"Saya berharap argumen-argumen dalam Debat Politik Identitas ini bisa menyumbangkan pemikiran-pemikiran kepada mahasiswa, kampus serta masyarakat," kata Jovi A. Bachtiar, Rabu 31Januari 2018 di Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta.
Menurutnya , persiapan tim UGM menghadapi Debat Politik Identitas tergolong singkat. Persiapan sekitar seminggu untuk mengikuti debat politik.
Liber Simbolon, anggota dewan juri dalam Debat Politik dengan tema "Politik Identitas dalam Kebhinekaan" mengatakan menikmati perdebatan sepanjang final. "Sungguh ini membangun khasanah. Debat atau diskusi bukanlah perseteruan bahkan pertengkaran namun menunjukkan kedalam edukasi," ujar Liber Simbolon.
Meski demikian, Liber Simbolon memberikan catatan terhadap peserta khususnya peserta Debat Politik tidak konsisten dalam penyebutan UUD tahun 1945 dan bingkai politik identitas maupun identitas politik itu sendiri.
"Komunikasi antar debat terdiri atas tiga komponen, yaitu: apa yang kita bisa melihat 40 %, apa yang kita bisa dengar (logat, intonasi dan lain-lain) 40 % dan akhirnya apa yang secara harfiah dikatakan, hanya 20 % dan menjadi penilaian dewan juri," ujar Liber Simbolon.
Setelah melewati tiga babak, yaitu argumen pembuka, bidasan (saling berdebat), dan pernyataan kesimpulan menunjukkan kontinuitas keindonesiaan.
Politik identitas, kata liber Simbolon bagaimana mengembangkan dunia politik dalam ke bhinekaan, semisal, mengapa 100 persen Indonesia 100 persen Bhineka Tunggal Ika (antara lain suku Aceh, Ambon, Batak, Dayak, Jawa, Melayu, Maluku, Sunda, Papua, dan suku-suku lainnya).
Liber Simbolon menjelaskan bentuk menjadi Indonesia harus 100 % jawa, batak, sunda, dayak, ambon dan lainnya, maka dengan menghayati 100 % budayanya kita akan 100 % Indonesia, sebab indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan bahasa. Tidak ada yang bisa menghayati yang besar bila terlebih dahulu tidak mencintai dirinya sendiri dan asal usulnya.
"100 persen Indonesia 100 persen bhineka tunggal ika. Kita hidup sebagai orang/suku kita sendiri di Indonesia dan bukan sebaliknya," ujar Liber Simbolon.
Rangkaian acara, kata panitia Fransiskus Gian, Tue Mali, MSi mengatakan lomba debat politik tingkat nasional mengangkat tema "Politik identitas dalam kebhinekaan" yang berlangsung tanggal 29 - 31 Januari 2018 di Universitas Kristen Indonesia Jakarta, Perlombaan teridiri dari 28 tim dari berbagai kampus se Indonesia ini dan tiap kelompok 3 orang yang dibuka pada tanggal 29 Januari sampai dengan tanggal 31 Januari 2018. Sementara juara ketiga dimenangkan oleh Tim President University dengan mengalahkan Universitas Widyitama Bandung.(rel)