Gubernur: Covid-19 Peringatan Tuhan

Administrator Administrator
Gubernur: Covid-19 Peringatan Tuhan
IST|Pelita Batak
Ilustrasi

PERINGATAN Gubernur Sumatera Utara Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi dalam Pesan Natalnya di gereja GPIB Immanuel Medan “Kondisi Wilayah Kita sedang Tidak Baik karena Omicron...” perlu dicamkan semua pihak guna memutus pandemi Covid-19.

Gubernur yang hadir pada perayaan Natal PGI Wilayah Sumut di Medan 23 Desember lau (Kompas.com - 24/12/2021), selain menguraikan kondisi Sumut yang sedang tidak baik karena varian baru Covid-19 yaitu Omicron, juga mengatakan dirinya percaya bahwa ada rahasia Tuhan di balik semua musibah.

Dia juga mengingatkan “Pandemi Covid-19 menurutnya peringatan Tuhan. Dipandang dari sudut Agama Islam, Edy bilang, banyak umat yang kurang bersyukur terhadap nikmat Allah. Mengabaikan perintah ibadah, menyakiti hati orang lain menjadi biasa, norma-norma dan etika kemanusiaan mulai diabaikan.”

Ditambahkannya, "Saya sudah tiga kali mengadakan doa bersama, ini pun diabaikan. Saya hanya minta tiga menit, hanya beberapa tokoh agama yang datang ke tempat saya, itu yang berdoa... Kebaktian nanti, Bapak Pendeta, pimpin doa mohon ampunan dosa kita semua, baru meminta kepada Tuhan."

Purnawirawan Jenderal bintang tiga itu menunjukkan kualitas ke-nasionalisme-nya menghadiri perayaan Natal dan mengingatkan semua umat untuk “bertobat”, supaya bersyukur kepada Allah, mengikuti perintah ibadah, dan jangan menganggap biasa menyakiti hati sesama apalagi mencelakai, supaya taat dan menghormati etika dan moral kemanusiaan.

Sebagai seorang Kepala Daerah dia bertanggungjawab untuk keselamatan dan kesejahteraan warganya, makanya dia mengingatkan semua warga masyarakat termasuk umat Kristiani untuk berpartisipasi aktif mendukung sepenuhnya program Pemda, walaupun harus kritis konstruktif untuk kebaikan bersama, warga gereja tidak menjadi penonton dan “berteriak” kalau ada yang salah.

Para rohaniawan dan lembaga keagamaan sudah sewajarnya terus menerus mengingatkan warganya agar taat perintah Allah, tidak melanggar hukum. Termasuk para politisi agar berada di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya saat kampye, setelah duduk di kursi lupa sumpah dan janji.

Masalah korupsi, narkoba dan intolerasi tidak hanya tanggungjawab Pemerintah membrantasnya, rohanyawan dan lembaga keumatan yang pertama bertanggungjawab secara moral mempersiapkan dan membekali warganya agar tidak melanggar hukum.

Mudah-mudahan dengan Gubernur Edy Rahmayadi, Kapolda Sumut Irjen Pol Drs. RZ Panca Putra Simanjuntak Msi dan Walikota Medan Bobby Afif Nasution SE dapat merubah keesan negatif dengan istilah “Ini Medan Bung” dan “Sumut” (Semua urusan mesti uang tunai).

Masyarakat Sumut yang cinta damai harus aktif mendukung Pemerintah memberantas penyakit masyarakat. Kita tidak tahu, apakah dalam “peringatannya” mantan Pangkostrad itu terkandung “niat” menegor pemuka agama atas keadaan yang terjadi di Sumut.

Dalam jangka pendek masalah pemutusan penyebaran Covid-19 merupakan prioritas utama, namun penyakit masyarakat yang lain juga perlu dibrantas. Penyakit masyarakat di Medan dan Sumut umumnya termasuk perilaku aparat penegak hukum masih memprihatinkan, termasuk korupsi dan narkoba, para rohaniawan tidak bisa lepas tangan.

Dalam paparannya, Edy mengaku, seharusnya ia tidak menghadiri perayaan Natal PGIW Sumut, akan tetapi ia datang ke gereja yang berada tepat di seberang kantornya di Jalan Dipenegoro Medan. "Saya sudah komitmen tidak menghadiri semua undangan karena tidak diizinkan, tapi kali ini mau datang karena ada tokoh-tokoh agama yang hadir. Saya ingin sampaikan, kondisi wilayah kita sedang tidak baik karena virus, terkhusus pada varian Omicron yang 70 kali lebih cepat dari varian Delta,” katanya.

Dia mengatakan, Covid-19 varian Delta pada Maret sampai Agustus menginfeksi seribu-an orang. Puncaknya di Agustus 2021, sampai 2.047 orang masuk rumah sakit, sementara kapasitas rumah sakit di seluruh Sumut cuma 1.500 orang. Pemerintah Provinsi Sumut sampai membuka Asrama Haji untuk merawat pasien, membuka kembali rumah sakit yang sudah ditutup, hotel pun dijadikan rumah sakit untuk menampung 500-700-an pasien yang tak mampu ditampung rumah sakit rujukan.

"Setiap pagi, saya selalu berdoa agar Tuhan melindungi dan menjaga rakyat Sumatera Utara. Jadi siapapun yang ada di Sumatera Utara ini, amanah dan tanggung jawab saya, dunia dan akhirat. Saya tidak peduli, saat itu, dia tak memilih saya..." ucapnya.

Sudah dua tahun lebih, lanjut mantan Pangdam II Bukit Barisan ini, hari-hari besar agama dilalui dengan pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat.

"Sampaikan maaf kepada saudara-saudara saya yang mengadakan dan mengundang saya ke perayaan Natal-nya, ini mewakili.Berdoa sederhana saja di gereja masing-masing, di rumah masing-masing seperti saat Ramadhan dan Shalat Id. Selamat menjalankan ibadah, selamat Natal, semoga Tuhan selalu memberkati...," kata Edy tegas.

Kehadiran Gubernur tersebut sangat berkesan walau cuma sebentar, di tengah polemik tentang ucapan “selamat Natal” antar sesama warga negara. Kita juga mengucapkan Selamat Natal kepada Pak Gubernur dan Selamat Tahun Baru, “peringatanmu” semoga dipahami dan diwujudkan masyarakat Sumut.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

Komentar
Berita Terkini