Nasehat Akhir Tahun: Unang Ma Arga Rp. 2000,-

Oleh : Bachtiar Sitanggang
Administrator Administrator
Nasehat Akhir Tahun: Unang Ma Arga Rp. 2000,-
IST|Pelita Batak

MUNGKIN tidak hanya saya yang sakit mata membaca berbagai kiriman via WhatsApp setiap pagi, berbagai hal kita baca yang menyejukkan hati sampai yang memilukan, kebaikan dan kekejian, politik dan perseteruan bahkan pujian dan umpatan.

Pagi ini saya mendapat “Nasehat di Akhir Tahun” dari seorang teman yang sungguh menyentuh walaupun saya lebih tua dari dia, tetapi apa yang dia nasehatkan itu tidak mengingatkan saya dan mungkin juga saudara yang membaca tulisan ini.

Saudara saya ini memulai nasehatnya begini: “Hindari Copy Paste dalam Salam Natal dan Tahun Baru.” Memang belakangan ini hampir kata-katanya sudah salin dari “Tik Tok” termasuk gambar dan lagu-lagu Natalnya.

Menurut dia, “Hp di Indonesia ada minimal 320 juta buah, pada hal populasi baru (jumlah penduduk) 276 juta lebih.

“Di masa Natal, Lebaran, dan Tahun Baru, kita saling menyapa.” Tetapi, tambahnya, “ Sayang, seringkali cuma dengan forward (copy paste-lanjutkan) umpasa dan kata-kata orang”.

Kata dia, “Menurut pendapatku, tidak semua harus kita copy paste. Misal ucapan Selamat Tahun Baru ke Tulang. Yang konyol lagi, sebutan Tulang pun disingkat jadi "Lang". Entah bagaimana transformasi dari Tulang menjadi Lang.”

Dianjurkannya, “Sapalah saudara, jika bukan dengan telpon, minimal bukan dengan salam dari copy paste. Jangalah sok effiensi, dari salam ke Tulang menjadi "Lang"; ke Namboru menjadi "Bou". Bou itu bauk busuk. H2S ada”, ujarnya.

Mungkin dia mengalaminya sehingga dengan nada kesan dikemukakannya, “Jika memang saking sibuknya agenda kita, karena kita/anda CEO di 10 korporasi dunia, atau Raja Adat se Indonesia, sapalah dengan telpon atau WhatsApp asli, bukan dengan forward.”

“Katakan Horas ma Tulang (bukan Lang). Sungkun ma kabar (tanya kabar), dan sebagainya. Ingat: Pasu pasu ni (berkat dari) Tulang, gabe ngolu na denggan do (menjadi hidup yang baik). Mulai lahir sampe mate (sampai wafat) hita, Tulang do menyambut dan memberangkatkan ke pemakaman”, ujarnya mengingatkan agar somba marhula-hula seperti ikatan Dalihan Na Tolu.

Sarannya ini sederhana tetapi sungguh besar maknanya, “Molo boi tongoshon ma pinomat Rp 200.000. (Kalau bisa kirimkan paling sedikit Rp. 200.000,--) Atau kirim quota Rp 100.000. Ai sahali mangan hita tu lapo atau restoran doi” (hanya sekali makan itu di warung atau di restoran).

Yang paling menyentuh mungkin banyak kita adalah yang satu ini, “Untuk durung durung akhir tahun pe unang ma arga Rp 2.000 atau Rp.5.000.-- (untuk persembahan akhir tahun di gereja-kebaktian pun jangan Rp. 2.000,--atau Rp. 5.000,--).

“1 batang rokok Rp 2500,-- Hape hosanta on/nafas kita ini dari Tuhan. Molo tormate hita, sae doportibion tung pe adong mercedes ta, so boi naek mercedes, ferari, atau Fortuner tu Udean/ Pemakaman. ”(satu batang rokok Rp. 2.500,-- (Padahal nyawa kita/nafas kita ini dari Tuhan. Kalau kita meninggal, selesai dunia ini walaupun kita punya mercedes, tidak bisa naik mercy, ferrary atau fortuner ke pemakaman).

Mungkin kalau ditanggapi dengan guyon, nasehat temanku yang satu ini, memang lelucon banget, walau tidak seperti guyon para motivator atau komedian, tetapi di akhir tahun ini perlu digunakan sebagai alat untuk koreksi diri, perangai dan perilaku bagaimana terhadap sesama dan juga terhadap “pemberi kehidupan” itu.

Tuhan yang memberi apa yang kita miliki, nikmati saat ini hendaklah kita memberikan persembahan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Persembahan adalah ungkapan syukur atas berkat yang telah kita terima sebagai bukti ketaatan kita kepada Tuhan Maha Pencipta.

Bagi mereka yang memiliki kelebihan dari sesamanya, teman saya ini juga tidak lupa mangingatkan: “Segala kegantengan (molo adong) dan hamoraon dan hamaloon (misal titel berderet), sae do”. (Segala kegantengan (kalau ada) dan kekayaan serta kepintaran (misal titel berderet) akan selesai itu semua).

Teman saya ini sering “menggurui” tetapi apa yang dikemukakan sungguh menyentuh hati, terlepas bisa atau tidak apa yang dkemukakan itu untuk diterapkan dalam hidup.

“Holan sada do titel ta terakhir: SH (Sarjana Hangoluon). Isinya apa? Terserah kita semua. (Hanya satu titel kita terakhir: SH (Sarjana Hangoluan �" Sarjana Kehidupan).” Apa pengertian sarjana kehidupan itu dia tidak jelaskan apa maksud dan tujuannya, namun dia serahkan kepada siapa yang membacanya.

Walaupun nasehat akhir tahun ini dikirim kepada saya, dan saya tidak tahu apa dikirim juga kepada rekannya yang lain.

Apakah kita mampu mengoreksi diri agar lebih baik di tahun yang baru 2022, dan apakah kita berani menyatakan di hadapan Tuhan : “Beha do au na sai laon, ture do pangalahongki? �" (Bagaimana saya selama ini, baikkah perlakuanku?”). Selamat Tahun Baru, salam kasih dan damai buat kita semua.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini