Turbin PT INALUM Terancam?

Administrator Administrator
Turbin PT INALUM Terancam?
IST|Pelita Batak

MUNGKIN judul di atas tidak tepat bagi para ahli tetapi buat para awam, kira-kira begitulah kesimpulannya dengan mengikuti uraian berikut. Uraian di maksud terdiri dari dua postingan yang saya terima via WhatsApp Selasa sore dari seorang sahabat Mangaliat Simarmata, S.H.

Postingan pertama adalah berita online berjudul “Rekayasa Cuaca di Danau Toba Berakhir, Permukaan Air Naik 23 CM” (Berita Gambar, Selasa, 07 Desember 2021). Kedua, tulisan “Wahai PT. INALUM ....”.

Saya tertarik postingan yang terakhir, isinya sebagai berikut:

“Wahai PT. INALUM....semua orang dan dunia tahu... sangat jelas bisa tidaknya berlangsung dan berkelanjutan perusahaan BUMN mu itu adalah tergantung apakah tetap stabil tidaknya debit air DANAU TOBAnya....kan....??? Tapi kenapa kamu INALUM sepertinya tidak peduli atas perambahan, penghancuran hutan penyangga Kawasan Danau Tobanya ya...yang sudah hancur dan sangat gersang itu ya.....salah satu paling utama adalah diakibatkan, dirambah TPL.

Semua orang, publik tahu bahwa sangat jelas kirakira 15 tahun terakhir ini bahwa debit air Danau Toba terus mengalami penurunan yang sangat significant sebagai akibat perambahan hutan KDTnya. Salah satu akibatnya adalah sudah sangat terganggunya INALUM mu beroperasi karena debit air Danau Tobanya tidak cukup lagi menggerakkan turbinmu kan. Apakah karena banyak uangmu ya, makanya cuek saja atas perambahan hutan KDTnya ya dan menyangkut soal kekurang debit air DT nya tidak pusing Inalumnya ya karena bisa/mampu membayar untuk merekayasa cuaca hujan ya.....?????

Karena tertarik saya baca ulang, kalau yang pertama mudah dimengerti berita rekayasa cuaca untuk menambah debit air Danau Toba agar mampu menggerakkan mesin turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk melebur aluminium sebagai produk utama.

Tidak sulit pula bagi orang yang mengikuti kondisi Kawasan Danau Toba (KDT) termasuk alur pikiran pengirim WA tersebut, fakta membuktikan bahwa hutan sekitar KDT sudah ter-rambah baik oleh illegal logging terutama oleh PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) yang sekarang menjadi PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) mengakibatkan debit air Danau Toba berkurang sehingga kemampuan untuk menggerakkan turbin PLTA Asahan dan untuk itu perlu merekayasa cuaca menaikkan permukaan air danau, tentu dengan biaya tinggi apalagi setiap tahun. Mengapa tidak merehabilitasi hutan-hutan sekitar Danau Toba, kira-kira begitu maksudnya mungkin.

Soal hutan dan hak ulayat masyarakat sekitar Danau Toba sudah sejak Orde Baru jadi persoalan, sampai Menko Polkam Sudomo dan enam menteri turun ke KDT. Bulan Agustus lalu, Presiden Joko Widodo sendiri sudah mendengar Togu Simorangkir, perwakilan pencinta lingkungan yang jalan kaki dari pinggiran Danau Toba menyampaikan keluhan dan penderitaan masyarakat kepada Pemerintah.

Postingan pertama, benar berita, tentang permukaan air Danau Toba, naik 23 centimeter usai rekayasa Cuaca yang dilakukan selama 30 hari yang dimulai sejak 15 Oktober 2021 karena permukaan air di Danau dengan panjang kurang lebih 100 Km dan lebar 30 Km serta kedalaman 500M itu menurun 15 centimeter.

"Rekayasa cuaca dilakukan karena defisit air Danau Toba yang menyebabkan tinggi muka air Danau Toba menurun," ujar Koordinator Lapangan Perekayasa Pengelolaan TMC Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwipa Wirawan, Senin (6/12).

