Rantauprapat (Pelita Batak) :
Bocah 9 tahun di Labuhanbatu, Rahmad Putra Habibi, menderita dan menyedihkan, akibat infeksi darah yang menggerogoti tubuhnya. Akibat sakitnya, jemarinya perlahan mulai putus satu persatu. Paha kaki hingga tubuhnya menghitam mengeluarkan bau amis. Gejala lumpuh juga mulai mengintainya. Hanya bisa menjerit kesakitan kala penyakit itu merenggut tubuhnya. Sudah dua tahun ia menderita penyakit mengenaskan ini.
Orangtuanya tidak bisa berbuat banyak, kondisi perekonomian. Hanya bisa mendengarkan jeritan buah hatinya itu. "Mak, sakiiittt! Ini jarinya mau putus lagi. Mak, sakit kali," keluh Rahmad merintih kesakitan dari tempat tidurnya, saat disambangi wartawan di rumah tinggalnya bersama ibunya.
Bocah yang membutuhkan uluran tangan dermawan dan pemerintah itu diasuh ibunya, Leli Marlina (56). Mereka hidup menumpang di rumah keluarga, di Dusun Janji Pekan Desa Janji Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Bocah ini sudah ditinggalkan ayahnya sejak berumur 1 bulan. Rahmad dan ibunya hidup serba seadanya. Penghasilan ibunya hanya mengharapkan upah dari bekerja menyuci pakaian orang lain.
Rahmad sejak setahun belakangan ini telah divonis dokter mengidap penyakit infeksi darah. Ia saat ini hampir tidak bisa lagi berjalan. Ia sangat susah melangkahkan kedua kakinya. Hari-harinya kebanyakan berada dalam gendongan sang ibu dan di tempat tidur.
"Beginilah kami setiap harinya, sudah setahun ini. Kalau saya nyuci terpaksa saya letakkan dulu dia. Saya nggak tahan mendengar dia merintih kesakitan. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, saya hanya bisa berdo'a kepada Tuhan, dan mengharapkan ada orang yang berkenan menyisihkan rezekinya membantu pengobatan anak saya," ungkap Leli Marlina dengan mata berkaca-kaca di rumah tinggal mereka Dusun Janji Pekan.
Leli juga mengeluhkan bengkak hitam yang selalu muncul di paha anaknya, terkadang menimbulkan aroma tidak sedap.
"Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya berdoa. Air mata ini sudah menetes dengan sendirinya karena kasihan melihat poenderiataan anak saya Rahmad," ujar Leli memeluk erat anaknya.
Setiap saat Rahmad mengerang kesakitan. Tida ada obat yang bisa menghilangkan rasa sakitnya. Sang ibu hanya mampu mengelus-elus kepala dan punggung belakang anaknya memberikan isyarat agar bersabar.
Ketika disinggung upaya pengobatan yang sudah dilakukan keluarga untuk Rahmad, Leli Marlina mengatakan bahwa mereka telah mengikuti program JKN, yaitu BPJS. Namun belakangan tidak bisa dipergunakan lagi karena tidak membayar premi setiap bulanannya.
"Saya hanya bekerja mengumpulkan lidi untuk dibikin sapu. Kadang-kadang jadi kuli cuci pakaian di rumah tetangga, apalah daya saya, Pernah pakai BPJS, tapi sudah tidak bisa digunakan lagi karena tidak mampu lagi membayar bulanannya," ungkapnya.
Leli menyebut Rahmad pernah dirujuk ke rumah sakit di Medan pada bulan Mei yang lalu, namun hanya bertahan 25 hari. Rahmad kembali dibawa pulang karena kehabisan biaya.
Kendati sudah sulitpun, janda beranak dua ini terkena aksi tipu calo yang mengatasnamakan pihak BPJS.
"Saat di sana (Medan), ada orang datang katanya orang BPJS, dia minta 200 ribu untuk biaya urus BPJS, kemudian diminta lagi 600 ribu buat bayar sewa ambulance. Namanya saya orang bodoh, saya kasih, dan akhirnya kami bisa pulang ke rumah. Sampai saat ini kami belum punya uang buat berobat. Buat makan saja sudah susah," keluh Leli.
Leli mengakui dibantu tetangga untuk biaya hidup sehari-hari, apalagi kalau tidak bekerja nyuci atau mencari lidi.
"Alhamdulillah, dibantu tetangga. Kalaulah ada tempat saya mengemis yang bisa menghasilkan uang, saya akan mengemis pulang mencari lidi. Saya nggak tahan lihat anak saya menahan sakitnya," sebut Leli.
Sulitnya kehidupan Leli dan derita yang dialami puteranya, ia berharap ada masyarakat yang mau membantu menyisihkan sedikit rezeki untuk biaya pengobatan anaknya.
"Cuma itu harapan saya. Saya akan terus berdoa, mudah-mudahan ada orang (dermawan) yang memberikan bantuan untuk berobat anak saya," harapnya. (TAp/SIB)