Program budaya baca, menurutnya, juga sangat penting sebagai salah satu strategi pertahanan masyarakat dalam skala desa. "Bahaya yang tak disadari sekarang itu datang dari gadget dan narkoba. Di daerah-daerah yang produktif dan berpotensi untuk tumbuh ekonominya, seperti di desa-desa di Sidrap ini seringkali potensi ancaman muncul dari kedua entitas tersebut. Gagdet membuat anak-anak terlena, sibuk dengan game dan membuat potensinya tak berkembang. Narkoba membuat orang-orang yang sudah kayapun bisa jatuh miskin. Hal ini membuat suatu daerah yang awalnya berpotensi maju, bisa jatuh kembali karena ketidaksiapan sumber daya manusianya. Ini mengingatkan kita akan perang candu yang pernah terjadi di China, mengalahkan suatu bangsa dengan mengenalkan narkoba. Ini harus kita waspadai," ujarnya.
Program budaya baca, menurutnya, secara tidak langsung mengantisipasi hal tersebut. Anak-anak bisa memanfaatkan waktu lebih positif, bertambah ketrampilan dan keilmuan dan sehingga bisa lebih bertahan dari serangan neo kolonialisme saat ini. Masyarakat juga bisa memajukan diri sesuai dengan bacaan yang sesuai kebutuhannya. "Ibu-ibu biasa meminjam buku menjahit, masak, dan buku ketrampilan lainnya," ujarnya.
Menurut Asmawati, Koordinator USAID PRIORITAS di Sidrap yang telah banyak mengasistensi gerakan budaya baca Sidrap, gerakan budaya baca di Sidrap sangat terbantu dengan terjunnya Kodim Sidrap. "Selama ini gerakan budaya baca lebih banyak terkonsentrasi di sekolah. Kodim telah mengisi kekosongan gerakan di luar sekolah," ujarnya.
Dia berharap bahwa gerakan Kodim di Sidrap ini bisa menginspirasi semua Kodim di seluruh kabupaten lain. "Tetap selaras dengan tupoksinya, mereka bisa menjadi ujung tombak yang sangat strategis dalam menggerakkan budaya baca di Indonesia,’ ujarnya.(R2)
Jasa SEO SMM Panel Buy Instagram Verification Instagram Verified