-Pasangan Pastor dan Ustad di Pilkada Tapteng,

Toleransi Kekuatan Besar di Tengah Keberagaman

Administrator Administrator
 Toleransi Kekuatan Besar di Tengah Keberagaman
Ist|PelitaBatak
(kiri-kanan) Krisman Siahaan, Anggota DPD RI Parlindungan Purba, SH MM, Pastor Rantinus Manalu, Tokoh Masyarakat Sumut Dr RE Nainggolan MM, dan Romein Manalu,ST di Medan, Sabtu (21/1/2017).

Medan (Pelita Batak):
Sumatera Utara (Sumut) bahkan Indonesia dihuni oleh masyarakat yang multi etnis, agama, ras dan budaya. Keberagaman itu sendiri menjadi potensi dan modal besar untuk mencapai cita-cita luhur bangsa ini, menjadi bangsa yang besar, maju dan sejahtera.

Demikian diskusi yang mengemuka dalam diskusi sederhana Tokoh Masyarakat Sumut Dr RE Nainggolan MM, Anggota DPD RI Parlindungan Purba, SH MM, Pastor Rantinus Manalu, Bapak Krisman Siahaan, dan Romein Manalu,ST di Medan, Sabtu (21/1/2017). "Sebagai catatan sejarah, kemerdekaan yang sudah dinikmati bangsa Indonesia sejak tahun 1945, merupakan perjuangan seluruh putra-putri bangsa. Tidak pernah pejuang kemerdekaan sepanjang catatan sejarah membedakan latar belakang seseorang dari sisi status untuk turut berjuang. Melainkan ada tujuan yang sama, merebut kemerdekaan," kata RE Nainggolan.

Demikian juga halnya bagi generasi penerus bangsa, harus tetap bersatu padu jika menginginkan bangsa ini tetap bisa melanjutkan pembangunan mengisi kemerdekaan itu. "Kebersamaan,Jiwa sosial dan rasa toleransi yang sudah tertanam di dalam sanubari kita selama ini harus tetap dipupuk, demi keutuhan bangsa ini," lebih lanjut RE Nainggolan mengemukakan, bahwa tidak ada  warga negara yang tinggal dan berkebangsaan Indonesia karena kebetulan. "Pola nya yaitu, saya adalah bangsa Indonesia yang  beragama kristen, bersuku Batak, dan seterusnya. Saya bukanlah orang batak yang kebetulan orang Indonesia," katanya.

Demikian disampaikan Senator asal Sumut, Parlindungan Purba, menyikapi kondisi kekinian di tengah masyarakat. Khususnya dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun aspek pemerintahan dan yang lainnya. "Mari sama-sama menanamkan rasa percaya diri kepada orang atau sosok yang berbasis kinerja. Sebab, kita semua adalah satu bangsa dan satu tanah air tanpa mengabaikan perbedaan yang ada," ujarnya.

Sebab, lanjut Parlindungan, Indonesia maupun Sumut sudah harus mendapat sosok-sosok pemimpin yang berbasis kinerja ke depan. Sehingga apa yang menjadi wajah Sumut, khususnya, selama ini sudah saatnya untuk berubah. "Pendidikan politik yang diterima warga kita harus berbasis politik yang sehat, tanpa memperalat agama, ras, suku dan yang lainnya yang seolah dapat membedakan yang satu dengan yang lain,"  katanya.

Romein Manalu,ST dan Siahaan senada mengatakan kembali bahwa perbedaan yang ada secara natural akan menjadi kekayaan yang luar biasa besar dan energinya positif. "Sebagaimana negara ini telah didirikan dan diperjuangkan sebelumnya, maka keberagaman harus dipupuk menjadi aset dan potensi yang besar," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Pastor Rantinus Manalu yang maju menjadi Calon Bupati Tapanuli Tengah berpasangan dengan Ustad Shodikin Lubis (PAUS) periode 2016-2021 mengatakan, kehadiran mereka di Pilkada Tapteng juga untuk menyatakan bahwa perbedaan agama bukanlah penentu hasil kinerja yang akan dilakukan. "Lewat perbedaan ini, kita akan lebih saling santun dan bisa memikirkan hal-hal yang hakiki untuk kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Tidak cukup hanya memenangkan Pilkada nantinya menurut Rantinur, melainkan bagaimana kerja sama yang akan terbangun di jenjang kepala daerah, jajarannya dan masyarakat. "Akan banyak tantangan jika kita hanya satu jenis dan homogen, selain sulit untuk berkembang juga akan kerdil sendiri," ujar Calon Bupati Tapteng nomor urut 2 ini. (TAp)

Komentar
Berita Terkini