisasi sehingga mampu memimpin di tengah-tengah masyarakat. Berorganisasi akan membuka wawasan serta membuka peluang untuk memperluas jaringan untuk meningkatkan kapasitas diri.
"Mahasiswa Teologia jangan tabu untyk bicara politik apalagi berorganisasi, karena di tengah tengah tantangan yang kita hadapi, mahasiswa teologia sebagai bagian dari gereja menjadi inisiator terhadap upaya-upaya rekonsiliasi antar agama," ujarnya.
Mahasiswa teologia harus proaktif mendukung agar agama-agama keluar dari "penjara-penjara" eksklusifisme dan mulai berkarya membangun bangsa, demi kesejahteraan dan masa depan bersama. Negara Republik Indonesia adalah negara berketuhanan, namun menjunjung tinggi kepelbagaian yang terkandung dalam bhinneka tunggal Ika. Sehingga, selain warga negara menganut salah satu agama, juga harus berdiri sebagai warga negara yang menjunjung tinggi keberagaman suku, agama, budaya dan lain sebagainya.
Selain itu, kata Jadi, mahasiswa juga harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang pada hakikatnya untuk mampu membangun jaringan kerja, seperti menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa penghubung internasional dan teknologi informatika.
Acara diawali dengan acara nasional dan ibadah singkat, serta dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Yayasan Pater Chrysostomos Manalu.
(TAp)