Medan (Pelita Batak):
Demikian disampaikan oleh Parlindungan Purba SH MM saat menghadiri World Alliance of Religions Peace Summit (WARP) pada tanggal 17-19 September 2018 di Incheon Korea Selatan. Acara ini dihadiri oleh ratus ribuan pemuda dan tokoh agama dari 350 organisasi di 120 negara yang bergerak di bidang perdamaian. Acara ini membahas beragam konflik global yang harus segera dituntaskan.
Acara ini adalah ke empat kalinya di Korea Selatan yang diselenggarakan oleh Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) yang terdaftar di ECOSOC PBB, International Women's Peace Group (IWPG), International Peace Youth Group (IPYG) yang semua berkantor di Korea Selatan.
Kegiatan WARP Summit September 2018 ini adalah acara perdamaian yang dilaksanakan pertama kali pada tahun 2014 untuk merealisasikan perdamaian dunia dan menghentikan peperangan. Pada peringatan ke empat ini mengambil tema "Kolaborasi untuk Pembangunan Perdamaian : Membangun Komunitas Damai Melalui DPCW (Declaration of Peace and Cessation of War atau Deklarasi Internasional yang mampu mencegah terjadinya perang dan mencapai perdamaian dunia)" yang di hadiri oleh lebih dari 2000 orang dari setiap bidang yaitu tokoh Politik seperti Mantan Presiden Rumania, Hungaria, Kroatia, Ekuador, dll serta Perdana Menteri Tuvalu, Bosnia, Menteri-menteri lain, Tokoh Hukum, Pendidikan, Agama, Wanita, maupun Pemuda. Jumlah peserta yang menghadiri Acara tersebut sebesar 200,000 orang dari dalam Negeri maupun dari Luar Negeri.
Topik pembicaraan dalam acara ini adalah tentang peran dan tanggung jawab pemimpin global untuk penghentian perang dengan memberikan solusi mendasar untuk penghentian perang; Tindakan kooperatif untuk mengembangkan DPCW menjadi dokumen yang mengikat secara hukum; Tindakan kooperatif untuk mencapai unifikasi damai Semenanjung Korea; Kerja sama HWPL untuk "Proyek Perdamaian Dunia".
DPCW menegaskan kembali prinsip persamaan kedaulatan nasional dan mendorong Negara untuk mempromosikan perdamaian internasional dan berkonsultasi dengan negara-negara lain tentang premis rasa saling menghormati, persamaan hak semua orang dan hak penentuan nasib sendiri. Juga, itu menyebutkan semua elemen yang dapat menyebabkan perang dan konflik dan mencoba untuk mencegahnya berkembang. Berdasarkan deklarasi ini, HWPL membuat kegiatan perdamaian yang benar-benar mengakhiri perang.
"Kita hidup udara yang sama, bumi yang sama, kita harus bangun perdamaian", ujar Chairman HWPL Mr. Man Hee Lee, Jumat (19/9). Dalam kesempatan ini Mr. Man Hee Lee juga menegaskan bahwa konferensi yang berlangsung dari 17-20 September ini bukanlah sarana untuk mencari posisi atau keuntungan dalam pemerintahan maupun politik, tapi betul-betul demi perdamaian. Ketua HWPL Mr. Man Hee Lee berharap tidak ada lagi senjata dan perdamaian dapat dimulai dari keluarga.
Perwakilan dari Negara Indonesia Parlindungan Purba, Wakil Ketua Komite II DPD RI, yang mewakili Ketua DPD RI Bapak Oesman Sapta Odang, juga menghadiri sesi-sesi yang diadakan dalam acara tersebut. Parlindungan mengatakan DPCW yang terdiri dari 10 Artikel dan 38 klausa ini sangat diperlukan di Negara Indonesia untuk membangun perdamaian dalam negeri sendiri maupun perdamaian Internasional.
Hadir dari Indonesia Pimpinaan perguruan tinggi dan tokoh-tokohmasyarakat dan keagamaan seperti Ali Muntarif UIN Jkarta, Abdul Rahim Kopertais 8 Makassar, Elza Syarif, Zainul Fuad UIN Medan.
"Konten dari DPCW ini adalah konten yang luar biasa karena menyebarkan Perdamaian dengan mengembangkan Pendidikan Perdamaian serta menjadi solusi untuk menhentikan peperangan yang terjadi di dunia," jelas Parlindungan.
Parlindungan menyampaikan akan berusaha untuk membantu mempromosikan DPCW ini kepada tokoh-tokoh pemerintah di Indonesia supaya DPCW yang terdiri dari 10 Artikel dan 38 Klausa ini dapat diajukan ke PBB.
"Nilai Universal dalam pertemuan ini sanga t sesuai dengan nilai dan semangat yang terkandung dalam UUD 1945. Kita akan mengusulkaan agar konten dan pesan DPCW ini bisa dikembangan di dalam kurikulum sekolah," jelas Parlindungan.(TAp|*)