Medan (Pelita Batak):
Koalisi Masyarakat Mandailing Peduli Identitas (KMMPI) yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Mandailing menggugat Kemendikbud. Tidak dicantumkannya nama sejumlah tokoh di Kamus Sejarah Jilid I dan II yang baru saja diterbitkan Kemendikbud.
Sebagaimana dalam siaran pers yang diterima PelitaBatak.com, Selasa (27/4/2021) disebutkan bahwa KMMPI menyatakan mengapresiasi usaha dan ikhtiar Kemendikbud dalam membentangkan sejarah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dalam bentuk Kamus Sejarah. "Namun apabila bentangan sejarah tersebut diduga hendak menghilangkan jejak tokoh bangsa yang mempunyai
kontribusi besar dalam kelangsungan Republik, maka Kamus Sejarah tersebut adalah narasi sesat dan menyesatkan bagi memori masa kini dan masa depan," katanya melalui juru bicara KMMPI Ir. Syahrir Nasution, SE.,MM (Deklarator KMMPI), Drs. Imsar Muda Nasution, M.Si (Sejahrawan Mandailing), dan Ali Sati Nasution (Deklarator KMMPI).
Dikatakan, bahwa masyarakat Mandailing asal Sumatera Utara memiliki tokoh-tokoh penting yang juga telah berperan penting dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, dan beberapa namanya belum disebutkan secara proporsional di dalam Kamus Sejarah tersebut, seperti:
a) SM Amin Nasution, seorang tokoh Sumpah Pemuda 1928, pernah menjadi Gubernur Sumatera Utara dan Riau, dan sekarang sudah diangkat jadi Pahlawan Nasional.
b) Kolonel Zulkifli Lubis yang dikenal sebagai Bapak Intelijen karena dianggap sebagai peletak dasar berdirinya Badan Intelijen di Indonesia. Zulkifli Lubis, yang berusia 18 tahun, masuk ke pelatihan paramiliter Jepang Seinen Dojo di Yogyakarta selama enam bulan pada pertengahan kedua 1942--tanpa sepengetahuan orang tuanya. Pada 1943, ia terpilih menjadi salah satu taruna gemblengan Jepang di PETA (Pembela Tanah Air) karena potensi kepintaran dibanding fisiknya. Selama di PETA, ia menjadi angkatan pertama yang lulus dari sekolah intelijen Jepang di Tangerang. Setelah itu, ia dikirim ke pusat intelijen Jepang di Asia Tenggara yang terletak di Singapura pada pertengahan 1944. Pada 7 Mei 1946, para perwira intelijen itu diberikan kartu pengenal dan resmi menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI). Lubis menjadi kepalanya dan langsung bertanggung jawab di bawah kendali Sukarno.
c) Jenderal Besar Doktor Haji Abdul Haris Nasution, tokoh pengaman Pancasila, penyelamat bangsa dari berbagai macam pemberontakan pada masa awal bangsa ini didirikan. Tokoh penting dalam peristiwa Bandung Lautan Api ketika sekutu masuk ke Indonesia, serta tokoh penting dalam peletak dasar perang
gerilya. Jenderal Nasution merupakan KASAD yg terlama di Indonesia. Beliau pendiri Divisi Siliwangi, Panglima Pulau Jawa dan salah satu pencipta perang gerilya kaliber dunia. Beliau berperan untuk memberantas pemberontakan PKI di Madiun, RMS, DI/TII di berbagai daerah, PRRI/Permesta dan G30S. Sebagai Ketua MPRS beliau pernah melantik Presiden Suharto dan mempunyai peran dalam melarang ideologi Komunis di Indonesia. Itulah sebabnya kenapa rumah pribadinya dijadikan museum.
Bahkan dikatakan, jika kriteria pemilihan tokoh sejarah dalam buku Kamus Sejarah Indonesia adalah mereka yang berperan historis dalam pembentukan negara (jilid 1) dan pembangunan negara (jilid 2), sesungguhnya masih banyak tokoh asal Mandailing yang layak dimasukkan ke dalam buku tersebut.
"Kami dari KMMPI menyayangkan tidak dimasukkannya nama-nama tersebut di dalan kamus sejarah yang diterbitkan Kemendikbud, dan karena itu dengan segala kerendahan hati kami menyampaikan agar Kemendikbud untuk meminta maaf, menarik segera buku tersebut dari peredaran dan merevisi buku tersebut sesuai porsi yang seadil-adilnya bagi para pejuang dan tokoh bangsa," katanya.(*)