Secara teknis dijelaskan, bahwa rekayasa cuaca (Penyemaian Awan) di Daerah Tangkapan Air Danau Toba menggunakan bahan semai berbasis flare atau suar produksi PT. Pindad (persero) dengan sebutan Cloud Seeding Agent Tube 1000 (CoSAT 1000) telah berakhir.

Penyemaian awan yang dilakukan dengan bahan semai CoSAT 1000 menggunakan pesawat jenis Piper Cheyenne registrasi PK-TMC dengan teknik penyemaian pada dasar awan-awan potensial agar dapat segera menurunkan hujan, dimana bahan semai CoSAT 1000 ditempatkan pada kedua sayap pesawat PK-TMC. Kegiatan rekayasa cuaca berlangsung selama 35 hari kalender yang dimulai sejak tanggal 15 Oktober hingga 18 November 2021 dengan total penerbangan semai sebanyak 37 sorti penerbangan dan menggunakan 324 bahan semai CoSAT 1000.

Tinggi permukaan air Danau Toba katanya mengalami kenaikan lebih kurang 23 cm serta volume efektif inflow kumulatif sebesar 558, 021 juta meter kubik.

Penurunan permukaan Danau terjadi sejak akhir bulan September 2021 lalu mengalami penurunan sekitar 15 centimeter. Rekayasa cuaca tersebut, katanya, tidak lagi menggunakan bahan semai micro powder NaCl (garam), melainkan menggunakan bahan semai berbasis flare atau suar produksi PT Pindad (persero).

Perlu diketahui Tinggi Muka Air Danau Toba pada 26 Maret 2021 adalah 903,20 meter di atas permukaan laut (dpl), sementara level minimum 902,40 dpl agar tetap dapat beroperasi. menurut Direktur Eksekutif Opersi dan Produksi PT Inalum Reinaldy Harahap, kondisi 902,40 dpl itu sudah mengkhawatirkan.

Dengan mencermati uraian di atas, tidak keliru kalau dikatakan “Turbin PT Inalum Terancam” demikian juga “celetukan” “Wahai PT. INALUM....”. Sangat jelas bisa tidaknya kelangsungan BUMN PT Inalum tergantung kelestarian air danau, tapi kenapa Inalum dan Pemerintah sepertinya tidak peduli atas perambahan, penghancuran hutan penyangga Kawasan Danau Tobanya, salah satu paling utama adalah diakibatkan, dirambah TPL dari hutan alam menjadi hutan tanaman industri. Akibatnya, otomatis sudah sangat terganggunya PT Inalum beroperasi.

Debit air Danau Toba tidak cukup lagi mengerakkan turbin, mengapa tidak memikirkan pelestarian hutan? Apakah karena banyak uang PT Inalum, kalau debit air danau turun tinggal merekayasa cuaca saja terus-menerus? Kurang lebih demikian jalan pikiran pengirim “celetukan” tersebut.

“Cuek saja atas perambahan hutan KDT dan menyangkut soal kekurangan debit air DT tidak pusing Inalum ya karena bisa/mampu membayar untuk merekayasa cuaca hujan ya.....?????” siapa yang mampu menjawab, silahkan aja.

Sejak didirikan PT IIU era Orde Baru sampai PT TPL di era reformasi ini, sengketa dengan masyarakat hukum adat terus berlanjut karena konsesi yang diberikan Kehutanan (Pemerintah) berdasarkan pantauan satelit, ternyata di dalamnya banyak pemukiman dan hak ulayat masyarakat. Selain sengketa tanah dengan masyarakat, akibat perambahan hutan alam yang sudah ratusan tahun diganti dengan eukaliptus secara alamiah menimbulkan kekeringan hampir 100 sungai yang mengalir ke Danau Toba.

Jelas bahwa Turbin PT Inalum akan terancam dan penderitaan rakyat akan berkepanjangan, kalau pemerintah tidak berani mengambil langkah tegas. Rakyat menunggu. ***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini