Medan (Pelita Batak) :
Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) HT Erry Nuradi berharap agar perawat di Sumut mumpuni (melaksanakan tugas dengan baik, menguasai keahlian, kecakapan serta ketrampilan) sebagai pengemban tugas yang mulia yakni dalam hal memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada masyarakat.
Perawat juga diharap meningkatkan standarisasi dalam hal pelayanan kesehatan. Apalagi saat ini tantangan bagi perawat semakin berat seiring dengan dibukanya keran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Termasuk juga dengan etika perawat menurut Erry patut menjadi perhatian.
"Perlu kita ketahui bahwa saat ini perawat dari Philipina sedang belajar bahasa Indonesia. Itu artinya mereka bersiap untuk masuk ke Indonesia. Kalau hal ini tidak dibentengi dengan sumber daya perawat kita baik tentu ini akan menjadi ancaman bagi perawat yang tidak memiliki kompetensi,” sebut Gubsu Erry dalam sambutannya pada pelantikan Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Sumut Periode 2016-2021 sekaligus Seminar Keperawatan Standar Bahasa Keperawatan NANDA, NOC dan NIC di Aula Martabe Lantai 2 Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan, Kamis (1/12/2016).
Hadir Ketua DPP PPNI Harif Fadhillah, Staf Ahli Gubsu Aspan Sofyan Batubara, Plt Kadis Kesahatan Sumut Agustama, Ketua PPNI Sumut Mahsur Al Hazkiyani, direktur dan pimpinan rumah sakit negeri maupun swasta di Sumut serta undangan.
Dalam kesempatan itu, Gubsu Erry juga mengatakan, dengan diberlakukannya MEA maka akan banyak perawat-perawat yang ada di Asean yang akan bekerja di rumah sakit-rumah sakit yang ada di Sumatera Utara. Untuk itu perlu peningkatan standarisasi bagi perawat-perawat guna menciptakan sumber daya manusia (SDM) perawat yang mampu bersaing dengan perawat-perawat dari negara Asean.
“Jangan sampai perawat Indonesia, khususnya perawat Sumut menjadi penonton di negeri sendiri,”ujar Erry seraya mengharapkan agar perawat di Sumut diakui bekerja di rumah sakit rumah sakit di luar negeri paling tidak di kawasan Asean.
Sebelumnya Ketua DPP PPNI Harif Fadhillah menyampaikan saat ini pihaknya terus berbenah lewat program kerja menyelesaikan sejumlah persoalan dan tantangan yang dimiliki perawat di Indonesia seperti halnya soal kesejahteraan. Pasalnya hingga saat ini masih banyak perawat di daerah yang digaji dibawah UMP maupun UMK. Dalam kesempatan itu Arif Fadhillah juga mengingatkan agar perawat meperhatikan etika dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat atau pasien. Pasalnya menurut Arif Fadhillah belakangan ini pihaknya banyak mendapat keluhan terkait banyaknya perawat yang kurang beretika.
"Banyak keluhan sampai kepada kita belakangan ini. Makanya kami sedang merancang metode pembelajaran, dan bahkan kurikulum untuk pendidikan soal etika. Pelatihan-pelatihan perawat nantinya harus masuk pelajaran soal etika. Perawat itu profesi yang mulia. Jadi jangan pernah perawat merendahkan kemuliaannya. Pesan saya kepada perawat mari kita layani masyarakat, pasien kita ini dengan memanusiakan manusia. Jangan sampai sekecil apun terlintas untuk tidak memanusiakan pasien kita,"ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua DPW PPNI Mahsur Al Hazkiyani. Dia mengatakan etika perawat akan menjadi perhatian pihaknya kedepan. Soal etika ini harus masuk kedalam kurikulum. Mahsur pun tidak membantah kalau belakangan ini perawat-perawat yang baru mulai berkurang etikanya. "Kita tidak tau apakah salah di kurikulum atau metode pendidikannya. Itulah tugas kita bagaimana mendorong kurikulum menjadi lebih baik lagi. Dan menambah jam kurikulumnya,"pungkasnya.(TAp)