2017, Konsumsi Semen Nasional Diprediksi Capai 84 Juta Ton

Administrator Administrator
2017, Konsumsi Semen Nasional Diprediksi Capai 84 Juta Ton
Okz|PelitaBatak
Ilustrasi

Jakarta (Pelita Batak) :
Konsumsi semen di dalam negeri diprediksi akan meningkat hingga 84,96 juta ton di tahun ini.

Hal tersebut seiring dengan pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilaksanakan pemerintah. Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, proyek pemerintah membutuhkan banyak pasokan semen dan akan naik setiap tahunnya.

]BODT Kejar Progres Pembangunan Pariwisata Danau Toba>>>>

Selain itu, maraknya pembangunan perumahan dan properti juga menjadi faktor meningkatnya permintaan semen. "80 persen konsumsi semen adalah oleh masyarakat," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (10/1/2017).

Dia menjelaskan, untuk mengukur suatu negara apakah terbangun atau tidak dapat dilihat dari pertumbuhan industri semen pada negara tersebut.
"Kalau industri semen di negara tumbuh, maka pembangunan di dalam negeri juga pasti tumbuh, begitu gampangnya," lanjut dia.

Perang Harga Jual Semen

Kinerja PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) tahun ini masih akan menghadapi tantangan ketatnya persaingan pasar domestik seiring bertambahnya kapasitas.

Analis dari UOB Kay Hian Securities, Adrianus Bias Prasuryo, menyatakan perang harga jual semen di Jawa seiring bertambahnya kapasitas produksi produsen semen sebesar 13 persen atau sebesar 11 juta ton.

Tambahan kapasitas utamanya dari pabrik SMGR sebesar 6 juta ton dan tambahan kapasitas dari pabrik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) di Citeureup, Jawa Barat sebesar 4,4 juta ton.

"Tambahan kapasitas untuk pasar Pulau Jawa sendiri sebesar 20,6 persen sehingga berpotensi memperburuk perang harga jual di kawasan, khususnya di Jawa Tengah," ujarnya dalam hasil riset yang dipublikasi Selasa, 10 Januari 2017.

Menurut Adrianus, tahun ini akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Semen Indonesia. Sebab perusahaan mendapatkan tambahan kapasitas dari dua pabrik di tengah lesunya pasar eskpor dan domestik, juga kompetisi di pasar domestik semakin ketat karena banyaknya pemain baru. Upaya efisiensi biaya operasi perusahaan sejak 2016, tampaknya akan sulit menekan beban karena mahalnya biaya energi. (TAp/BUMN)

Komentar
Berita Terkini