Atas dasari konsep hamajuon inilah Nommensen melaksanakan program kekristenan di tanah Batak melalui program Pendidikan, Kesehatan, Diakonia, dan Pekabaran Injil. Dimana Injil diberitakan, disana ada program pendidikan, kesehatan, diakonia, dan pekabaran Injil dilaksanakan. Pendidikan, kesehatan, dan diakonia, tidak terlepas dari pemberitaan Injil. Hal inilah yang dicanangkan dan dilaksankan Nommensen ketika membangun pos-pos penginjilan dengan membentuk pargodungan sebagai stase penginjilan.
Pada generasi pertama sampai generasi ke tiga atau ke empat, sekitar tahun 1950-an, kekristenan di tanah Batak, yang dapat dilihat kehidupan gereja HKBP, konsep program pargodungan itu sangat maju. Bahkan sisa kejayaannya masih dapat dilihat pada awal tahun 1970-an. Pendidikan di HKBP dengan kehadiran berbagai sekolah di berbagai jemaat dan resort sangat mengagumkan. Itu semua karena ada semangat kemajuan yang dibungkus oleh Injil itu sendiri.
Filosofi dan pandangan hidup tentang pendidikan akhirnya menjadi suatu harapan untuk dapat memperbaiki masa depan. Pendidikan akhirnya dipahami secara tingkat pemikiran teoretis dan praktis menjadi salah satu objek pencapaian untuk dapat merubah masa depan. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen Batak, pendidikan adalah suatu pokok utama dalam membangun masa depan.
Dengan demikian, pendidikan sejak dini, atau mengikut-sertakan anak mengikuti pendidikan formal dengan biaya pendidikan yang tergolong mahal, hal itu secara sadar dipahami sebagai asset masa depan. Tindakan dan praktek mengikut-sertakan anak dalam proses pendidikan adalah suatu upaya deposito kehidupan untuk masa depan. Huria Kristen Batak Protestan sudah melakukan itu sejak lahirnya di Tanah Batak. Sekarang bagaimana gereja HKBP juga harus meningkatkan kualitas pelayanannya dalam 4 pilar pelayanan Nommensen. Pelaku untuk memajukan kualitas pelayanan adalah kita semua, pelayan dan jemaat secara umum. Perlu kita ingat bahwa jemaat HKBP adalah jemaat yang missioner”. Demikian penjelasan Ephorus.
Pembinaan inipun berakhir sekitar Pkl. 15.15 WIB. Ketua Panitia Pembinaan Pdt. Agus Siahaan, S.Th juga menambahkan kalau pengalaman pelayanannya ketika pernah ikut dalam memberikan pengajaran Pendidikan Agama Kristen dimana ada sekolah-sekolah yang tidak memiliki Guru Agama Kristen. Memang benar kalau Sekolah meminta pendeta untuk mengajar dan memberikan nilai, namun tidak diperkenankan dilaksanakan di sekolah sehingga pelaksanaannya dipusatan di gereja seperti yang terjadi saat ini di salah gereja GKI dan HKBP Subang, gereja inilah yang sekarang menjadi tempat sekaligus pengelola Pendidikan Agama Kristen.
Pengalamannya pernah kejadian, kalau Pendeta telah memberikan soal dan memberikan nilai hasil ujian ke pihak sekolah, namun nilai yang sampai kepada anak didik justru nilai rendah semua. Itu sebabnya pengajar keberatan dan akhir meminta nilai dikembalikan agar diserahkan kepada orangtua siswa.
Akhirnya orangtua paham kalau nilai itu dikurangi oleh pihak sekolah agar siswa tidak memperoleh nilai yang baik, demikian penjelasan pengalaman beliau dalam pelayanan tentang tantangan pendidikan yang dihadapi oleh jemaat. Ketua Panitia pembinaan ini juga menambahkan kepada peserta, kalau Ephorus selalu berkenan menerima masukan dan pemikiran dari jemaat, dan berkenan memberikan jawaban yang benar akan pertanyaan-pertanyaan, beliau menyarankan bila masih ada pertanyaan maka bisa dituliskan dan akan disampaikan kepada Ephorus HKBP. Pembinaan inipun diakhiri dengan sukcaita dan menyempatkan untuk berfoto bersama.(*)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified